facebook

Klub Malam Populer di Kamerun Terbakar Saat Piala Afrika, 16 Orang Tewas

Reza Gunadha | Rima Suliastini
Klub Malam Populer di Kamerun Terbakar Saat Piala Afrika, 16 Orang Tewas
Ilustrasi kebakaran. [Shutterstock]

Ledakan diduga berasal dari kembang api yang digunakan di klub.

Suara.com - Sebuah klub malam populer di Yaounde, ibu kota Kamerun terbakar dan menewaskan setidaknya 16 orang. Ledakan diduga berasal dari kembang api yang digunakan di klub.

Menyadur Al Jazeera Senin (24/1/2022), api melalap ruang utama Liv's Night Club di distrik kelas atas Bastos yang merupakan rumah bagi kedutaan dan kediaman diplomat.

Pihak berwenang mengatakan api menyebar ke tempat penyimpanan gas untuk memasak.

"Kami masih dalam tahap penyelidikan untuk mengetahui nama dan kewarganegaraan korban tewas dan luka-luka," kata juru bicara pemerintah Rene Emmanuel Sadi, Minggu.

Baca Juga: Heboh! Beredar Video Kebakaran yang Diduga Terjadi di Tempat Agen Gas LPG dan Penjual Bensin Eceran di Kapuas Hulu

“Tragedi disebabkan oleh kembang api yang sering digunakan di tempat ini. Awalnya memakan langit-langit gedung, mengakibatkan dua ledakan yang sangat keras, menyebabkan kepanikan dan desakan,” kata kementerian komunikasi.

"Ada ledakan keras dari enam botol gas, menyebabkan kepanikan di lingkungan itu,"ujarnya menambahkan 8 lainnya terluka dan dibawa ke Rumah Sakit Pusat Yaounde.

Seorang penjaga keamanan yang hadir saat kebakaran mengatakan kejadiannya terjadi sangat cepat.

“Saat itu lewat dari jam 2 pagi dan kebanyakan pelanggan datang sekitar jam 3 pagi… ada banyak korban,” kata satpam itu.

Insiden itu terjadi saat negara itu menjadi tuan rumah bagi ribuan pemain sepak bola, penggemar, dan ofisial pertandingan dari seluruh benua untuk turnamen Piala Afrika selama sebulan.

Baca Juga: Toko Plastik di Sleman Kebakaran, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Dalam sebuah pernyataan, Presiden Kamerun Paul Biya menyerukan agar para pemain dan penggemar AFCON tenang dan meyakinkan keselamatan mereka.

Kejuaraan yang menampilkan tim dari 24 negara itu semula dijadwalkan pada 2021 tapi ditunda karena pandemi virus corona.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar