Suara.com - Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono menyebut kalau inovasi menjadi sebuah keharusan untuk mencapai ketahanan serta kedaulatan pangan. Ia lantas mengajak seluruh pihak untuk terus mendorong manfaat dari inovasi yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melahirkan alternatif pangan.
Hal tersebut disampaikan Diaz saat melakukan pertemuan dengan Rektor IPB University, Arif Satria di Rektorat Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Kamis (8/9/2022).
"Luar biasa, semua hasil riset yang ditunjukkan merupakan sebagian kecil dari puncak kontribusi IPB University dalam kaitan dengan peningkatan efisiensi, efektifitas, maupun berbagai terobosan terkait alternatif pangan," kata Diaz.
"Ini telah sejalan dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo dan kita semua wajib untuk terus mendorong kebermanfaatannya secara luas di masyarakat. riset dan industri harus saling menguatkan," sambungnya.
Pada kesempatan yang sama, Diaz juga menyampaikan pentingnya inovasi terkait alternatif protein untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagai pengganti protein hewan ternak sapi dan kambing, yang memerlukan lahan yang luas, air bersih dan daya dukung alam yang besar. Menurutnya, inovasi yang dilakukan harus bisa menjawab tantangan tersebut.
Semisal saja terkait luasan lahan yang semakin terbatas, air yang layak konsumsi hanya tersedia sekitar 3 persen dan akan semakin menyusut karena pencemaran serta daya dukung bumi yang terus menurun.
"Di mana kita akan berladang, beternak dan tinggal, dengan berbagai keterbatasan tersebut, dan jumlah manusia yang semakin bertambah? Jangan sampai manusia berkompetisi dengan ternak, misalnya. Bagaimana dengan opsi pemanfaatan sumber protein alternatif lain, seperti crickets (jangkrik) atau algae (ganggang)?," tanyanya.
Menanggapi pertanyaan Diaz, Arif menegaskan kalau future food telah menjadi salah satu fokus riset di IPB University.
"Sebagaimana fokus dari berbagai riset yang lain, kami terus berkolaborasi dan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan, misalnya BRIN. Tujuannya agar lebih jelas, siapa fokus di bidang apa. Sehingga tidak terjadi duplikasi riset", tutur Arif.