facebook

Soroti Data Rasio Utang Negara, Said Didu Sebut Ugal-Ugalan: Pandemi Hanya Mempercepat

Aprilo Ade Wismoyo
Soroti Data Rasio Utang Negara, Said Didu Sebut Ugal-Ugalan: Pandemi Hanya Mempercepat
Said Didu.[YouTube/MSD]

Said Didu: Ini terjadi sebelum pandemi. Pandemi hanya mempercepat.

Suara.com - Pengamat kebijakan publik yang juga mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, turut menyoroti soal data rasio utang atas pendapatan negara.

Lewat sebuah cuitan yang ia unggah di akun Twitternya, Said Didu menyebut bahwa salah satu indikator yang menyebabkan utang negara menjadi ugal-ugalan adalah peningkatan jumlah utang yang sangat besar.

Ia bahkan menyebut peningkatan jumlah tersebut sudah melampaui standard normal.

"Data bicara. Salah satu indikator utang ugal-ugalan adalah peningkatan jumlah utang yg sangat besar yg sdh melampaui standar normal," ujar Said Didu dalam cuitannya dikutip Suara.com, Sabtu (11/12/2021).

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Perlindungan Data Pribadi Jadi Atensi Serius Pemerintah

Lebih lanjut, Said Didu mengatakan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung sejak sebelum pandemi melanda. Ia menegaskan bahwa pandemi hanya mempercepat.

"Ini terjadi sebelum pandemi. Pandemi hanya mempercepat," sambungnya.

Cuitan Said Didu soal rasio utang negara (Twitter)
Cuitan Said Didu soal rasio utang negara (Twitter)

Cuitan tersebut ditulis oleh Said Didu untuk menanggapi cuitan akun Awalil Rizky mengenai rasio utang atas pendapatan negara.

Dalam cuitan tersebut dijelaskan tentang dasar peringatan BPK pada pemerintah agar berhati-hati soal utang dan rasionya terhadap pendapatan negara.

"Rasio utang atas pendapatan negara sebesar 368,99% pada tahun 2020 merupakan salah satu indikator kerentanan utang yang menjadi dasar peringatan BPK agar pemerintah berhati-hati. Karena telah melampaui rekomendasi IMF dan IDR," tulisnya.

Baca Juga: Transaksi Digital Diprediksi Meningkat, Pelindungan Data Pribadi Semakin Dibutuhkan

Disebutkan pula bahwa rasio tersebut terlihat akan memburuk di tahun 2021 dan 2022.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar