Serangan Joker Guncang Jepang, Negara yang Jarang Ada Kriminalitas

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 16 November 2021 | 16:31 WIB
Serangan Joker Guncang Jepang, Negara yang Jarang Ada Kriminalitas
BBC

Suara.com - Akhir Oktober lalu sebuah serangan pria berpisau di dalam kereta bawah tanah di Tokyo, yang menyebabkan 17 orang terluka, telah mengguncang Jepang.

Banyak perhatian pada serangan ini berfokus kepada tersangka, yang tampak menggunakan kostum Joker, tetapi apakah serangan itu mengungkapkan lebih banyak hal mengenai masyarakat Jepang secara keseluruhan?

Jepang merupakan negara yang sangat aman.

Saya tahu, ini sedikit klise.

Tapi hal itu hanya bisa dirasakan ketika Anda tinggal di sini, dan menyadari bagaimana perbedaan Tokyo dari setiap kota-kota besar di dunia.

Kejahatan kecil yang umumnya terjadi di London atau New York, tidak ada di sini.

Kejahatan kekerasan adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Anda, setidaknya sebagai seorang laki-laki.

Baca juga:

Ketika sebuah serangan kekerasan yang terjadi baru-baru ini di sebuah kereta yang disesaki penumpang, telah memicu alarm peringatan.

Serangan yang disebut "Joker" di malam Halloween telah membuat banyak penumpang bertanya-tanya: apakah aman bagi mereka untuk menggunakan jaringan kereta dan pihak berwenang berusaha keras untuk meyakinkan warga Tokyo bahwa segalanya sudah dilakukan untuk membuat mereka aman.

Ini juga telah memicu spekulasi di media-media mengenai tersangka, dan apakah mungkin ada yang lain "di luar sana" sama seperti lelaki itu?

Banyak yang dibuat dari stelan [kereta] dan kostum "Joker" yang digunakan oleh tersangka berusia 24 tahun.

'Bukan serangan psikopat'

Jika Anda pernah melihat film aslinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah adegan kejahatan yang ditiru, meniru adegan di dalam kereta bawah tanah di New York.

Memang, tersangka dilaporkan telah mengatakan kepada penyidik, bahwa dia "menyembah karakter Joker" dan ingin "membunuh orang sebanyak mungkin".

Tapi kalangan psikolog kriminalitas mengatakan bahwa tujuan sebenarnya dari kostum dan waktunya bukanlah untuk meniru, tapi menarik perhatian atas kemarahan yang dia lakukan.

"Menurut saya, dia ingin tampil beda," kata Profesor Yasuyuki Deguchi, psikolog kriminal di Universitas Tokyo Mirai.

"Dia adalah pencari perhatian yang terdistorsi. Dengan berdandan ala Joker pada malam Halloween, dia pikir dia akan lebih menonjol. Dengan bertingkah seperti Joker dan mengatakan dia mirip dengan figur tersebut, dia bisa mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang. Saya kira dia tidak memutuskan untuk meniru Joker, karena dia pernah menonton filmnya."

Saya sudah bicara dengan sejumlah psikolog kriminal sejak serangan terjadi, dan mereka semua mengatakan hal yang sama: ini bukanlah kejahatan seorang psikopat.

Padahal, serangan massal jarang dilakukan oleh penderita gangguan mental yang teridentifikasi.

Meskipun, mereka cocok dengan pola yang berbeda. Hal itu banyak dilakukan oleh laki-laki yang merasa ditolak oleh masyarakat.

"Isolasi sosial atau lemahnya ikatan sosial adalah satu dari faktor berisiko terbesar untuk tindak pidana, seperti pembunuhan massal dan kejahatan sangat serius lainnya," kata Profesor Takayuki Harada, seorang psikolog kriminal dari Universitas Tsukuba.

"Sehingga, mereka tak punya kerabat, tak punya orang yang dicintai, tak punya kerjaan, dan tak punya ikatan sosial. Mereka kecewa dengan masyarakat dan sangat dimusuhi masyarakat. Mereka juga punya kecenderungan bunuh diri," katanya.

'Mereka ingin menyalahkan orang lain'

Kita belum tahu banyak mengenai pria yang disangkakan melakukan serangan seperti "Joker"di Jepang.

Tapi para ahli yang saya ajak bicara mengaitkan hal ini pada peristiwa di Tokyo pada 2008 - ketika pria muda mengendarai sebuah truk ke kerumunan pembeli di distrik elektronik Akihabara yang populer, kemudan mulai menikam orang-orang di sekitarnya.

Pria yang melakukan serangan 2008 itu berasal dari keluarga papan atas yang hidup dengan tekanan tinggi. Tapi dia gagal dalam ujiam masuk universitas, dan akhirnya bekerja pada pekerjaan kasar.

Sebelum melakukan serangan, dia sempat berusaha bunuh diri dan mengunggah pesan di internet yang intinya merupakan rencananya untuk membunuh orang lain.

"Ini seperti terorisme, tapi ini bukanlah terorisme," kata seorang kriminolog lainnya yang enggan disebutkan namanya.

"[Serangan] Akihabara merupakan pembunuhan massal," katanya. "Tindakan ini berasal dari orang biasa atau orang lemah, seseorang yang pernah jadi korban perundungan. Mereka cenderung menumpuk stres.

"Mereka punya hasrat untuk bunuh diri, sehingga mereka pikir 'jika saya bunuh diri, saya mungkin bisa membawa yang lainnya bersama saya'. Mereka terutama ingin menyalahkan orang lain, atas situasi yang mereka hadapi."

Kejahatan itu punya kemiripan pada serangan massal di Amerika Serikat, tapi dengan perbedaan utama.

Pertama-tama, Jepang punya aturan ketat soal senjata.

Kedua, mempertontonkan tindakan kasar atau agresi merupakan hal tabu bagi masyarakat di sini, yang mungkin jadi satu alasan kejahatan seperti ini sangat jarang terjadi.

"Agresi yang terkadang ditunjukan ke dalam - [yang biasanya muncul sebagai] bunuh diri," kata Profesor Harada dari Universitas Tsukuba.

"Jika Anda mengubahnya keluar, ini akan menjadi pembunuhan atau tindakan kasar lainnya. Ini seperti dua sisi koin. Jepang sangat terkenal dengan tingkat bunuh diri yang tinggi.

"Tapi agresi dan jenis tindak kejahatan lainnya sangat rendah. Sehingga orang Jepang sepertinya mengarahkan agresi ke dalam. Itulah salah satu alasan tindakan agresi sangat rendah di negara ini."

Bagaimana pun, terdapat persepsi bahwa serangan seperti ini akan terjadi lebih sering di Jepang.

Sejauh ini sudah terdapat tiga insiden di jaringan kereta Tokyo sejak Agustus.

Para psikolog mengatakan, pandemi kemungkinan telah mendorong kesulitan ekonomi dan isolasi sosial, keduanya kemungkinan jadi pemicu. Mereka juga prihatin mengenai besarnya perhatian media tentang serangan joker.

"Saat insiden serupa terjadi [di masa lalu] kami melihat peniruan pasti muncul," kata Profesor Harada.

"Jadi, saya kira, ini merupakan persoalan bahwa media memberikan rincian, informasi, bagaimana kejahatan itu dilakukan. Jadi, saya pikir ini merupakan masalah besar."

Memang, kita sudah melihat satu upaya serangan tiruan, dan kepolisian mungkin telah melakukan pencegahan pada yang lainnya.

Tapi terlepas dari kekhawatiran yang dapat dipahami, para ahli yang saya ajak bicara mengatakan kita harus melihat jumlahnya dan mereka menunjukkan bahwa selama 50 tahun terakhir, kekerasan yang dilakukan laki-laki telah menurun secara drastis, dan bahwa Tokyo tetap menjadi salah satu tempat teraman di dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Malam Ini di Trans TV: Siap Hadapi Dilema Moral Batman vs Kekacauan Ala Joker?

Malam Ini di Trans TV: Siap Hadapi Dilema Moral Batman vs Kekacauan Ala Joker?

Entertainment | Rabu, 10 Desember 2025 | 19:15 WIB

Lady Gaga Ungkit Kembali Reaksi Negatif Penonton terhadap Film Joker 2

Lady Gaga Ungkit Kembali Reaksi Negatif Penonton terhadap Film Joker 2

Your Say | Minggu, 16 November 2025 | 12:03 WIB

Salfok! Cosplay Joker Jadi Sorotan di Laga SMAN 16 Bekasi vs SMAN 8 Bekasi

Salfok! Cosplay Joker Jadi Sorotan di Laga SMAN 16 Bekasi vs SMAN 8 Bekasi

Your Say | Selasa, 07 Oktober 2025 | 15:39 WIB

Review Film Joker: Folie a Deux, Film yang Manipulatif dan Tidak Konsisten?

Review Film Joker: Folie a Deux, Film yang Manipulatif dan Tidak Konsisten?

Your Say | Minggu, 04 Mei 2025 | 15:17 WIB

Film Joker 2 Dibanjiri Kritikan Pedas, Lady Gaga Justru Tak Ambil Pusing

Film Joker 2 Dibanjiri Kritikan Pedas, Lady Gaga Justru Tak Ambil Pusing

Your Say | Rabu, 29 Januari 2025 | 09:02 WIB

Cuma Sebulan Bertahan di Biokop, Ini Link Halal Nonton Film Joker 2

Cuma Sebulan Bertahan di Biokop, Ini Link Halal Nonton Film Joker 2

Entertainment | Jum'at, 15 November 2024 | 07:00 WIB

Hasil Box Office Joker 2 Dinilai Mengecewakan, Warner Bros Beri Komentar

Hasil Box Office Joker 2 Dinilai Mengecewakan, Warner Bros Beri Komentar

Your Say | Jum'at, 08 November 2024 | 14:00 WIB

Bagikan Foto Sibuk Nulis Naskah Film, Wajah Baim Wong Dibilang Mirip Joker

Bagikan Foto Sibuk Nulis Naskah Film, Wajah Baim Wong Dibilang Mirip Joker

Entertainment | Senin, 28 Oktober 2024 | 14:35 WIB

Smile 2 Raup Rp355 M pada Debut Box Office, Joker 2 Kian Merosot

Smile 2 Raup Rp355 M pada Debut Box Office, Joker 2 Kian Merosot

Your Say | Selasa, 22 Oktober 2024 | 08:34 WIB

Mimpi Buruk, Joker 2 Resmi Turun Box Office usai Kantongi Rp109 M di Pekan Kedua

Mimpi Buruk, Joker 2 Resmi Turun Box Office usai Kantongi Rp109 M di Pekan Kedua

Your Say | Selasa, 15 Oktober 2024 | 14:25 WIB

Terkini

Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini

Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini

News | Senin, 13 April 2026 | 07:44 WIB

Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!

Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!

News | Senin, 13 April 2026 | 07:32 WIB

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu

News | Senin, 13 April 2026 | 07:26 WIB

Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil

Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil

News | Senin, 13 April 2026 | 06:52 WIB

Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya

Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya

News | Senin, 13 April 2026 | 06:46 WIB

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:15 WIB

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!

News | Minggu, 12 April 2026 | 22:00 WIB

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang

News | Minggu, 12 April 2026 | 21:00 WIB

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:42 WIB

Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari

Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari

News | Minggu, 12 April 2026 | 20:32 WIB