- Survei SNLIK 2025 menunjukkan kesenjangan literasi keuangan di Indonesia melebar menjadi 14,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
- Mayoritas masyarakat Indonesia masih merasa khawatir terkait kondisi finansialnya meski akses terhadap layanan keuangan terus meningkat pesat.
- FWD Insurance meluncurkan Asuransi Jiwa FWD Income Prosperity guna membantu masyarakat merencanakan keuangan masa depan secara terstruktur.
Suara.com - Akses masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan terus meningkat, mulai dari perbankan digital, investasi, hingga asuransi. Namun di balik pertumbuhan tersebut, pemahaman masyarakat terhadap cara mengelola keuangan dan merencanakan masa depan ternyata belum berkembang secepat akses yang tersedia.
Hal itu tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan gap antara inklusi keuangan dan literasi keuangan melebar menjadi 14,05%, dibandingkan 9,59% pada 2024. Kondisi ini menandakan bahwa semakin banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya benar-benar memahami manfaat, risiko, dan strategi perencanaan finansial jangka panjang.
Fenomena tersebut juga terlihat dari hasil FWD Consumer Outlook Survey di Indonesia yang dilakukan FWD Group dan Ipsos. Survei itu menunjukkan 66% responden masih merasa stres, khawatir, atau sekadar bertahan secara finansial. Sementara hanya 34% yang merasa cukup aman dan percaya diri terhadap kondisi keuangannya.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat mulai mencari produk keuangan yang bukan hanya mudah diakses, tetapi juga lebih sederhana dipahami dan mampu membantu perencanaan masa depan secara lebih terarah.
Melihat kebutuhan itu, PT FWD Insurance Indonesia (FWD Insurance) meluncurkan Asuransi Jiwa FWD Income Prosperity, produk perlindungan yang menggabungkan manfaat proteksi jiwa dengan manfaat tunai tahunan terencana.
Direktur Utama FWD Insurance, Jeffrey Woo, mengatakan saat ini kebutuhan masyarakat terhadap asuransi berkembang. Tidak hanya untuk perlindungan risiko, tetapi juga untuk membantu menjaga rasa aman secara finansial.
“Kami memahami bahwa di tengah berbagai perubahan yang terjadi saat ini, banyak masyarakat ingin memiliki masa depan yang lebih tenang dan terarah. Karena itu, kebutuhan akan perlindungan kini tidak hanya soal berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga menghadirkan manfaat tunai yang terstruktur serta kepastian dalam perencanaan keuangan,” ujar Jeffrey.
Menurutnya, produk dengan manfaat yang jelas dan mudah dipahami menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perencanaan finansial jangka panjang.

Public figure Agatha Suci menilai produk perlindungan dengan manfaat yang lebih terstruktur membantu masyarakat, khususnya keluarga muda, dalam merencanakan keuangan dengan lebih tenang.
“Merencanakan perlindungan bagi keluarga terasa lebih mudah dengan adanya produk asuransi jiwa yang memiliki manfaat yang terstruktur. Ini membantu saya untuk lebih fokus pada keluarga,” kata Agatha.
Jeffrey kemudian menambahkan, bahwa ia percaya bahwa dengan solusi yang tepat, masyarakat dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan percaya diri.