facebook

Demo di Jakarta, WN Afghanistan Pencari Suaka Ngaku Dipukul Polisi: Keras Sekali Bukan Seperti Manusia

Agung Sandy Lesmana | Yaumal Asri Adi Hutasuhut
Demo di Jakarta, WN Afghanistan Pencari Suaka Ngaku Dipukul Polisi: Keras Sekali Bukan Seperti Manusia
WN Afghanistan saat demo menuntut suaka di kantor Amnesty Internasional di Jakarta. Demo di Jakarta, WN Afghanistan Pencari Suaka Ngaku Dipukul Polisi: Keras Sekali Bukan Seperti Manusia. (Suara.com/Yaumal)

"Keras sekali bukan seperti manusia, saya tadi dipukul didorong padahal kan saya mau masuk, tapi saya didorong,"

Suara.com - Pengungsi Afghanistan yang menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta mengaku mendapatkan tindak kekerasan dari aparat kepolisian. Mereka berunjuk rasa menuntut agar segera dikirimkan ke negara ketiga. 

Awalnya, aksi unjuk rasa mereka gelar di depan IRTI Monas, Jakarta Pusat, Rabu (19/1/2022). Kemudian bergeser menggunakan bus, massa aksi bergerak ke Kantor Amnesti Internasional Indonesia untuk melanjutkan aksi unjuk rasa. 

Muhammad Ali, salah satu pengunjuk rasa mengaku dipukul dan didorong, saat hendak memasuki kantor Amnesti Internasional.

"Keras sekali bukan seperti manusia, saya tadi dipukul didorong padahal kan saya mau masuk, tapi saya didorong," kata Ali kepada wartawan.

Baca Juga: Ricuh! Massa Pengungsi Afghanistan Terlibat Adu Dorong dengan Polisi, Wanita dan Anak-anak Menangis Histeris

Sesampai di depan Kantor Amnesty Internasional Indonesia, berdasarkan pantauan Suara.com, sempat terjadi perdebatan disertai dorong-dorongan antara sejumlah pengunjuk rasa dengan kepolisian.

Salah satu polisi saat mengawal aksi pencari suaka dari WN Afganistan di kantor Amnesty Internasional di Jakarta. (Suara.com/Yaumal)
Salah satu polisi saat mengawal aksi pencari suaka dari WN Afganistan di kantor Amnesty Internasional di Jakarta. (Suara.com/Yaumal)

Kisruh

Hal itu terjadi karena kepolisian hanya mengizinkan 10 perwakilan WN Afghanistan dari bus untuk bertemu dengan pihak Amnesty Internasional Indonesia. Namun, beberapa orang yang diturunkan bukan perwakilan yang dimaksud pengungsi Afganistan.

Kepolisian memaksa mereka masuk gedung, namun sejumlah perwakilan  menolak. Akhirnya perdebatan dan adu dorong pun terjadi.

Terpisah, Kepala Bagian Operasional Porles Metro Jakarta Pusat, AKBP Saufi Salamun membantah anggotanya melakukan pemukulan.

Baca Juga: Larang Longmarch, Polisi ke Pengungsi Afghanistan: Kok Negera Kami yang Beri Solusi

"Enggak ada kekerasan, semua profesional,  anggota kami tahu tindakannya sudah jelas tidak ada kekerasan," kata Saufi.

"Cuman memang ada ketegasan, kan kalau tidak bisa diatur kita harus lakukan sesuatu. Semua anggota di Jakarta Pusat sudah tahu humanis dan soft approach," sambungnya.

Pengungsi Afghanistan terlibat adu dorong dengan polisi saat berujuk rasa di Lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat. (Suara.com/Yaumal)
Pengungsi Afghanistan terlibat adu dorong dengan polisi saat berujuk rasa di Lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat. (Suara.com/Yaumal)

Ratusan pengungsi Afghanistan menggelar aksi unjuk rasa, menuntut untuk dipindahkan segera dikirimkan ke negara ketiga. Awalnya mereka berencana  menggelar longmarc dari IRTI Monas ke Kantor Amnesti Internasional Indonesia, namun tak mendapat izin dari kepolisian.

Saat aksinya, mereka membawa sejumlah spanduk bertuliskan tuntutan mereka, diantaranya bertuliskan" We Hope Freedom Could Be Hard By Third Resettlement Countries (Kami berharap segera ditempatkan ke negara ketiga)."

Yasin, salah satu pengunjuk rasa mengatakan aksi mereka gelar karena tak kunjung mendapatkan kepastian.

"Tuntutannya masih sama, kami kembali mencoba menyuarakan hak kami yang tidak kunjung terpenuhi," ujarnya kepada wartawan.

Kata dia unjuk rasa mereka gelar dengan titik poin di Kantor Amnesti Internasional Indonesia untuk mendapatkan perhatian dari lembaga pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM).

"Kami kecewa karena tidak kunjung dipenuhi hak kami oleh UNHCR. Makanya kali ini kami melakukan aksi ke Amnesti agar mendapatkan dukungan di Indonesia maupun luar negeri," kata Yasin.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar