Peringatan Holokos: Kisah Pemburu Nazi Balas Pembantaian Atas Kakek Buyut

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 31 Januari 2022 | 17:51 WIB
Peringatan Holokos: Kisah Pemburu Nazi Balas Pembantaian Atas Kakek Buyut
BBC

Suara.com - Sudah lebih dari delapan puluh tahun sejak Holokos terjadi, dan 75 tahun sejak akhir pengadilan Nuremberg, tempat beberapa arsitek pembunuhan massal diadili.

Kini, setiap pelaku yang masih hidup sudah berusia lanjut. Jadi, apa yang membuat pemburu veteran Nazi, Dr Efraim Zuroff, terus berupaya melacak mereka?

Zuroff mengatakan kepada BBC bahwa dia memiliki banyak alasan, tetapi yang pertama dan terutama karena, dia percaya, mereka (pelaku) tidak menyesal.

"Saya tidak pernah menemukan penjahat Nazi selama bertahun-tahun yang menyatakan penyesalan dan mencari penebusan," kata Zuroff, berbicara dari rumahnya di Israel.

Zuroff, pimpinan pemburu Nazi dari Simon Wiesenthal Center dan direktur kantornya di Yerusalem, terkejut dengan anggapan bahwa usia lanjut para penjahat Nazi dapat dianggap sebagai faktor yang meringankan.

Dia memperkirakan masih ada beberapa ratus Nazi yang menghindari hukum dan pengadilan.

Ketukan di pintu

"Selama upaya ini terus berlanjut, orang-orang ini secara teori tidak dapat tidur nyenyak dan tidak pernah dapat memastikan suatu hari tidak akan ada ketukan di pintu rumah mereka," kata Zuroff.

Zuroff berpendapat, bahwa waktu tidak dapat mengurangi rasa bersalah dan usia tua seharusnya tidak memaafkan kejahatan keji Nazi.

Baca juga:

Hukuman yang memberikan keadilan bagi para korban dan keluarga mereka, katanya, dapat bertindak sebagai pencegah yang kuat bagi calon pelaku di masa depan.

Kemenangan hukum

Selama empat dekade terakhir, Zuroff telah mencoba melacak lebih dari 3.000 tersangka penjahat Nazi yang tinggal di 20 negara, meskipun beberapa dari mereka meninggal sebelum bisa dijangkau.

Hanya sekitar 40 kasus yang benar-benar diadili dan lebih sedikit lagi yang dijatuhi hukuman. Namun Zuroff sangat optimistis berkat perubahan undang-undang.

"Di masa lalu, lebih dari 12 atau 13 tahun yang lalu, untuk menuntut Nazi di Jerman, Anda harus membuktikan bahwa orang ini telah melakukan kejahatan tertentu terhadap korban tertentu dan bahwa motivasinya adalah kebencian rasial."

Itu, katanya, praktis tidak mungkin dalam banyak kasus, tetapi sekarang persyaratan itu telah dihilangkan.

"Hari ini, yang dilakukan adalah dengan membuktikan bahwa orang ini bertugas di kamp kematian tertentu - satu dengan kamar gas atau tingkat kematian yang tinggi - dan ini dapat dilakukan dengan dokumentasi."

Kehilangan momentum

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, banyak negara menangkap Nazi serta kolaboratornya dan mengadili mereka.

"Pengadilan Nuremberg adalah puncak gunung es," kata Zuroff.

"Di setiap negara di Eropa, ada ratusan kasus, terkadang ribuan. Di Jerman Barat dari tahun 1949 hingga 1985 ada 200.000 investigasi, 120.000 dakwaan, tetapi kurang dari 7.000 hukuman."

Namun, antusiasme awal untuk membawa Nazi ke pengadilan berkurang sejak tahun 1960-an, dan hari ini kata Zuroff, pihak berwenang memiliki alasan-alasan yang sangat jelas untuk tidak meluangkan waktu dan sumber daya mereka melakukan upaya tersebut.

"Bandingkan Nazi berusia 90 tahun dengan seorang pembunuh berantai. Di negara normal mana pun, polisi akan mencari pembunuh berantai karena mereka akan terus membunuh sampai mereka dihentikan. Berapa peluang seorang Nazi berusia 90 tahun untuk membunuh seseorang? Itu nol," katanya.

Jadi, jika Nazi ingin diadili, pemburu seperti Zuroff-lah yang harus bekerja keras, dan mereka berpacu dengan waktu.

Zuroff mengatakan kepada surat kabar Inggris Guardian bahwa dia pasti adalah satu-satunya orang di dunia yang berharap sisa penjahat Nazi tetap sehat agar bisa diadili.

Untuk meningkatkan usahanya, ia meluncurkan kembali "Operation Last Chance" satu dekade lalu, dengan hadiah uang tunai sebesar US$25.000 (sekitar Rp360 juta) untuk informasi tentang penjahat Nazi.

Keberhasilan terbesar

Keberhasilan terbesar Zuroff hingga saat ini adalah hukuman kepada komandan kamp konsentrasi terakhir yang diketahui, Dinko Sakic, yang memimpin kamp Jasenovac di Kroasia pada tahun 1944.

Sekitar 100.000 orang dibunuh di kamp tersebut. Karena upaya Zuroff, Sakic divonis 20 tahun penjara pada 4 Oktober 1998.

Ketika Zuroff meninggalkan ruang sidang setelah vonis, dia dihentikan oleh seorang pria jangkung yang mengucapkan terima kasih.

"'Jika bukan karena Anda, persidangan ini tidak akan pernah terjadi,' kata pria itu. Saya tidak tahu siapa dia," kenang Zuroff.

Pria itu adalah saudara laki-laki Milo Boskovic, seorang dokter dari Montenegro yang telah ditahan di kamp pada tahun 1944.

Boskovic secara acak dijemput oleh Sakic, yang bermaksud menghukum aktivitas perlawanan.

"Milo Boskovic memberi tahu Sakic bahwa dia tidak ingin digantung. Sakic mengeluarkan pistol dan menembak kepalanya. Dia membunuhnya," kata Zuroff.

"Saya dapat berjanji kepada Anda bahwa dia [saudaranya] tidak pernah bermimpi dalam 1.000 tahun bahwa Kroasia yang demokratis akan mengadili Dinko Sakic - pahlawan nasional besar, tetapi itulah yang terjadi."

Sakic tidak menunjukkan penyesalan dalam persidangan. Bagi Zuroff itu adalah tipikal dari sikap Nazi terhadap kejahatan mereka.

Kemunduran

Dalam banyak kesempatan, kegigihan Zuroff mengadili penjahat Nazi tidak membuahkan hasil.

Zuroff mencoba membawa seorang mantan perwira Hungaria, Sandor Kepiro, ke pengadilan dan kasusnya diadili di Budapest pada 2011 setelah bertahun-tahun bekerja keras.

Zuroff menuduh Kepiro sebagai salah satu dari 15 perwira Hungaria yang terlibat dalam pembantaian Novi Sad pada Januari 1942, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Kepiro dan petugas lainnya telah dihukum pada tahun 1944 karena melakukan operasi yang tidak sah, tetapi tidak ada tindakan yang diambil terhadap para petugas tersebut.

Untuk membuktikan kasusnya, Zuroff menunjukan bukti dari pengadilan sebelumnya, tetapi hakim menolak itu.

Dia telah bekerja selama lima tahun dan bahkan pergi ke Novi Sad untuk menemui para penyintas. Kemunduran itu menyakitkan.

"Keesokan harinya, ketika saya menunggu untuk kembali ke Israel, saya mulai menangis. Itu terlalu berlebihan," kata Zuroff. "Tetapi pada akhirnya, saya memikirkan para korban, para penyintas. Apa yang mereka alami jauh lebih buruk daripada apa yang terjadi pada saya."

Motivasi pribadi

Ketika Zuroff pergi ke Lithuania untuk meneliti apa yang terjadi pada orang-orang Yahudi di sana, dia harus berhadapan dengan koneksi yang erat dengan tragedi itu.

Efraim Zuroff adalah nama yang diambil dari paman buyutnya, Efraim Zar yang adalah seorang Rabi di Lithuania, korban awal Holokos.

Zuroff pergi ke apartemen tempat pamannya tinggal. Dia kemudian mengunjungi 35 lokasi pembunuhan massal terpisah di Lithuania dan lima di Belarus.

"Setiap hari kami pergi ke dua atau tiga kuburan massal, dan saya akan membacakan doa untuk para korban yang meninggal. Saya tahu saya berdiri tepat di sebelah lubang besar yang pernah diisi dengan ratusan dan terkadang ribuan orang mati."

"Saya tahu paman buyut saya menjadi satu dari seluruh korban dan penghalang yang saya buat benar-benar hancur. Itu adalah pengalaman emosional yang sangat intens," kenangnya.

Dia mengatakan dari 220.000 orang Yahudi yang tinggal di Lithuania, 212.000 dibunuh selama pendudukan Nazi.

"Paman buyut saya, Rabi Efraim, ditangkap di Vilnius oleh sekelompok warga Lithuania yang mencari orang Yahudi berjanggut pada 13 Juli 1941. Dia dibawa ke Penjara Lukoshkis dan tampaknya dibunuh di sana atau di lokasi pembunuhan massal Ponar terhadap 70.000 orang Yahudi."

"Saya tidak menemukan pembunuhnya," keluhnya.

Masa depan

Seperti para pelaku Nazi, para pemburu pelaku kejahatan seperti Zuroff juga semakin tua.

Zuroff sekarang berusia 73 tahun dan memiliki 15 cucu. Dia tahu Nazi yang tersisa kemungkinan akan mati dan pergi sebelum cucu-cucunya dewasa.

Dia bangga bahwa karyanya membantu mempertahankan kenangan Holokos tetap hidup.

Ia juga percaya, metode yang digunakan oleh pemburu Nazi dapat digunakan untuk membawa para pelaku yang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ke pengadilan.

Namun pengalaman itu membuatnya meragukan kapasitas kerangka yudisial yang ada untuk memberikan keadilan bagi para korban genosida dan mengutip kasus Rwanda, di mana ia pergi untuk memberikan nasihat ahli setelah genosida tahun 1994.

Ada 140.000 tersangka di penjara, katanya, tetapi logistik untuk mengadili mereka sangat terbatas.

"Di Rwanda, sebagian besar hakim telah dibunuh selama genosida, sebagian besar ruang sidang dihancurkan. Bahkan menjadi negara dunia pertama yang tidak dapat memberikan keadilan penuh atas kejahatan seperti ini."

Dia tahu bahwa menemukan solusi atas kendala hukum, logistik dan politik yang ditimbulkan oleh pelaku genosida adalah tantangan besar, tapi dia tidak akan menyerah.

"Saya tidak memilih jalur ini karena saya pikir itu pekerjaan yang mudah," katanya. "Saya memilihnya karena rasa tanggung jawab dan kewajiban kepada orang-orang yang dibunuh."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Boikot Donald Trump dan Piala Dunia 2026 di Belanda Tembus 170 Ribu Tanda Tangan

Boikot Donald Trump dan Piala Dunia 2026 di Belanda Tembus 170 Ribu Tanda Tangan

Bola | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:17 WIB

Bedah Visual Cast Film Terbaru Street Fighter: The Movie

Bedah Visual Cast Film Terbaru Street Fighter: The Movie

Entertainment | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

40 Juta Serangan Siber Hantam Indonesia di 2025, Kaspersky Ungkap Ancaman dari USB hingga Laptop

40 Juta Serangan Siber Hantam Indonesia di 2025, Kaspersky Ungkap Ancaman dari USB hingga Laptop

Tekno | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos

Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Ceras! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan

Ceras! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Daftar HP Baru Rilis Maret 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan hingga Flagship Terbaru

Daftar HP Baru Rilis Maret 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan hingga Flagship Terbaru

Tekno | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Status Nathan Tjoe-A-On Digugat, Willem II: Kami Tunggu Keputusan Resmi KNVB

Status Nathan Tjoe-A-On Digugat, Willem II: Kami Tunggu Keputusan Resmi KNVB

Bola | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:14 WIB

Update Jadwal Ganjil Genap Jakarta Selama Libur Lebaran 2026, Cek Jamnya

Update Jadwal Ganjil Genap Jakarta Selama Libur Lebaran 2026, Cek Jamnya

Lifestyle | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:11 WIB

Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak

Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:03 WIB

Selat Hormuz Membara, Emiten BABY Buka-bukaan Nasib Bisnis Pakaian Anak

Selat Hormuz Membara, Emiten BABY Buka-bukaan Nasib Bisnis Pakaian Anak

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:59 WIB

Terkini

Ceras! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan

Ceras! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:16 WIB

Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak

Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 14:03 WIB

Analisis: Waktunya Pakai Energi Terbarukan saat Krisis BBM karena Perang Iran

Analisis: Waktunya Pakai Energi Terbarukan saat Krisis BBM karena Perang Iran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:55 WIB

Diperiksa Penyidik Usai Kembali ke Rutan KPK, Yaqut: Mohon Maaf Lahir Batin

Diperiksa Penyidik Usai Kembali ke Rutan KPK, Yaqut: Mohon Maaf Lahir Batin

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:49 WIB

Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan

Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:39 WIB

Gubernur DKI Tunggu Keputusan Pusat soal WFH ASN untuk Efisiensi BBM

Gubernur DKI Tunggu Keputusan Pusat soal WFH ASN untuk Efisiensi BBM

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:30 WIB

Australia Lumpuh, SPBU Kehabisan BBM Imbas Perang Iran

Australia Lumpuh, SPBU Kehabisan BBM Imbas Perang Iran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:26 WIB

KPK Panggil Ulang Gus Yaqut Hari Ini, Ada Apa Setelah Status Penahanan Kembali ke Rutan?

KPK Panggil Ulang Gus Yaqut Hari Ini, Ada Apa Setelah Status Penahanan Kembali ke Rutan?

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:03 WIB

Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran

Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 13:02 WIB

Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim

Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 12:56 WIB