Kenapa Kasus Kematian di Kalideres Menarik Perhatian hingga Picu Spekulasi?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 16 November 2022 | 11:33 WIB
Kenapa Kasus Kematian di Kalideres Menarik Perhatian hingga Picu Spekulasi?
BBC

Suara.com - Kasus kematian empat orang dalam satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat, yang belum terungkap telah “memberi ruang” bagi beragam spekulasi liar publik yang belum bisa dibuktikan, kata kriminolog dan pengamat media.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Joasis Simon, mengatakan polisi perlu segera mengungkap kasus ini secara transparan, sebab spekulasi liar yang bermunculan itu dianggap "tidak adil" bagi korban dan keluarganya.

Menurut Joasis, kasus ini mulanya begitu menarik perhatian publik karena sempat muncul narasi "kelaparan" sehingga mengagetkan publik.

“Kasusnya memang bisa dibilang cukup unik untuk mendapat perhatian yang cukup besar, karena ada unsur ‘kelaparan’ itu, masa di zaman sekarang masih ada yang mati kelaparan? Itu yang membuat orang-orang kaget,” kata Joasis kepada BBC News Indonesia.

Namun seiring berkembangnya temuan-temuan polisi, lalu ditambah keterangan keluarga korban yang meragukan "kelaparan" sebagai pemicunya, muncul ruang kosong yang menyisakan misteri.

Ruang kosong itulah, yang kata pengamat media dari Universitas Gadjah Mada, Wisnu Prasetya, menjadi "sumber konspirasi" yang belum dapat dibuktikan.

Menurut Wisnu, spekulasi-spekulasi liar itu banyak muncul di media sosial.

Mulai dari mengaitkan kasus ini dengan sekte tertentu sampai menyandingkannya dengan kasus kematian Burari di India.

"Spekulasi-spekulasi itu hanya bisa diungkap dengan penyidikan polisi yang transparan dan akuntabel. Meskipun tidak akan menghilangkan spekulasinya sama sekali, tapi setidaknya meminimalisir," kata Wisnu.

Wisnu juga mengingatkan media-media arus utama untuk “tidak terjebak dalam spekulasi” itu dalam memberitakan peristiwa ini.

Baca juga:

Empat mayat dalam satu keluarga ini ditemukan di salah satu rumah di Perumahan Citra Garden 1, Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis (10/11).

Penemuan itu bermula dari bau busuk yang dicium oleh warga sejak sepekan sebelumnya, yang tertuju pada rumah korban.

Setelah tidak ada sautan dari korban, warga pun mendobrak rumah itu dan menemukan empat mayat tersebut.

Penyidikan polisi kemudian mengungkap bahwa keempat korban ditemukan dalam waktu dan ruangan yang berbeda.

Keempat korban itu bernama Rudyanto Gunawan, 71, kemudian istrinya bernama K. Margaretha Gunawan, 68, anak perempuannya bernama Dian, 40, serta seorang ipar dari Rudyanto yang bernama Budyanto Gunawan, 69.

Apa saja temuan polisi?

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengaku telah menemukan "titik terang" dalam penyidikan kasus ini, meski belum membeberkannya lebih lanjut.

"Tim gabungan Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Barat memperoleh perkembangan yang signifikan dalam penyelidikan berdasarkan metode penyelidikan induktif maupun deduktif," kata Hengki kepada Detik.com pada Selasa (15/11).

Secara terpisah, Ketua Harian Kompolnas Irjen (Purn) Benny Mamoto juga mengatakan bahwa ditemukan beberapa buku berisi ajaran sejumlah agama di rumah keluarga tersebut.

"Melihat adanya hal-hal yang tidak biasa, seperti korban menutup diri dari keluarga, menggunakan alas kaki ditutup plastik, tidak mau ada listrik dan tidak ada makanan di TKP, maka temuan buku-buku menjadi penting untuk didalami," kata Benny.

Namun untuk memastikan apakah temuan-temuan itu terkait dengan kematian mereka, Benny menuturkan penyidik masih akan menunggu pemeriksaan dan pembuktian lebih lanjut.

Masih kepada Detik.com pada Selasa, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya juga mengatakan bahwa penyebab kematian keempat orang ini "bukan karena kelaparan".

Pekan lalu, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pasma Royce mengatakan bahwa hasil autopsi terhadap empat jenazah itu menunjukkan "tidak ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan".

Selain itu, pemeriksaan juga menunjukkan bahwa “dari lambung mayat-mayat itu tidak ada makanan”.

“Jadi bisa diduga berdasarkan dari pemeriksaan dari dokter bahwa mayat ini tidak ada makan dan minum cukup lama, karena ditemukan dari otot-otot sudah mengecil,” kata Pasma kepada wartawan pada Jumat (11/11).

Keempat mayat itu diduga mengalami dehidrasi, sehingga ditemukan dalam kondisi “mengering”.

Belakangan, polisi mengatakan menemukan bungkus makanan di rumah tempat kejadian perkara.

Ada pula temuan struk belanja di salah satu supermarket. Polisi masih menyelidiki dugaan-dugaan yang muncul terkait temuan itu.

Mengapa kasus ini begitu menarik perhatian masyarakat?

Menurut Kriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon, kasus di Kalideres ini memicu begitu besar perhatian publik karena sempat muncul narasi “kelaparan”.

“Kalau kita bicara kelaparan di situasi pandemi, itu jadi hal yang sensitif untuk diangkat. Ketika muncul dugaan ‘jangan-jangan ini masalah kelaparan’, berarti kan ada sesuatu yang tidak jalan dari program pemerintah,” jelas Joasis.

Joasis menambahkan bahwa dalam pembahasan ini juga tampak perbedaan persepsi soal “kelaparan” berdasarkan hasil forensik dengan “kelaparan” versi yang dipahami publik.

Hasil forensik yang menunjukkan bahwa tidak ditemukan ada bekas makanan di lambung korban, kata Joasis adalah sebuah fakta dalam penyidikan.

Namun persepsi publik soal “kelaparan” itu bisa berbeda dan cenderung mengagetkan.

Seiring berkembangnya temuan-temuan penyidikan, seperti bagaimana keempat orang tersebut ternyata tidak meninggal bersamaan, muncul ruang untuk menggali potensi adanya motif atau penyebab lainnya.

Dugaan kelaparan, menurut Joasis, kemudian menjadi “terlalu aneh” mengingat profil keluarga ini membuat agak sulit mempercayai bahwa mereka begitu kesulitan sampai kelaparan.

“Kemudian dikajilah dari sisi kriminal, kesengajaan, pengabaian, pembiaran dan sebagainya, bahkan berkembang ke keyakinan dan paham tertentu yang mungkin masih melatarbelakangi atau memicu kejadian ini, yang jadi motif dari kejadian ini. Itu masih menjadi teka-teki, menarik buat orang-orang karena sampai sekarang belum terungkap,” jelas Josias.

Joasis menilai berdasarkan temuan-temuan awal yang didapat polisi sejauh ini, kasus ini memang “tergolong unik”.

Tetapi untuk melihat apakah kasus ini tergolong sebagai kasus kriminal biasa maupun tidak, sangat bergantung pada motif yang masih perlu diungkap oleh polisi.

Misteri yang masih melingkupi kasus ini pun memicu banyak spekulasi yang muncul di media sosial. Mulai dari yang mengaitkannya dengan sekte tertentu, sampai menyandingkannya dengan kasus kematian Burari di India.

Bagi Joasis, masih terlalu dini untuk mengaitkan peristiwa ini dengan spekulasi-spekulasi itu.

“Saya juga tidak berani untuk bicara ini terkait keyakinan, bukti-buktinya pun kurang kuat. Kalau kita bicara keyakinan atau sekte, itu kan ada dogma ya yang disampaikan. Jadi keyakinan membakar diri, membunuh diri, ada juga kan yang mengaitkan ke situ. Tapi menurut saya kok tidak ada yang lain dan hanya mereka?”

“Jangan-jangan ini sebenarnya sepele persoalannya, terkait masalah ekonomi dan masalah keluarga yang tidak selesai dan mereka ingin mengasingkan diri dan akhirnya membuat situasinya seperti itu. Agar lebih jelas kepolisianlah yang memastikan itu,” jelas Joasis.

Apa pun motif dan penyebabnya, Joasis menilai spekulasi liar yang tak terbukti ini akan "menyakiti" korban dan keluarganya yang masih hidup.

Bagaimana spekulasi-spekulasi liar itu muncul?

Pengamat media dari Universitas Gajah Mada, Wisnu Prasetya, mengatakan spekulasi-spekulasi liar terkait kasus ini banyak muncul di media sosial.

Kasusnya sendiri tergolong "baru" dan belum ada kasus serupa di Indonesia sebelumnya, sehingga memantik rasa penasaran publik.

Ruang kosong yang belum terjawab soal penyebab kematian empat orang itu juga yang kemudian diisi oleh beragam spekulasi liar.

“Memang di media sosial kita tidak bisa mengontrol ya, kalau di media arus utama kita bisa mengkritik, tapi konspirasi yang beredar banyak di media sosial seperti TikTok," jelas Wisnu.

"Ada yang menyamakan dengan kasus Burari di India tapi kan kita belum tahu penyidikan resminya seperti apa, ada juga yang menghubungkan dengan sekte apokaliptik, tapi itu kan belum bisa dibuktikan,” jelas Wisnu.

Tindakan yang paling penting saat ini, kata Wisnu adalah, bagaimana polisi mengungkap kasus ini secara akuntabel dan menghindari pernyataan-pernyataan yang bisa memicu spekulasi liar.

“Ketika ada spekulasi tapi itu diberitakan secara liar di media sosial itu akan jadi sumber konspirasi baru. Itu penting dilakukan sehingga tidak menjadi liar isunya," kata dia.

Wisnu juga mengingatkan media-media arus utama untuk “tidak terjebak” dalam spekulasi yang sensasional ketika memberitakan kasus ini.

Sejauh ini, dia menilai pemberitaan media-media arus utama “sudah cukup tepat” dengan mengutamakan sumber-sumber dari otoritas seperti kepolisian atau dari narasumber berkompeten seperti kriminolog.

Meskipun, masih ada sebagian kecil pemberitaan yang cenderung sensasional.

Spekulasi liar yang sensasional justru muncul di media sosial yang juga sulit dikontrol.

"Saya berharap media bisa membawa pembahasan kasus ini, mendiskusikan kasus ini secara lebih rasional soal bagaimana kita harus menanggapinya. Beri ruang pada fakta, jangan terjebak pada spekulasi," tutur Wisnu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kematian Wajar Tapi Unik, Perjalanan Kasus Keluarga Kalideres Resmi Ditutup Polisi

Kematian Wajar Tapi Unik, Perjalanan Kasus Keluarga Kalideres Resmi Ditutup Polisi

News | Senin, 12 Desember 2022 | 16:32 WIB

5 Fakta Penyebab Kematian Keluarga Kalideres: Bukan Sekte, Spekulasi Liar Terbantahkan

5 Fakta Penyebab Kematian Keluarga Kalideres: Bukan Sekte, Spekulasi Liar Terbantahkan

News | Jum'at, 09 Desember 2022 | 20:04 WIB

Dirkrimum Polda Metro Jaya: Kasus Kematian Keluarga Kalideres Kami HentikanPenyelidikannya

Dirkrimum Polda Metro Jaya: Kasus Kematian Keluarga Kalideres Kami HentikanPenyelidikannya

Video | Jum'at, 09 Desember 2022 | 18:20 WIB

Polda Metro Jaya Hentikan Penyidikan Kasus Kematian Keluarga Kalideres

Polda Metro Jaya Hentikan Penyidikan Kasus Kematian Keluarga Kalideres

News | Jum'at, 09 Desember 2022 | 17:23 WIB

Fakta Baru Sekeluarga Tewas di Kalideres: Temuan Klentingan, Polisi Klaim Kantongi Penyebab Kematian

Fakta Baru Sekeluarga Tewas di Kalideres: Temuan Klentingan, Polisi Klaim Kantongi Penyebab Kematian

News | Selasa, 06 Desember 2022 | 16:52 WIB

Rapat Bersama Ahli Terkait Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Polda Metro Jaya: Dua Hari ke Depan Kita Rilis

Rapat Bersama Ahli Terkait Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Polda Metro Jaya: Dua Hari ke Depan Kita Rilis

News | Senin, 05 Desember 2022 | 10:35 WIB

Polisi Sudah Periksa 28 Saksi, Penyebab Kematian Satu Keluarga di Kalideres Masih Sulit Diungkap

Polisi Sudah Periksa 28 Saksi, Penyebab Kematian Satu Keluarga di Kalideres Masih Sulit Diungkap

News | Kamis, 01 Desember 2022 | 08:19 WIB

Polisi Sebut Kecil Kemungkinan Ada Tindak Pidana di Kasus Kematian Satu Keluarga Kalideres

Polisi Sebut Kecil Kemungkinan Ada Tindak Pidana di Kasus Kematian Satu Keluarga Kalideres

News | Rabu, 30 November 2022 | 20:32 WIB

Kejanggalan Sikap Budyanto Anggota Keluarga Kalideres, Muncul Dugaan Ikut Ritual Tertentu

Kejanggalan Sikap Budyanto Anggota Keluarga Kalideres, Muncul Dugaan Ikut Ritual Tertentu

News | Rabu, 30 November 2022 | 18:58 WIB

Ternyata Benar! Ada Ritual Di Balik Tewasnya Sekeluarga Di Kalideres, Polisi Temuan Buku Mantra Dan Kemenyan

Ternyata Benar! Ada Ritual Di Balik Tewasnya Sekeluarga Di Kalideres, Polisi Temuan Buku Mantra Dan Kemenyan

News | Rabu, 30 November 2022 | 08:32 WIB

Terkini

KPK Dalami Uang USD 1 Juta di Kasus Dugaan Suap Pansus Haji DPR RI

KPK Dalami Uang USD 1 Juta di Kasus Dugaan Suap Pansus Haji DPR RI

News | Selasa, 28 April 2026 | 19:08 WIB

Bima Arya Tekankan Efisiensi dan Sinergi sebagai Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Bima Arya Tekankan Efisiensi dan Sinergi sebagai Motor Penggerak Ekonomi Daerah

News | Selasa, 28 April 2026 | 19:05 WIB

Gus Ipul Usul Perluasan Bansos untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Gus Ipul Usul Perluasan Bansos untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:57 WIB

Ketum TP PKK Tekankan Peran Strategis PKK dan Posyandu di Papua Selatan

Ketum TP PKK Tekankan Peran Strategis PKK dan Posyandu di Papua Selatan

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:57 WIB

KAI Refund 4.878 Tiket Imbas Kecelakaan di Bekasi, Jamin Ganti Rugi 100 Persen

KAI Refund 4.878 Tiket Imbas Kecelakaan di Bekasi, Jamin Ganti Rugi 100 Persen

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:45 WIB

Forum PWNU Desak PBNU Gelar Muktamar Paling Lambat Agustus 2026, Ini Alasannya

Forum PWNU Desak PBNU Gelar Muktamar Paling Lambat Agustus 2026, Ini Alasannya

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:28 WIB

Pusdokkes Polri Ungkap Kondisi Korban Kecelakaan Kereta Bekasi, Alami Multipel Trauma Parah

Pusdokkes Polri Ungkap Kondisi Korban Kecelakaan Kereta Bekasi, Alami Multipel Trauma Parah

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:24 WIB

Buku Kriminalisasi Kebijakan Ungkap Bahaya Pasal Karet UU Tipikor: Bisa Picu Krisis Kepemimpinan

Buku Kriminalisasi Kebijakan Ungkap Bahaya Pasal Karet UU Tipikor: Bisa Picu Krisis Kepemimpinan

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:20 WIB

Penanganan Sampah jadi Prioritas Nasional, Prabowo Optimis Banyumas Capai Target Zero Waste to Money

Penanganan Sampah jadi Prioritas Nasional, Prabowo Optimis Banyumas Capai Target Zero Waste to Money

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:16 WIB

Dari Sampah Jadi Genteng, Prabowo Dorong Inovasi Bernilai Ekonomi

Dari Sampah Jadi Genteng, Prabowo Dorong Inovasi Bernilai Ekonomi

News | Selasa, 28 April 2026 | 18:13 WIB