Suara.com - Selebriti Cassandra Angelie ditangkap polisi ketika sedang kencan di sebuah kamar Hotel Ascott, Kebon Kacang, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Desember 2021.
Penangkapan bintang sinetron itu dilakukan setelah polisi mendapatkan laporan dari masyarakat yang menyebutkan sejumlah hotel di Jakarta dijadikan tempat pertemuan untuk praktik prostitusi.
Informasi masyarakat menuntut polisi ke Hotel Ascott.
Pada waktu digerebek, Cassandra Angelie sedang melayani seorang lelaki, dan tidak mengenakan pakaian.
Dari penangkapan itu, polisi mengamankan alat bukti, di antaranya celana dalam bertuliskan Cassandra Angelie, ATM, dan handphone.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Endra Zulpan menyebut "yang bersangkutan mengaku baru lima kali."
Dalam menjalankan praktik prostitusi, foto model itu bekerjasama dengan muncikari.
Cassandra Angelie dan ketiga muncikari, KK, R, dan UA, kemudian ditetapkan menjadi tersangka.
"Penyidik menetapkan empat tersangka, wanita publik figur inisil CA umur 23 tahun peran sebagai model dan artis yang dapat melakukan hubungan layaknya suami istri dengan bayaran tertentu," kata Zulpan.
Dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, polisi menyebut tarif berkencan dengan Cassandra Angelie sebesar Rp30 juta.
Dari keterangan para muncikari, polisi mendapatkan informasi baru.
Ada sejumlah selebriti yang masuk dalam jaringan prostitusi bersama Cassandra Angelie.
Polisi akan memeriksa sejumlah selebriti itu dalam waktu dekat.
"Kepada publik figur tersebut nanti akan kita lakukan pemanggilan dalam rangka edukasi. Rata-rata usia masih muda agar tidak melakukan kegiatan prostitusi online lagi. Ini bentuk pencegahan yang dilakukan Polda Metro Jaya," katanya.
Pelajaran kasus Cassandra Angelie
Penangkapan Cassandra Angelie di sebuah hotel di Jakarta Pusat menambah daftar panjang selebriti yang terjun dalam dunia prostitusi Indonesia.
Sosiolog Musni Umar mengatakan sosok selebriti yang berpenampilan menarik dalam dunia prostitusi sangat menarik bagi para lelaki hidung belang kalangan menengah ke atas.
Terutama dengan adanya peran muncikari akan semakin memudahkan lelaki hidung belang berhubungan dengan artis dan mencoba-coba.
“Bagi kalangan menengah ke atas itu, uang Rp25 juta, Rp50 juta, Rp100 juta tidak ada apa-apanya karena income mereka juga luar biasa kan,” kata Musni Umar kepada Suara.com, Jumat (31/12/2021).
Apalagi pada zaman pandemi corona seperti sekarang, sebagian kalangan menengah ke atas semakin kaya raya.
Mereka yang tidak dapat mengendalikan diri, menurut Musni Umar, dapat dengan mudah terjerumus pada penampilan menarik yang ditawarkan selebriti lewat muncikari.
Menurut Musni Umar bisnis prostitusi bisa tercipta karena ada tawaran. “Jadi kalau ada yang jual ada kecenderungan yang membeli,” katanya.
Dia menyarankan kepada para selebriti yang sudah cukup umur untuk menikah daripada menjual diri.
Musni Umar menyebutkan peribahasa Melayu: sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.
“Jadi kalau sudah terberitakan artis jual diri, maka sepanjang hidup dia (beritanya) tidak akan hilang, apalagi sudah ada di medsos, itu tidak akan hilang.”
“Setelah diberitakan media, tidak akan hilang, artinya akan cacat seumur hidup. Kasusnya akan jadi catatan hitam dan terekam.”
Musni Umar menekankan pentingnya bagi selebriti untuk selalu menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga.
Musni berharap momentum akhir tahun 2021, para selebriti, melakukan kontemplasi untuk mengakhiri semua perbuatan yang tidak benar dan berikrar melipatgandakan kebaikan.
“Itu artis itu kan idola kaum muda. Kalau dia lakukan itu, boleh jadi ada perempuan lain lakukan seperti itu juga demi uang.”
Media jangan sensasional
Kepada media massa dalam menyampaikan informasi tentang prostitusi selebriti, Musni Umar berharap jangan justru fokus pada isu sensasional.
“Agar terdorong orang baca saja. Yang kita harapkan, media juga mengangkat unsur edukasi dalam pemberitaannya.”
Misalnya, mengapa selebriti harus terjun ke dunia pelacuran, mengapa tidak mencari suami yang mapan, membangun hidup tenang, dan membangun nama baik.
“Kita harapkan media tidak hanya sensasional, tapi juga ada edukasi. Jangan sampai anak muda tergiur, rawatlah kebaikan agar bisa hidup selamat dan tetap sehat.”