Rusia-Ukraina: Pembunuhan Warga Sipil di Bucha Dapat Disebut Genosida?

Siswanto, BBC

Sabtu, 09 April 2022 | 11:40 WIB
Rusia-Ukraina: Pembunuhan Warga Sipil di Bucha Dapat Disebut Genosida?
BBC

Suara.com - Pembunuhan warga sipil di Bucha dekat ibu kota Ukraina, Kyiv, telah memicu tuduhan kejahatan perang terhadap Rusia.

"Ini adalah genosida, apa yang Anda lihat di sini," kata Presiden Ukraina Volodymir Zelensky dari Bucha.

Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki setuju bahwa pembunuhan di Bucha dan kota-kota lain di dekat ibu kota "harus disebut sebagai tindakan genosida dan ditangani sedemikian".

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan serangan terhadap warga sipil di Bucha "tidak terlihat jauh dari genosida".

Tapi Amerika Serikat dan negara-negara Barat NATO tidak sampai menggunakan kata itu untuk menggambarkan apa yang terjadi di Ukraina.

Jadi, apakah ada landasan untuk menuduh pasukan Rusia melakukan apa yang disebut "kejahatan dari semua kejahatan"?

Baca juga:

Apa itu genosida?

Genosida secara luas dipandang sebagai kejahatan paling serius terhadap kemanusiaan.

Tindakan ini didefinisikan sebagai pemusnahan massal sekelompok orang tertentu - misalnya, pembunuhan enam juta orang Yahudi dalam Holokos Perang Dunia Kedua.

baca juga

Konvensi Genosida PBB mendefinisikan genosida sebagai melakukan salah satu dari hal berikut "dengan maksud untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau agama":

  • Membunuh anggota kelompok
  • Menyebabkan cedera fisik atau mental yang serius pada anggota kelompok
  • Dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan bagi kelompok berdasarkan perhitungan untuk menyebabkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau sebagian
  • Memaksakan tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran di dalam kelompok
  • Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok ke kelompok lain

Apakah Rusia telah melakukan tindakan genosida di Ukraina?

Belum ada konsensus mengenai ini.

Eugene Finkel, seorang profesor hubungan internasional di Johns Hopkins University, meyakini genosida sedang berlangsung di Ukraina. Dia mengatakan ada bukti pembunuhan, yang dilakukan di Bucha dan tempat-tempat lain, terhadap orang-orang berdasarkan identitas Ukraina mereka.

"Ini bukan hanya membunuh orang, ini menargetkan kelompok identitas nasional," katanya.

Namun, retorika yang datang dari Moskow yang membuatnya semakin mengarah ke niat genosida, kata Finkel.

Dia menunjuk ke sebuah artikel berjudul "Apa yang harus dilakukan Rusia dengan Ukraina?" yang diterbitkan minggu ini oleh kantor berita media milik pemerintah Rusia, Ria.

Artikel tersebut berpendapat bahwa "tidak memungkinan" bagi Ukraina menjadi sebuah "negara berdaulat" dan bahkan namanya "tampaknya tidak dapat dipertahankan"; elit nasionalis Ukraina "perlu dilikuidasi, tidak mungkin dilakukan reedukasi", kata penulisnya, Timofei Sergeytsev.

Dia mendasarkan teorinya pada klaim tak berdasar bahwa Ukraina adalah negara Nazi, dengan alasan bahwa sebagian besar penduduk juga bersalah karena mereka "Nazi pasif", dan dengan demikian merupakan pendukung ideologi ini.

Sergeytsev juga menulis, setelah kemenangan Rusia, orang-orang ini akan membutuhkan reedukasi yang berlangsung setidaknya satu generasi dan itu "berarti de-Ukrainisasi".

"Bagi saya, perubahan suasana dalam beberapa pekan terakhir di Rusia, dan terutama di kalangan elit, adalah titik kritis yang kami sebut sebagai ambang batas niat, bukan hanya untuk menghancurkan negara... tetapi untuk menghancurkan sebuah identitas," kata Prof. Finkel.

"Tujuan perang adalah de-Ukrainisasi... mereka tidak fokus pada negara, mereka fokus pada orang-orang Ukraina."

Gregory Stanton, presiden pendiri dan ketua Genocide Watch, mengatakan ada bukti "bahwa tentara Rusia sebenarnya sebagian berniat untuk menghancurkan kelompok nasional Ukraina".

"Itulah mengapa mereka menargetkan warga sipil. Mereka tidak hanya menargetkan kombatan dan militer."

Dia mengatakan klaim Presiden Putin menjelang invasi, bahwa perang delapan tahun di timur Ukraina tampak seperti genosida, adalah apa yang oleh beberapa akademisi disebut sebagai "mirroring" (cerminan).

"Seringkali pelaku genosida akan menuduh pihak lain - korban yang ditargetkan - berniat melakukan genosida sebelum pada kenyataannya, dilakukan oleh pelakunya. Itulah yang terjadi dalam kasus ini."

'Bukti belum cukup kuat'

Tetapi para ahli lain di bidang genosida mengatakan terlalu dini untuk mendefinisikan kekejaman Rusia dalam kategori itu.

Menurut Jonathan Leader Maynard, dosen politik internasional di King's College London, bukti-bukti yang ada masih belum jelas jika mengacu pada definisi-definisi ketat Konvensi Genosida.

Itu tidak berarti genosida tidak terjadi - ia mengatakan "sangat jelas" bahwa kekejaman sedang terjadi - hanya saja tingkat keparahannya belum jelas.

"Mungkin saja kekejaman itu bisa menjadi genosida atau bisa meningkat di masa depan menjadi genosida, tetapi saat ini buktinya belum cukup kuat," katanya.

Namun, ia menunjuk pada retorika "sangat meresahkan" dari presiden Rusia yang menyangkal keberadaan sejarah Ukraina sebagai negara merdeka. Ini menggambarkan "cara berpikir genosida", katanya, di mana Vladimir Putin percaya Ukraina "tidak nyata, jadi mereka tidak memiliki hak untuk hidup".

Risiko genosida meningkat akibat pembahasan seperti itu, katanya, "tetapi kita tidak dapat secara otomatis berasumsi bahwa retorika semacam itu akan mengarah pada tindakan yang dilakukan di lapangan".

Bagi Philippe Sands, sepertinya ada bukti kejahatan perang mengingat penargetan warga sipil dan pengepungan kota pelabuhan Mariupol tampaknya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun, Prof Sands yang merupakan direktur Centre for International Courts and Tribunals at University College London, mengatakan untuk membuktikan genosida di bawah hukum internasional, seorang jaksa harus menetapkan adanya niat untuk menghancurkan suatu kelompok, secara keseluruhan atau sebagian. Dan pengadilan internasional telah menetapkan ambang batas yang sangat tinggi untuk membuktikan itu.

Niat dapat ditetapkan dengan bukti langsung di mana para pelaku mengatakan bahwa mereka membunuh orang untuk menghancurkan suatu kelompok. Tapi Sands meyakini bahwa itu tidak mungkin ada dalam kasus Ukraina.

Niat juga dapat disimpulkan dari pola perilaku, "tapi itu sesuatu yang sulit", tambahnya. Belum cukup diketahui niat orang-orang Rusia yang diduga melakukan kekejaman itu.

"Jika mereka pergi ke desa dan mengeksekusi sejumlah besar pria dewasa dari satu kelompok nasional atau agama secara sistematis - kalau itu yang terjadi di Bucha - bisa menjadi indikator niat genosida," katanya.

"Tetapi pada tahap ini kami tidak memiliki cukup bukti untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa. Saya pikir sangat tepat untuk sangat waspada terhadap tanda-tanda niat genosida, karena perang bergerak ke timur Ukraina dan menjadi semakin brutal."

Alex Hinton, direktur Centre for the Study of Genocide and Human Rights di Rutgers Universitys, mengatakan bahwa kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan tampaknya terjadi di Ukraina melalui pengeboman pemusnahan dan penargetan warga sipil.

Presiden Putin menampilkan retorika genosida, kata Hinton, tetapi ini perlu dikaitkan dengan jelas dengan kekejaman di lapangan untuk membuktikan niat genosida.

"Saya tidak akan mengatakan ini adalah genosida seperti [Presiden] Zelensky telah nyatakan, tetapi saya akan mengatakan bahwa tanda-tanda peringatan ada di sana. Ancaman risikonya sangat tinggi," katanya.

Apakah Rusia melakukan genosida atau tidak seharusnya tidak mengaburkan apa yang dilihat Alex Hinton sebagai kekejaman yang jelas dilakukan oleh pasukan Rusia di Ukraina.

"Kita tahu ada kekejaman yang sedang terjadi dan itu mengundang tanggapan. Kita tidak semestinya berpikir apa yang terjadi di sana adalah genosida, untuk berbuat sesuatu."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

Ketum PKN Gede Pasek: Republik Ini Bukan Milik Oligarki, Kekuasaan Bukan Warisan Keluarga!

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:21 WIB

Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar di Indonesia, Bawa Pesan Kemanusiaan dan Perdamaian

Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar di Indonesia, Bawa Pesan Kemanusiaan dan Perdamaian

Entertainment | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:19 WIB

Berani! Singpura Kumpulkan Petinggi 10 Perusahaan Diduga Biang Kerok Kebakaran Hutan

Berani! Singpura Kumpulkan Petinggi 10 Perusahaan Diduga Biang Kerok Kebakaran Hutan

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:18 WIB

Laptop REDMI Book 16 2027 Hadir dengan Numeric Keypad,Baterai 72Wh, dan Layar 120Hz

Laptop REDMI Book 16 2027 Hadir dengan Numeric Keypad,Baterai 72Wh, dan Layar 120Hz

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:50 WIB

DBS dan BCA Kompak Sebut Isu Merger Hoax

DBS dan BCA Kompak Sebut Isu Merger Hoax

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:14 WIB

5 Sepatu Jalan Anti Air untuk Outdoor, Nyaman Dipakai saat Musim Hujan

5 Sepatu Jalan Anti Air untuk Outdoor, Nyaman Dipakai saat Musim Hujan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:13 WIB

Anime Made in Abyss Umumkan Produksi Film Kedua dan Lima Pengisi Suara Baru

Anime Made in Abyss Umumkan Produksi Film Kedua dan Lima Pengisi Suara Baru

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Film Jumbo Akhirnya Tembus Pasar Italia, Kini Diputar di 121 Bioskop

Film Jumbo Akhirnya Tembus Pasar Italia, Kini Diputar di 121 Bioskop

Entertainment | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:10 WIB

Laba Bersih Samator Indo Gas (AGII) Melonjak Hampir 80 Persen, Pendapatan Rp2,38 Triliun

Laba Bersih Samator Indo Gas (AGII) Melonjak Hampir 80 Persen, Pendapatan Rp2,38 Triliun

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:09 WIB

My Tomorrow, Your Yesterday: Ketika Hari Pertama Kita Jadi Hari Terakhirnya

My Tomorrow, Your Yesterday: Ketika Hari Pertama Kita Jadi Hari Terakhirnya

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:07 WIB

Terkini

Kasus Dugaan Korupsi 93 Honorer RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut Menyusul Jadi Tersangka

Kasus Dugaan Korupsi 93 Honorer RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut Menyusul Jadi Tersangka

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:20 WIB

IHT Dapat Gangguan Lagi dari Aturan Larangan Tambahan Perisa

IHT Dapat Gangguan Lagi dari Aturan Larangan Tambahan Perisa

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:20 WIB

Terima Tim Gabungan Perumus UU Satu Data Indonesia di Istana, Ini Sederet Arahan Tegas Prabowo

Terima Tim Gabungan Perumus UU Satu Data Indonesia di Istana, Ini Sederet Arahan Tegas Prabowo

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:15 WIB

Wamensos Agus Jabo Dukung Wartawan Udin Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Wamensos Agus Jabo Dukung Wartawan Udin Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:14 WIB

Wamen Ekraf Dorong UMKM Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual untuk Masuk Pasar Global

Wamen Ekraf Dorong UMKM Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual untuk Masuk Pasar Global

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:14 WIB

Amran Minta Masyarakat Laporkan Beras SPHP Oplosan Lewat WhatApp

Amran Minta Masyarakat Laporkan Beras SPHP Oplosan Lewat WhatApp

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Gelar Aksi di Patung Kuda

Bawa Tritura, Mahasiswa Trisakti Gelar Aksi di Patung Kuda

Foto | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:13 WIB

SMGR Kaji Rencana Buyback Saham, Dana Masih Rahasia

SMGR Kaji Rencana Buyback Saham, Dana Masih Rahasia

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:12 WIB

Jas Hujan Ponco vs Setelan, Lebih Baik Pilih yang Mana?

Jas Hujan Ponco vs Setelan, Lebih Baik Pilih yang Mana?

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Skincare yang Paling Dibutuhkan di Usia 50 Tahun ke Atas, Kulit Jadi Awet Muda dan Bebas Kerutan

Skincare yang Paling Dibutuhkan di Usia 50 Tahun ke Atas, Kulit Jadi Awet Muda dan Bebas Kerutan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:10 WIB

×