Varian Deltacron, Apa yang Diketahui Sejauh Ini dan Sudah Ada di Indonesia?

Siswanto, BBC

Jum'at, 18 Maret 2022 | 17:35 WIB
Varian Deltacron, Apa yang Diketahui Sejauh Ini dan Sudah Ada di Indonesia?
BBC

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pada 9 Maret bahwa para ilmuwan telah mengidentifikasi varian baru Covid-19. Varian tersebut secara tidak resmi disebut 'Deltacron' karena merupakan kombinasi dari varian Delta dan Omicron.

WHO secara resmi menggolongkannya sebagai varian AY.4/BA.1 dan sejauh ini tidak menganggapnya sebagai "varian yang menjadi perhatian" - yang dapat berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat.

Ada sejumlah kasus 'Deltacron' di Eropa, AS, dan Amerika Selatan.

Namun, para ilmuwan dan pakar kesehatan masih belum yakin tentang aspek penting dari varian baru ini, terutama apakah sangat menular, resisten terhadap vaksin, atau bisa menyebabkan gejala yang parah.

Apa kami ketahui sejauh ini dan apakah sudah terdeteksi di Indonesia?

Baca juga:

Asal dan penyebarannya

Beberapa kasus awal 'Deltacron' terdeteksi di Prancis pada Januari 2022, dan telah dikonfirmasi.

Sejak itu, virus ini juga ditemukan di Belgia, Jerman, Denmark, dan Belanda, menurut informasi dari Gisaid, platform online tempat para ilmuwan dari seluruh dunia berbagi informasi genetika tentang virus corona.

Baru-baru ini, kasus 'Deltacron' juga telah diamati di Inggris, Amerika Serikat, dan Brasil.

baca juga

Jumlah kasus yang terkait dengan varian ini masih sangat rendah: per 15 Maret, hanya 47 sampel AY.4/BA.1 yang telah diserahkan ke Gisaid, 36 di antaranya berasal dari Prancis.

Meski perlu dipastikan lebih lanjut, fakta bahwa jumlah kasus 'Deltacron' tidak berkembang secara eksponensial dari Januari hingga Maret dapat ditafsirkan sebagai tanda awal bahwa galur ini tidak lebih menular daripada Delta dan Omicron.

Data lain yang menguatkan pandangan itu berasal dari sebuah penelitian yang belum dipublikasikan oleh para peneliti di Helix, perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pengurutan genetika di Amerika Serikat.

Para ilmuwan menganalisis lebih dari 29.000 sampel positif Covid-19 yang dikumpulkan antara November 2021 hingga Februari 2022, periode di mana varian Delta dan Omicron beredar dengan intensitas tinggi di AS.

Tetapi dari semua kasus positif ini, hanya dua yang terkait dengan 'Deltacron'.

Tim penulis penelitian itu menyimpulkan bahwa, untuk sementara waktu, varian ini tergolong "langka" dan "tidak ada bukti bahwa kombinasi Delta-Omicron menghasilkan virus yang lebih menular dibandingkan dengan galur Omicron yang tengah beredar."

Bagaimana dua varian itu bergabung?

Ahli virologi Felipe Naveca, yang bekerja untuk FioCruz Brasil, suatu lembaga penelitian kesehatan masyarakat, mengatakan kepada BBC bahwa varian-varian yang bergabung untuk membentuk galur baru bukanlah sesuatu yang langka atau tidak terduga.

"Ada kemungkinan bahwa ini telah terjadi beberapa kali, dengan jenis-jenis lain. Tetapi, karena varian-varian virus corona tidak begitu berbeda satu sama lain sejak awal, menjadi lebih sulit untuk mendeteksi penggabungan itu."

"Virus terus berkembang dan munculnya versi baru tidak selalu menjadi hal buruk. Kita sekarang perlu menilai dan memahami dampak yang mungkin terjadi pada pandemi ini," tambahnya.

Tetapi bagaimana penggabungan ini terjadi di lapangan?

Pertama, perlu kita ingat bahwa beberapa bulan terakhir ditandai dengan maraknya peredaran dua varian virus corona: Delta dan Omicron.

Dalam konteks ini, seseorang dapat terinfeksi secara bersamaan dengan kedua versi patogen itu, ketika melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi di restoran, di transportasi umum, atau di tempat ramai lainnya.

Kedua varian tersebut kemudian dapat menginfeksi sel secara bersamaan. Akibatnya, salinan baru virus itu yang muncul membawa karakteristik genetika Delta dan Omicron.

Dalam kasus 'Deltacron",'para ilmuwan telah mengamati bahwa ia membawa "duri" Omicron dan "tubuh" Delta.

Namun, masih belum jelas apakah "pencampuran" dua jenis penting virus corona ini dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius, dengan risiko rawat inap atau kematian yang lebih besar.

Juga belum ada informasi apakah galur itu dapat lolos dari kekebalan yang diberikan oleh infeksi atau vaksinasi sebelumnya.

Apakah ada alasan untuk khawatir?

Otoritas kesehatan masyarakat nasional dan internasional telah meminta publik tetap tenang terkait varian baru ini.

Baik WHO maupun Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) sejauh ini tidak menyebut 'Deltacron' sebagai varian yang menjadi perhatian.

WHO saat ini mengklasifikasikannya sebagai "varian dalam pemantauan".

Dalam konferensi pers pada 9 Maret, Maria Van Kerkhove, Pimpinan Teknis WHO untuk Covid-19, menekankan bahwa "tidak ada perubahan dalam epidemiologi atau tingkat keparahan penyakit yang terkait dengan varian ini yang telah diamati".

"Sayangnya, kami berharap untuk melihat lebih banyak virus rekombinasi, karena perubahan dari waktu ke waktu persis seperti yang dilakukan patogen-patogen ini," katanya.

Felipe Naveca menambahkan bahwa kemunculan varian baru tetap memperkuat pentingnya pemantauan genetika oleh para ilmuwan.

"Kami perlu melakukan lebih banyak lagi pengurutan sampel untuk memahami apakah varian baru ini memiliki dampak," katanya.

Namun Naveca juga meminta agar masyarakat juga harus tetap waspada.

"Menurut hemat saya, sangat penting untuk menerima vaksinasi lengkap dengan dosis yang dianjurkan," tambahnya.

"Langkah pencegahan seperti mencuci tangan dan memakai masker tetap berguna untuk mengurangi risiko terinfeksi varian virus corona apapun," tutup ahli virologi itu.

Apakah sudah terdeteksi di Indonesia?

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, varian Deltacron belum terdeteksi di Indonesia.

"Hingga saat ini, pemerintah belum mendeteksi kasus varian Deltacron di Indonesia dan kita terus akan memantau," tutur dr Nadia kepada detikcom Rabu (16/03).

Menurutnya, vaksin Covid disuntikkan kepayang da publik Indonesia masih efektif untuk melindungi diri.

"Vaksin Covid-19 jenis apapun yang saat ini kita gunakan masih efektif untuk mempertahankan diri dari virus Covid-19, termasuk sub varian Omicron BA.1 maupun BA.2," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:52 WIB

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:42 WIB

Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya

Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya

Bisnis | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:36 WIB

Berdayakan Puluhan Kelompok Usaha, Klaster Unggulan BRI Sukses Dongkrak Potensi Peternak

Berdayakan Puluhan Kelompok Usaha, Klaster Unggulan BRI Sukses Dongkrak Potensi Peternak

Bri | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:25 WIB

Tak Cukup Alim, Cak Imin Minta Santri Melek Literasi Keuangan Agar Tak Terjebak Judol dan Pinjol

Tak Cukup Alim, Cak Imin Minta Santri Melek Literasi Keuangan Agar Tak Terjebak Judol dan Pinjol

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:03 WIB

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:02 WIB

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:55 WIB

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:53 WIB

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:51 WIB

Terkini

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:37 WIB

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

Bri | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:28 WIB

×