Fenomena Unik La Nina Tiga Tahun Beruntun, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Siswanto, BBC

Rabu, 14 September 2022 | 13:28 WIB
Fenomena Unik La Nina Tiga Tahun Beruntun, Apa Dampaknya ke Indonesia?
BBC

Suara.com - Badan Meteorologi Australia (BOM) mengumumkan fenomena cuaca La Nina telah terbentuk di Samudra Pasifik selama tiga tahun berturut-turut.

Hal ini menurut pejabat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) adalah kejadian yang cukup unik.

Sebab dari catatan indikator La Nina yang diterbitkan lembaga pemerintah Amerika Serikat yang meneliti iklim dan kelautan (NOAA) dari 1950-an, hanya dua kejadian La Nina yang pernah berlangsung sampai tahun ketiga.

Fenomena yang disebut ‘Triple-dip’ La Niña itu sebelumnya pernah terjadi dari 1973 -1975 serta 1998-2001.

"Sungguh luar biasa La Niña terjadi tiga tahun berturut-turut," kata Sekretaris Jenderal Badan Meteorologi Dunia (WMO) Petteri Taalas

Menurut BMKG, La Nina akan bertahan hingga akhir 2022, menyebabkan sebagian wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan lebih awal.

Apa itu La Nina?

La Nina adalah peristiwa alam yang mengakibatkan Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Untuk Australia, perubahan curah hujan terjadi di bagian timur, utara, dan tengah, sementara untuk Indonesia, kebanyakan terjadi di wilayah selatan garis khatulistiwa.

baca juga

Pelaksana Tugas Harian (Plh) Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Supari, mengatakan La Nina tidak menyebabkan bencana yang sifatnya tunggal. 

Dia mengamini bahwa La Nina menyebabkan akumulasi curah hujan bulanan meningkat, tapi tidak terkait langsung dengan peristiwa yang sifatnya tunggal dan harian. La Nina, sambungnya, menciptakan kondisi yang memungkinkan suatu peristiwa terjadi atau memperbesar peluang event itu untuk terjadi.  

“Kita tidak bisa mengaitkan secara langsung apabila ada banjir, banjir ini disebabkan La Nina,” jelas dalam kanal BMKG di YouTube.

Pola cuaca La Nina adalah salah satu dari tiga fase El Niño Southern Oscillation (ENSO). Ini mengacu pada suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik dan dapat beralih antara fase hangat yang disebut El Niño, fase yang lebih dingin dengan sebutan La Niña, dan fase netral.

Peralihan fase itu umumnya memakan waktu sekitar tiga hingga tujuh tahun, tetapi sekarang ini adalah tahun ketiga fase La Nina terjadi berturut-turut dan pertama kalinya dalam abad ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pelaksana Tugas Harian (Plh) Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Supari, menjelaskan fenomena La Niña membawa dampak peningkatan curah hujan di banyak tempat di Indonesia, meski sebenarnya dampak La Nina tidak pernah sama karena dipengaruhi faktor lainnya.

"La Nina tahun 2020 membawa dampak peningkatan curah hujan di banyak tempat, terutama di wilayah tengah dan timur. Kami sedang menginventarisir kembali tahun 2021, dan 2022 dampaknya seperti apa. Tapi memang sejauh ini sepanjang Mei, Juni, Juli, itu kita mengalami kondisi hujan di atas normal," jelas Supari.

Kondisi atas normal yang dimaksud, kata Supari, mencakup hampir 50% wilayah Indonesia.

"Sehingga kita bisa mengatakan sebagian besar wilayah kita mengalami hujan di atas normal," ujar dia.

Supari menambahkan, daerah yang paling banyak mengalami peningkatan curah hujan adalah daerah di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi dan Papua bagian selatan.

Baca juga:

Perubahan iklim: 2022 disebut tahun panas dan kekeringan - BBC News Indonesia

La Nina mengancam Indonesia, berpotensi sebabkan banjir dan ‘ancam ketahanan pangan’ - BBC News Indonesia

Banjir Australia: Yang terbesar dalam 50 tahun terakhir, 18.000 orang mengungsi, ahli peringatkan 'ledakan hujan dan badai' - BBC News Indonesia

BMKG mencatat La Nina tahun ini berbeda dengan 2021 lalu. Tahun lalu, musim kemarau yang terjadi di Indonesia cukup basah, tapi tahun ini lebih basah lagi.

"Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, kalau kemarau itu, biasanya bulan Juli-Agustus, curah hujan tidak sampai 50 milimeter, sangat rendah, lalu tahun ini kondisinya curah hujannya jadi 100 milimeter. Hujannya lebih banyak dibandingkan tahun lalu, atau tahun-tahun normalnya," kata Supari.

BMKG mengkategorikan musim kemarau bukan musim tanpa hujan, melainkan musim kering dengan curah hujan bulanan kurang dari 150 milimeter. Artinya, ketika kalau curah hujan di suatu daerah 100 milimeter, itu masih dikategorikan sebagai musim kemarau.

La Nina menyebabkan musim kemarau tahun ini datang lebih lambat. Sebagian zona musim yang seharusnya sudah memasuki bulan-bulan musim kemarau, ternyata masih mengalami musim hujan.

"Karena awal musim kemaraunya itu sudah mundur, lalu musim hujannya kita prakirakan maju, maka nanti kemungkinan besar, sebagian besar memang durasi musim kemaraunya lebih pendek. Yang belum masuk musim penghujan pun, diduga nanti akan mengalami musim kemarau yang lebih pendek," ujar Supari.

Sampai akhir Agustus analisis BMKG menunjukkan 78% dari zona musim di Indonesia sedang mengalami musim kemarau, sementara 22% lagi mengalami musim hujan.

Sebagian dari 22% wilayah yang sedang mengalami musim hujan diidentifikasi tidak mengalami musim kemarau karena musim hujannya yang bersambung dengan musim hujan sebelumnya.

Kondisi seperti itu terjadi di Sumatera bagian tengah, sebagian di Kalimantan Barat, dan sebagian Kalimantan Tengah.

Dalam situsnya, BMKG menyebutkan terdapat peringatan dini curah hujan tinggi pada klasifikasi Siaga hingga Waspada untuk wilayah kabupaten di Provinsi Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku , dan Papua Barat.  

Kemudian terdapat peringatan dini kekeringan meteorologis pada klasifikasi Awas hingga Waspada untuk wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Di daerah mana saja curah hujan diperkirakan tinggi?

Prakiraan Curah Hujan Atas 300 mm/bulan untuk Bulan Oktober 2022- Maret 2023 :

  • Oktober - November 2022 curah hujan > 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian kecil Sumatera Barat, sebagian Bengkulu, sebagian kecil Bangka Belitung, sebagian Lampung, sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian kecil Kalimantan Utara, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.
  • Desember 2022 curah hujan > 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian Sumatera Barat, sebagian Jambi, sebagian Bengkulu, sebagian Sumatera Selatan, BaBel,sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian NTT, sebagian pulau Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur dan Utara, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Papua.
  • Januari 2023 curah hujan > 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah sebagian DI Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimatnan Timur, sebagian kecil Kalimantan Utara, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian sebagian Papua.
  • Februari 2023 curah hujan > 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah sebagian DI Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Papua.
  • Maret 2023 curah hujan > 300 mm/bulan berpeluang tinggi terjadi di sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah sebagian DI Yogyakarta, sebagian Pulau Kalimantan, dan sebagian Papua.

Mengapa dampak La Nina berbeda-beda?

Berdasarkan penjelasan Supari, dampak La Nina di Indonesia "tidak pernah sama persis" karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Pertama, La Nina terjadi ketika ada penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang begitu luas. Pola penyimpangannya itu, kata Supari, tidak pernah sama persis.

Kedua, dampak La Nina terhadap musim hujan di Indonesia itu juga dipengaruhi faktor lain, seperti angin monsun Australia dan monsun Asia.

"Kalau pada saat monson Asia, dampaknya beda dengan monsun Australia. Sehingga dampaknya tidak pernah sama," jelas Supari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Waspada Hujan Lebat Imbas Bibit Siklon 97 W

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Waspada Hujan Lebat Imbas Bibit Siklon 97 W

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 06:46 WIB

Warga Jakarta Kini Bisa Intip Prediksi Polusi 3 Hari ke Depan Lewat Aplikasi JAKI

Warga Jakarta Kini Bisa Intip Prediksi Polusi 3 Hari ke Depan Lewat Aplikasi JAKI

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 11:04 WIB

Mendagri Minta Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Dampak El Nino

Mendagri Minta Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Dampak El Nino

News | Senin, 29 Juni 2026 | 17:10 WIB

Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?

Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 15:20 WIB

Jepang Diguncang Gempa Dahsyat M 6,8, Apakah Berdampak ke Indonesia? Ini Kata BMKG

Jepang Diguncang Gempa Dahsyat M 6,8, Apakah Berdampak ke Indonesia? Ini Kata BMKG

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:42 WIB

Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siap-siap Hujan di Wilayah Selatan dan Timur

Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Siap-siap Hujan di Wilayah Selatan dan Timur

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 07:19 WIB

Prakiraan Cuaca di Kota-kota Besar Hari Ini: Bandung dan Bandar Lampung Hujan Lebat

Prakiraan Cuaca di Kota-kota Besar Hari Ini: Bandung dan Bandar Lampung Hujan Lebat

News | Senin, 22 Juni 2026 | 07:46 WIB

BMKG Prediksi Jakarta Kian Gerah pada September-Oktober Akibat Musim Kemarau dan El Nino

BMKG Prediksi Jakarta Kian Gerah pada September-Oktober Akibat Musim Kemarau dan El Nino

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:12 WIB

9 Wilayah Indonesia Terkena Tsunami Kecil Usai Gempa M7.7 di Filipina, Gempa Trending

9 Wilayah Indonesia Terkena Tsunami Kecil Usai Gempa M7.7 di Filipina, Gempa Trending

Tekno | Senin, 08 Juni 2026 | 12:58 WIB

Tsunami Filipina Terjang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Tsunami Filipina Terjang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

News | Senin, 08 Juni 2026 | 09:00 WIB

Terkini

Ada Pihak Coba Adu Domba? Kapolri di Mabes TNI: Silakan Langsung Berkomunikasi, Kami Terbuka!

Ada Pihak Coba Adu Domba? Kapolri di Mabes TNI: Silakan Langsung Berkomunikasi, Kami Terbuka!

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:54 WIB

Perancang Masjid Istiqlal hingga Monas Friedrich Silaban Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Perancang Masjid Istiqlal hingga Monas Friedrich Silaban Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:41 WIB

Macet 850 Meter! Pembetonan Jalan Kebon Sirih 'Caplok' Dua Lajur Hingga September

Macet 850 Meter! Pembetonan Jalan Kebon Sirih 'Caplok' Dua Lajur Hingga September

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:39 WIB

Detik-detik Mahasiswa Hadang Mobil Berpelat Dinas Kejaksaan, Tuntut Transparansi Kasus Eks Jampidsus

Detik-detik Mahasiswa Hadang Mobil Berpelat Dinas Kejaksaan, Tuntut Transparansi Kasus Eks Jampidsus

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:24 WIB

Jangan Pilih Kasih! Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Jangan Pilih Kasih! Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:21 WIB

Derita Berlipat Ibu Korban Little Aresha: Berjuang Sembuhkan Trauma Anak Sekaligus Diri Sendiri

Derita Berlipat Ibu Korban Little Aresha: Berjuang Sembuhkan Trauma Anak Sekaligus Diri Sendiri

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:08 WIB

Pramono Anung Minta Ancaman Teror Bom di Srengseng Sawah Didalami, Sekolah Harus Tetap Jalan

Pramono Anung Minta Ancaman Teror Bom di Srengseng Sawah Didalami, Sekolah Harus Tetap Jalan

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:03 WIB

Tertangkap! Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Warga Sekitar

Tertangkap! Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Warga Sekitar

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:02 WIB

Konflik Polri-Kejagung Memanas, Benny K Harman Desak DPR Gulirkan Hak Angket

Konflik Polri-Kejagung Memanas, Benny K Harman Desak DPR Gulirkan Hak Angket

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:01 WIB

Tampang Lesu Sopir Angkot Bekasi yang Viral Ngamuk di Jalan Resmi Tersangka, Ini Motifnya

Tampang Lesu Sopir Angkot Bekasi yang Viral Ngamuk di Jalan Resmi Tersangka, Ini Motifnya

News | Senin, 13 Juli 2026 | 16:00 WIB

×