Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

Siswanto, Deutsche Welle

Jum'at, 13 Mei 2022 | 15:09 WIB
Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit
DW

Suara.com - Persaingan yang muncul antara negara Barat dan negara-negara yang dipimpin oleh Cina menimbulkan tantangan serius bagi sistem internasional yang ada saat ini, kata para ahli.

Beberapa bulan terakhir, negara-negara Barat yang utamanya dipimpin Amerika Serikat (AS) berusaha membentuk front persatuan guna mendukung Ukraina dalam bertahan melawan invasi Rusia.

Saat tengah intens mengoordinasikan upaya untuk menekan Moskow, pemerintah Barat juga mengawasi langkah diplomatik Cina, terutama upaya negara itu dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara otokratis.

Sejak Rusia memulai invasi ke Ukraina pada akhir Februari, negara-negara Barat telah berulang kali memperingatkan Beijing agar tidak memberikan bantuan militer ke Moskow. Minggu ini, pejabat senior AS mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka tidak melihat adanya dukungan "terbuka" dari Cina, baik secara militer dan ekonomi, kepada Rusia.

Meski demikian, pemerintah Cina sejauh ini belum mengutuk tindakan Rusia di Ukraina. Mitra-mitra ideal Beijing Selama dua bulan terakhir, Beijing juga telah menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemerintah militer di Myanmar.

Menjanjikan kerja sama dan pertukaran di semua bidang, sekaligus menjadi tuan rumah pertemuan multinasional untuk membahas krisis kemanusiaan dan ekonomi yang dihadapi Afganistan.

Sejumlah ahli percaya bahwa stabilitas di negara-negara ini adalah kepentingan Beijing karena semua berbagi perbatasan darat dengan Cina. "Ada alasan alami bagi Beijing untuk berusaha merangkul mereka," kata Ian Chong, ilmuwan politik dari National University of Singapore (NUS), Singapura.

Negara-negara ini tampaknya adalah mitra yang lebih ideal untuk Beijing karena kesepakatan yang dibuat dengan negara tersebut cenderung kurang mendapat pengawasan dan pertanyaan.

Menantang tatanan yang dipimpin AS Dengan langkahnya baru-baru ini, Cina mengisyaratkan bahwa mereka memandang tatanan internasional yang dipimpin AS tidak lagi sah, demikian menurut Sari Arho Havren, peneliti tamu di Universitas Helsinki, Finlandia.

baca juga

"Elit Partai Komunis Cina percaya bahwa mereka menawarkan bentuk pemerintahan yang unggul dengan stabilitas dan pembangunan ekonomi, dan baru-baru ini dengan bantuan penanganan COVID-19," ujarnya kepada DW.

"Perkembangan langkah Cina dan tantangannya terhadap Amerika Serikat sebagai negara paling kuat di dunia dapat terasa utamanya di belahan bumi bagian selatan. Karena tidak menerima tatanan internasional saat ini, Cina menantangnya di tempat yang tidak terlalu merugikan dirinya sendiri," tambah Havren.

Bulan lalu dalam acara tahunan Boao Asia Forum, Presiden Cina Xi Jinping mengusulkan "inisiatif keamanan global" yang akan menjunjung prinsip "keamanan tak terpisahkan".

Menurutnya, dunia harus menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua negara, sambil memperhatikan masalah keamanan yang valid bagi semua.

"Kita harus menjunjung tinggi prinsip keamanan tak terpisahkan, membangun arsitektur keamanan yang seimbang, efektif dan berkelanjutan, dan menentang pembangunan keamanan nasional atas dasar ketidakamanan di negara lain," kata Presiden Xi.

Rincian dari inisiatif yang diungkapkan oleh Xi Jinping masih belum jelas. Namun, Ivana Karaskova, pendiri dan pemimpin MapInfluenceEU, sebuah proyek yang memetakan pengaruh Cina dan Rusia di wilayah Eropa Tengah dan Timur, mengatakan bahwa inisiatif tersebut menargetkan negara-negara berkembang.

"Ini ditujukan untuk negara-negara berkembang dengan penekanan pada tahap pembangunan bersama atau pengalaman bersama dalam mengalami sejarah kolonialisme, dan menekankan prinsip-prinsip kedaulatan dan tanpa intervensi."

Pukulan besar bagi organisasi internasional Saat Amerika Serikat dan Cina tengah mencoba mengonsolidasikan hubungan mereka dengan negara-negara dengan nilai-nilai yang sama, muncul kekhawatiran tentang kemungkinan persaingan ini akan menimbulkan tantangan bagi sistem internasional yang tengah berjalan.

"Sekarang kita telah memasuki fase di mana berbagai wilayah geografi telah menyadari ketergantungan strategis dan kritis mereka dan telah mulai, kurang lebih, melindungi pasar terbuka mereka dari perusahaan-perusahaan yang disubsidi negara Cina dan berusaha mendapatkan timbal balik dengan cara mereka sendiri," ujar Havren.

"Dua blok yang muncul ini dan persaingan antara mereka akan menyebar ke semua bidang, termasuk pertahanan, perdagangan, investasi, dan teknologi. Sistem internasional yang ada tengah ditantang oleh koalisi longgar yang dipimpin oleh Cina dan Rusia, sementara demokrasi Barat berusaha mempertahankannya," menurut Havren.

Ia memperkirakan bahwa persaingan ini akan memberikan pukulan besar bagi organisasi internasional karena mereka berisiko menjadi "usang" dan telah menunjukkan ketidakmampuannya dalam memecahkan berbagai masalah penting, termasuk perang Ukraina.

Upaya pertahankan level kerja sama Terlepas dari kesenjangan yang semakin besar di antara kedua kubu, negara-negara Barat masih berharap untuk dapat mempertahankan beberapa tingkat kerja sama dengan Beijing dalam isu-isu tertentu, seperti perubahan iklim.

Namun, itu tidak mudah mengingat persaingan yang berkembang dan rasa ketidakpercayaan yang semakin dalam. John Kerry, utusan khusus kepresidenan AS untuk iklim, baru-baru ini mengatakan bahwa kerja sama iklim antara Washington dan Beijing menjadi "lebih sulit" karena kian tajamnya perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.

"Ini membuat diplomasi lebih rumit," tambah Havren. Ian Chong dari NUS juga berpendapat bahwa upaya untuk membuat Beijing mengatasi perubahan iklim menjadi lebih sulit.

"Semua orang menyadari bahwa setiap negara perlu berbuat sesuatu tentang lingkungan, tetapi masalah siapa yang harus melakukan lebih banyak dan siapa yang melakukan lebih sedikit, serta apakah negara-negara maju bisa mengatur apa yang harus dilakukan negara lain, tampaknya ini akan terus menciptakan ketegangan," ujar Ian Chong. (ae/yf)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 00:09 WIB

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:19 WIB

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 22:45 WIB

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Capai 340 Miliar USD di 2030, UMKM Mulai Ikut Andil

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Capai 340 Miliar USD di 2030, UMKM Mulai Ikut Andil

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 07:35 WIB

IWIP-WBN Perluas Rehabilitasi Mangrove demi Ekosistem Laut Pesisir

IWIP-WBN Perluas Rehabilitasi Mangrove demi Ekosistem Laut Pesisir

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 06:10 WIB

Sebelum Digeledah KPK, Ipda Yayat Ternyata Sudah Diperiksa Propam

Sebelum Digeledah KPK, Ipda Yayat Ternyata Sudah Diperiksa Propam

News | Selasa, 22 September 2026 | 21:58 WIB

Amuk Si Jago Merah di Kebayoran Lama Hanguskan Rumah, 85 Personel Damkar Diturunkan

Amuk Si Jago Merah di Kebayoran Lama Hanguskan Rumah, 85 Personel Damkar Diturunkan

News | Selasa, 22 September 2026 | 21:41 WIB

Wajah Baru Harvest, dari Kue Perayaan hingga Roti dan Pastry untuk Menemani Keseharian

Wajah Baru Harvest, dari Kue Perayaan hingga Roti dan Pastry untuk Menemani Keseharian

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 21:31 WIB

Banjir Bandang Solok, Satu Korban Ditemukan Meninggal Dunia

Banjir Bandang Solok, Satu Korban Ditemukan Meninggal Dunia

News | Selasa, 22 September 2026 | 21:24 WIB

Terkini

Masuk 100 Perusahaan Terbesar Fortune Indonesia, InJourney Raih Fastest Growing by Growth in Profit

Masuk 100 Perusahaan Terbesar Fortune Indonesia, InJourney Raih Fastest Growing by Growth in Profit

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 20:33 WIB

4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering

4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 20:30 WIB

Antrean Solar Sumsel Belum Reda, Kebutuhan 2,8 Juta KL Hanya Dialokasikan 650 Ribu KL

Antrean Solar Sumsel Belum Reda, Kebutuhan 2,8 Juta KL Hanya Dialokasikan 650 Ribu KL

Sumsel | Rabu, 23 September 2026 | 20:21 WIB

Dari Lapangan Bola Sao Paulo ke Dunia Fashion, Havaianas x KidSuper Hadirkan Koleksi Sandal Unik

Dari Lapangan Bola Sao Paulo ke Dunia Fashion, Havaianas x KidSuper Hadirkan Koleksi Sandal Unik

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 20:16 WIB

Pasokan KRL PT INKA Terlambat, Dirut KAI Buka-bukaan di DPR

Pasokan KRL PT INKA Terlambat, Dirut KAI Buka-bukaan di DPR

News | Rabu, 23 September 2026 | 20:15 WIB

Ada Retakan di Rangka Bawah, PT KAI Tarik Kembali 7 Rangkaian KRL Buatan INKA

Ada Retakan di Rangka Bawah, PT KAI Tarik Kembali 7 Rangkaian KRL Buatan INKA

News | Rabu, 23 September 2026 | 20:15 WIB

Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal

Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 20:15 WIB

Pidato Trump di Sidang Umum PBB Menyesatkan: Klaim Akhiri 8 Perang dan Musnahkan 97 Persen Narkoba

Pidato Trump di Sidang Umum PBB Menyesatkan: Klaim Akhiri 8 Perang dan Musnahkan 97 Persen Narkoba

News | Rabu, 23 September 2026 | 20:10 WIB

KPU Sebut Permohonan Denny Indrayana Cs Soal Ijazah Gibran Tak Penuhi Syarat PHPU

KPU Sebut Permohonan Denny Indrayana Cs Soal Ijazah Gibran Tak Penuhi Syarat PHPU

News | Rabu, 23 September 2026 | 20:09 WIB

Bosan dengan Rutinitas? Festival Spesial Ini Ajak Kamu Bahagia Tanpa Perlu Tunggu Momen Besar

Bosan dengan Rutinitas? Festival Spesial Ini Ajak Kamu Bahagia Tanpa Perlu Tunggu Momen Besar

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 20:07 WIB

×