Tiket Taman Komodo Rp3,75 Juta, Pelaku Wisata: Kami Bisa Gulung Tikar

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 20 Juli 2022 | 11:51 WIB
Tiket Taman Komodo Rp3,75 Juta, Pelaku Wisata: Kami Bisa Gulung Tikar
BBC

Suara.com - Rencana pemerintah menaikkan harga tiket masuk Taman Nasional Komodo Rp3,75 juta pada 1 Agustus 2022 disebut akan mengancam ekosistem pariwisata yang menjadi tulang punggung ribuan masyarakat lokal di sana. Tiket tersebut bakal diberlakukan khusus untuk masuk Pulau Komodo dan Pulau Padar.

Baca artikel detikTravel, "Tuai Pro Kontra, Pemerintah Bersikukuh Terapkan Tiket TN Komodo Rp 3,75 Juta" selengkapnya https://travel.detik.com/travel-news/d-6188106/tuai-pro-kontra-pemerintah-bersikukuh-terapkan-tiket-tn-komodo-rp-375-juta.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Ketua Asosiasi Kapal Wisata Labuan Bajo, Ahyar Abadi, mengatakan berbagai kalangan mulai dari pemilik kapal, pemandu wisata, agen wisata, hingga masyarakat lokal akan terdampak negatif. Ujungnya, mereka akan gulung tikar.

Sementara itu, Venan Haryanto, peneliti Sunspirit for Justice and Peace, lembaga non pemerintah yang mengadvokasi warga Labuhan Bajo, menilai kenaikan tarif itu merupakan kedok dari wisata eksklusif berbasis korporasi yang mengatasnamakan konservasi.

Untuk itu, Doni Parera, dari LSM ILMU (Insan Lantang Muda) yang juga memimpin aksi penolakan di depan Kantor Bupati Manggarai Barat, pada Senin (18/07) lalu, menuntut pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga.

Baca juga:

Pengamat pariwisata, Taufan Rahmadi, berharap agar Presiden Joko Widodo mendengar harapan dan seruan dari para pelaku wisata di Labuan Bajo.

Pemerintah, melalui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, mengatakan telah mendengar kekhawatiran masyarakat tersebut dan akan berdiskusi untuk menawarkan perbaikan.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menekankan pentingnya pembatasan kuota pengunjung ke Taman Nasional Komodo demi menjaga kelestarian populasi komodo.

Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi TNK, Carolina Noge, mengatakan tiket masuk sebesar RP3,75 juta per orang per tahun akan digunakan di antaranya untuk konservasi.

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan empat temuannya terkait komodo dan sejauh ini masuknya wisatawan tergolong tidak mengganggu populasi komodo.

Sebelumnya, polemik tarif pariwisata juga terjadi ketika pemerintah mengusulkan peningkatan tiket naik Candi Borobudur menjadi Rp750.000, namun akhirnya keputusan itu ditunda.

'Hitungan hari kami akan gulung tikar'

Terdapat sekitar 400 kapal wisata yang beroperasi di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Mereka beroperasi mengantar turis untuk menikmati keindahan alam Taman Nasional Komodo (TNK), mulai dari melihat komodo, keindahan bawah laut, hingga menginap di atas kapal untuk menyaksikan senja serta kumpulan kelelawar yang keluar mencari makan.

Ketua Asosiasi Kapal Wisata (Askawi) Kabupaten Manggarai Barat, Ahyar Abadi, mengatakan terdapat ribuan masyarakat yang mengantungkan diri pada pariwisata tersebut, mulai dari pemilik kapal, pemandu, agen wisata hingga masyarakat lokal yang menjual cendera mata dan makanan.

Namun ekosistem pariwisata yang baru saja bangkit akibat dihantam pandemi Covid-19 itu kini kembali harus menghadapi tekanan, yaitu rencana tarif sebesar Rp3,75 juta bagi setiap turis yang ingin melihat komodo di Pulau Komodo dan Pulau Padar.

"Jika tarif itu diterapkan, dalam hitungan hari saja, kami akan gulung tikar, karena hanya yang berduit, menggunakan kapal super bagus, mewah dan dalam jumlah sedikit saja yang akan datang," kata Ahyar kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, Selasa (19/07).

Ahyar yang meminta aturan itu dicabut menambahkan, kapal hingga masyarakat lokal akan kehilangan pengunjung, dan mati perlahan.

Bahkan, sebelum aturan itu diberlakukan, Ahyar menyebut, telah banyak pesanan wisata kapal di Agustus yang dibatalkan.

Biaya masuk Taman Nasional Komodo, sebelum rencana kenaikan, berkisar Rp200.000 per orang.

Untuk menginap tiga hari dua malam di atas kapal, biayanya berkisar dari Rp2,5 juta hingga puluhan juta rupiah tergantung fasilitas yang diinginkan.

'Bentuk baru pengusiran' dan investasi berkedok konservasi

Pada Senin (18/07), masyarakat dan pelaku wisata di Labuan Bajo melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Manggarai Barat dan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK).

"Kami meminta kenaikan harga dibatalkan karena itu mencekik, tidak masuk akal, dan akal-akalan," kata Doni Parera selaku pemimpin demonstrasi.

Doni membaca aturan tersebut sebagai cara baru untuk memuluskan rencana lama, yaitu memindahkan warga dari Pulau Komodo dan menciptakan wisata eksklusif yang dikuasai korporasi, tidak berbasis komunitas lokal.

"Ini cara baru mengusir kami setelah upaya tahun 2019 lalu gagal karena mendapat penentangan luas. Kami meminta aturan dibatalkan, lalu kita bicara, kaji bersama. Kami masyarakat harus dilibatkan dan didengar," ujar Doni.

Senada, peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace, Venan Haryanto melihat tarif itu merupakan upaya dari rencana besar menjadikan TNK menjadi destinasi wisata eksklusif berbasis korporasi, bukan komunitas masyarakat.

"Ini praktik monopoli bisnis karena menguasai hulu sampai hilir dengan pengelola tunggal yang ditopang korporasi, investasi berkedok konservasi."

"Akibatnya, menyingkirkan warga dan merusak lingkungan dengan pembangunan besar-besaran demi wisata eksklusif. Ini tidak ada hubungan dengan konservasi," katanya.

Saat ini terdapat tiga perusahaan yang mendapatkan izin konsesi, yaitu PT Sagara Komodo Lestari di Pulau Rinca (22,1 hektare), PT Komodo Wildlife Ecotourism di Pulau Padar (274,13 hektare) dan Pulau Komodo (151,94 hektare), serta PT Synergindo Niagatama di Pulau Tatawa (15,32 hektare).

"Kalau bicara konservasi, harusnya izin ratusan hektare itu dicabut dan buat cara sederhana yang mendorong warga menjadi bagian dalam konservasi, bukan dengan menaikkan tarif dan memberi izin korporasi," ujar Venan.

'Presiden Jokowi, dengarkan jeritaan pelaku wisata'

Pengamat pariwisata Taufan Rahmadi meminta Presiden Joko Widodo menyerap aspirasi masyarakat lokal yang menolak kenaikan tarif tersebut.

"Saya berharap agar Bapak Presiden Jokowi mendengar harapan dan jeritan para pelaku pariwisata yang baru saja semangat dan bangkit akibat Covid, tapi pupus karena kebijakan ini," kata Taufan.

Menurut Taufan, solusi yang tepat di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo adalah bukan dengan sekedar menaikan tarif, tapi menciptakan lingkungan pariwisata berbasis komunitas dengan memberikan program konservasi, edukasi, dan penguatan aturan.

"Itu [tarif] bukan solusi, kita tidak berkaca dari polemik yang terjadi di Borobudur, ketika dinaikan tarifnya atas nama konservasi, teriak semua, ini kan polanya mirip, tidak ada sosialisasi."

"Pemerintah harus lebih kreatif, lebih ulet, lebih mau turun dalam mencari solusi, bukan hanya berbicara di atas kertas, ajak duduk bersama pelaku industri, komunitas di sana, masyarakat desa wisata. Jadi jangan kebijakan diambil secara instan dan berbicara di tatanan elit," katanya.

Menparekraf akan berdiskusi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan telah mendengar banyak aspirasi dan kekhawatiran dari beragam pihak mengenai rencana kenaikan tarif tersebut.

"Ini masih sedang kita finalkan. Rencanannya sakan akan ke Labuan Bajo untuk berdiskusi karena betul banyak yang menyampaikan aspirasi, banyak yang menyampaikan kekhawatiran. Ini yang harus kita dengarkan secara komperhensif dan menawarkan beberapa harapan untuk perbaikan di masa mendatang," kata Sandiaga Uno dalam Weekly Press Briefing (WPB) Kemenparekraf pada Senin (18/07).

Sandiaga menambahkan, aspek konservasi akan menjadi prioritas secara lebih dari aspek komersialiasasi dalam pengelolaan.

"Dan juga aspek dari segi pemberdayaan masyarakat setempat dan membuka peluang ekonomi berkearifan lokal, ini juga yang akan kita dorong dalam konsep pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," katanya.

Baca juga:

Terkait dengan keluhan masyarakat lokal akan potensi penguasaan oleh korporasi terhadap pariwisata di TNK, Sandiaga mengatakan, izin konsensi berada di luar kewenangan kementeriannya.

Senada, Plt Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Fransiskus Xaverius Teguh menambahkan, dinamika yang terjadi di Labuan Bajo akan dijadikan bahan evaluasi guna peningkatan kualitas pelayanan serta tata kelola destinasi pariwisata.

"Kita mencermati secara serius dinamika yang terjadi, tapi yang jelas, kita mengutamakan pilihan-pilihan yang tentu pertama kelestarian lingkungan, juga untuk masyarakat, dan juga wisata," kata Teguh.

Empat fokus konservasi

Sebelumnya, Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi di TN Komodo Carolina Noge mengatakan, tiket masuk sebesar Rp3,75 juta itu akan mengakomodir beragam kegiatan pariwisata.

Angka itu didapatkan dari hasil kajian sejumlah tim ahli bahwa biaya konservasi yang harus dibayarkan di kisaran Rp2,8 juta hingga Rp5,8 juta, dengan jumlah kunjungan 219.000 sampai 292.000 orang.

Carolina menambahkan, biaya tersebut nanti akan dialokasikan untuk jasa konservasi yang berfokus pada empat hal, yaitu penguatan kelembagaan dengan semakin banyak kajian ilmiah, pengamanan dan pengawasan, pemberdayaan masyarakat, serta pemberdayaan wisata alam TNK.

Dalam siaran pers Juni lalu, Wakil Menteri LHK Alue Dohong mengatakan perlu dilakukan pengaturan pembatasan jumlah pengunjung untuk meminimalisir dampak negatif dari kegiatan wisata alam terhadap kelestarian komodo.

Berdasarkan kajian Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK melalui BTNK, jumlah turis ideal per tahun di Pulau Komodo berjumlah 219.000 orang dan Pulau Padar 39.420 jiwa atau sekitar 100 orang per waktu kunjungan.

Empat temuan peneliti

Pengajar studi amfibi dan reptil dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang pernah melakukan penelitian terhadap komodo, Mirza Kusrini, mengatakan terdapat empat temuan terkait ekosistem dan kondisi biawak tersebut.

Pertama, terjadi perubahan perilaku komodo ketika berinteraksi dengan manusia. Komodo cenderung lebih tenang dan 'jinak' saat intens bertemu dengan manusia, sebaliknya, komodo terlihat lebih agresif atau buas jika jarang berinteraksi.

Kedua, kondisi populasi dan habitat komodo berada dalam kondisi yang masih terjaga. Data KLHK, jumlah Komodo pada 2018 sebanyak 2.897 individu dan pada tahun 2019 bertambah menjadi 3.022 individu atau bertambah 125 individu.

Konsentrasi populasi mereka berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, hanya sebanyak tujuh individu di Pulau Padar, 69 di Gili Motang, dan 91 di Nusa Kode.

Ketiga, terdapat ancaman terhadap komodo yang berasal dari masuknya spesies lain, seperti kodok buduk, dan juga persepsi masyarakat yang cukup rendah terhadap konservasi di sana.

Keempat, terdapat komodo di luar taman nasional yang kurang mendapatkan perhatian sehingga memiliki potensi ancaman yang besar.

Populasi biawak komodo di kawasan TNK berada di lima pulau utama, yaitu di Pulau Komodo, Rinca, Padar, Nusa Kode (Gili Dasami) dan Gili Motang.

Sementara di Pulau Flores tercatat biawak komodo dapat ditemukan di empat kawasan konservasi, yaitu Cagar Alam Wae Wuul, Wolo Tado, Riung, dan di Taman Wisata Alam Tujuh Belas Pulau, tepatnya di Pulau Ontoloe.

Terkait dengan wacana kenaikan tarif untuk kepentingan konservasi, Mirza menyebut itu sebagai langkah yang bagus.

Namun yang perlu ditekankan, katanya, adalah kejelasan atas perhitungan dan pembagian dana tersebut untuk kebutuhan konservasi demi keberlangsungan komodo dan habitat mereka di masa mendatang, serta keberlangsungan masyarakat lokal di sana.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bansos Macet & Urban Farming Mati Suri, DPRD DKI Jakarta: Sistem Distribusi Pangan Harus Dirombak

Bansos Macet & Urban Farming Mati Suri, DPRD DKI Jakarta: Sistem Distribusi Pangan Harus Dirombak

News | Selasa, 07 April 2026 | 09:00 WIB

5 Rekomendasi Smart TV 43 Inci 4K Termurah, Visual Jernih dan Hemat Listrik

5 Rekomendasi Smart TV 43 Inci 4K Termurah, Visual Jernih dan Hemat Listrik

Tekno | Selasa, 07 April 2026 | 08:36 WIB

DPR Usul Pembelian Gas 3 Kg Pakai Sidik Jari atau Retina, Ini Tujuannya

DPR Usul Pembelian Gas 3 Kg Pakai Sidik Jari atau Retina, Ini Tujuannya

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 08:35 WIB

Sempat Diadang Warga Lenteng Agung, TNI AD: Itu Penertiban Aset Negara, Bukan Sengketa Lahan

Sempat Diadang Warga Lenteng Agung, TNI AD: Itu Penertiban Aset Negara, Bukan Sengketa Lahan

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:35 WIB

Trump Ancam Hancurkan Iran, Tak Peduli Hukum Internasional Dilanggar

Trump Ancam Hancurkan Iran, Tak Peduli Hukum Internasional Dilanggar

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:29 WIB

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:27 WIB

Menghidupkan Kembali Pasar Tradisional di Tengah Gemerlapnya Belanja Online

Menghidupkan Kembali Pasar Tradisional di Tengah Gemerlapnya Belanja Online

Your Say | Selasa, 07 April 2026 | 08:24 WIB

7 Mobil Listrik Paling Ideal untuk Keluarga: Kabin Lega, Mesinnya Juara

7 Mobil Listrik Paling Ideal untuk Keluarga: Kabin Lega, Mesinnya Juara

Otomotif | Selasa, 07 April 2026 | 08:21 WIB

Di Tengah Perang Iran, Ucapan Kontroversial Donald Trump Berpotensi Bikin Marah Vladimir Putin

Di Tengah Perang Iran, Ucapan Kontroversial Donald Trump Berpotensi Bikin Marah Vladimir Putin

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:16 WIB

IHSG Anjlok di Bawah Level 7.000, Mampukah Rebound Hari Ini?

IHSG Anjlok di Bawah Level 7.000, Mampukah Rebound Hari Ini?

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 08:12 WIB

Terkini

Bansos Macet & Urban Farming Mati Suri, DPRD DKI Jakarta: Sistem Distribusi Pangan Harus Dirombak

Bansos Macet & Urban Farming Mati Suri, DPRD DKI Jakarta: Sistem Distribusi Pangan Harus Dirombak

News | Selasa, 07 April 2026 | 09:00 WIB

Sempat Diadang Warga Lenteng Agung, TNI AD: Itu Penertiban Aset Negara, Bukan Sengketa Lahan

Sempat Diadang Warga Lenteng Agung, TNI AD: Itu Penertiban Aset Negara, Bukan Sengketa Lahan

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:35 WIB

Trump Ancam Hancurkan Iran, Tak Peduli Hukum Internasional Dilanggar

Trump Ancam Hancurkan Iran, Tak Peduli Hukum Internasional Dilanggar

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:29 WIB

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

Kasatgas Tito: Pemulihan Pascabencana Sumatera Capai Kemajuan Signifikan, Huntap Jadi Prioritas

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:27 WIB

Di Tengah Perang Iran, Ucapan Kontroversial Donald Trump Berpotensi Bikin Marah Vladimir Putin

Di Tengah Perang Iran, Ucapan Kontroversial Donald Trump Berpotensi Bikin Marah Vladimir Putin

News | Selasa, 07 April 2026 | 08:16 WIB

Bareskrim Ungkap Peran Vital The Doctor: Penyuplai Narkoba Ko Erwin dan White Rabbit Jakarta!

Bareskrim Ungkap Peran Vital The Doctor: Penyuplai Narkoba Ko Erwin dan White Rabbit Jakarta!

News | Selasa, 07 April 2026 | 07:58 WIB

Belum Kering Luka Serangan Drone Iran, Tentara Amerika Sudah Diminta Kerja Lagi!

Belum Kering Luka Serangan Drone Iran, Tentara Amerika Sudah Diminta Kerja Lagi!

News | Selasa, 07 April 2026 | 07:55 WIB

Bukan Gertak Sambal, Iran Rudal Kawasan Industri Al Jubail Sehari Setelah Diancam Trump

Bukan Gertak Sambal, Iran Rudal Kawasan Industri Al Jubail Sehari Setelah Diancam Trump

News | Selasa, 07 April 2026 | 07:44 WIB

10 Rudal Iran Meluncur ke Israel, Salah Satunya Hulu Ledak Fragmentasi

10 Rudal Iran Meluncur ke Israel, Salah Satunya Hulu Ledak Fragmentasi

News | Selasa, 07 April 2026 | 07:36 WIB

AI China Disebut Bantu Iran Menargetkan Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timur Tengah

AI China Disebut Bantu Iran Menargetkan Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timur Tengah

News | Selasa, 07 April 2026 | 07:23 WIB