Buku Kriminalisasi Kebijakan Ungkap Bahaya Pasal Karet UU Tipikor: Bisa Picu Krisis Kepemimpinan

Vania Rossa

Selasa, 28 April 2026 | 18:20 WIB
Buku Kriminalisasi Kebijakan Ungkap Bahaya Pasal Karet UU Tipikor: Bisa Picu Krisis Kepemimpinan
Lestantya R. Baskoro. (dok. ist)
baca 10 detik
  • Buku Kriminalisasi Kebijakan menyoroti penggunaan pasal karet UU Tipikor yang kerap mengkriminalisasi pejabat publik atas kerugian negara.
  • Perbedaan pemahaman hakim terkait prinsip Business Judgement Rule menyebabkan keputusan bisnis yang berisiko sering berujung tuntutan pidana.
  • Kondisi ini memicu krisis kepemimpinan dan menghambat iklim ekonomi nasional karena pejabat cenderung menghindari pengambilan keputusan strategis.

Suara.com - Sebuah buku berjudul Kriminalisasi Kebijakan mengungkap persoalan serius dalam penegakan hukum di Indonesia, khususnya terkait penggunaan pasal-pasal dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang dinilai terlalu lentur dan berpotensi menjerat pengambil kebijakan.

Editor buku tersebut, Lestantya R. Baskoro, menyoroti dua pasal yang kerap menjadi sumber persoalan, yakni Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor. Kedua pasal ini dinilai terlalu luas tafsirnya hingga kerap disebut sebagai “pasal keranjang sampah”.

“Saya lihat yang lebih diutamakan oleh penegak hukum itu kerugian negaranya, sehingga demikian gampangnya mengkriminalisasi,” ujar Baskoro dalam peluncuran buku di Universitas Paramadina, Jakarta.

Dalam buku tersebut, dipaparkan setidaknya 12 kasus yang menjerat pejabat publik dan pimpinan BUMN. Sejumlah nama yang pernah terseret antara lain mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan hingga eks Dirut PT PLN Nur Pamudji.

Baskoro menjelaskan, banyak kasus tersebut berujung pada perbedaan putusan di setiap tingkat pengadilan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan pemahaman hakim terhadap konsep Business Judgement Rule (BJR), yakni prinsip yang melindungi direksi dalam mengambil keputusan bisnis selama dilakukan dengan itikad baik.

Guru Besar Hukum Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Yetty Komalasari Dewi, menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah mengadopsi prinsip BJR dalam UU Perseroan Terbatas. Aturan ini melindungi direksi dari tuntutan hukum selama keputusan diambil secara profesional, tanpa konflik kepentingan, dan dengan kehati-hatian.

Namun dalam praktiknya, perlindungan tersebut kerap “dikalahkan” oleh pendekatan pidana yang lebih menitikberatkan pada kerugian negara.

“Dalam bisnis, banyak faktor tak terduga. Keputusan sudah diambil hati-hati, tapi ketika rugi, malah berujung pidana,” jelas Yetty.

Buku ini juga menelusuri akar historis pasal kontroversial tersebut. Mantan Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah mengungkap bahwa pasal itu awalnya lahir dalam konteks politik pascakemerdekaan, namun kini digunakan tanpa mempertimbangkan konteks awalnya.

baca juga

Akibatnya, menurut dia, pasal tersebut bisa menjerat siapa saja karena definisinya yang terlalu luas.

Kritik serupa datang dari aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Illian Deta Arta Sari, yang menilai masalah semakin kompleks setelah pasal serupa diadopsi dalam KUHP baru. Ia menyoroti tidak jelasnya unsur niat jahat (mens rea), yang seharusnya menjadi dasar dalam pemidanaan.

Ketiadaan unsur tersebut dinilai berpotensi membuat kebijakan yang tidak berhasil otomatis dianggap sebagai tindak pidana.

Mantan pimpinan KPK Amien Sunaryadi menegaskan bahwa pembuktian niat jahat seharusnya tetap bisa dilakukan melalui alat bukti, termasuk jejak komunikasi dan analisis forensik digital.

Jika tidak, ia memperingatkan dampak jangka panjangnya bisa serius terhadap iklim bisnis dan ekonomi nasional. Salah satu contohnya terlihat di sektor migas, di mana eksplorasi berisiko tinggi kerap dihindari karena takut dianggap merugikan negara.

Sementara itu, mantan Menko Perekonomian Sofyan Djalil menilai situasi ini berpotensi memicu krisis kepemimpinan. Para pejabat, menurutnya, cenderung memilih bermain aman dibanding mengambil keputusan strategis yang berisiko.

“Bisnis itu penuh risiko, sementara kemajuan butuh kreativitas dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya.

Melalui buku ini, para penulis dan narasumber mendorong adanya revisi regulasi serta peningkatan pemahaman aparat penegak hukum, agar tidak terjadi kriminalisasi terhadap kebijakan yang justru diperlukan untuk mendorong kemajuan ekonomi.
 
 
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian

Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian

Your Say | Selasa, 28 April 2026 | 15:00 WIB

Ketika Buku dan Pena Jadi Kemewahan: Retaknya Janji Pendidikan untuk Semua

Ketika Buku dan Pena Jadi Kemewahan: Retaknya Janji Pendidikan untuk Semua

Your Say | Selasa, 28 April 2026 | 12:17 WIB

Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita

Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita

Your Say | Selasa, 28 April 2026 | 07:05 WIB

Terkini

Jelang Hadir di Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Ajudan Jokowi Ungkap Kondisi Ayah Gibran

Jelang Hadir di Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Ajudan Jokowi Ungkap Kondisi Ayah Gibran

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:30 WIB

Sungai Lubuak Lakuak Meluap, Banjir Bandang Rendam Empat Jorong di Pandai Sikek

Sungai Lubuak Lakuak Meluap, Banjir Bandang Rendam Empat Jorong di Pandai Sikek

Sumut | Minggu, 01 November 2026 | 18:25 WIB

Banjir Aceh Barat Gerus Pondasi Rumah dan Jalan, 3 Kecamatan Terdampak

Banjir Aceh Barat Gerus Pondasi Rumah dan Jalan, 3 Kecamatan Terdampak

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:17 WIB

Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri

Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 18:15 WIB

Momen Personel Ungu Nyanyi di Konser, Rowman Bikin Cliquers Tepuk Tangan

Momen Personel Ungu Nyanyi di Konser, Rowman Bikin Cliquers Tepuk Tangan

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 18:06 WIB

150 Ribu Batang Ganja Dimusnahkan di Madina, Ladang Seluas 5 Hektar Ditemukan di Pegunungan

150 Ribu Batang Ganja Dimusnahkan di Madina, Ladang Seluas 5 Hektar Ditemukan di Pegunungan

Sumut | Minggu, 01 November 2026 | 18:04 WIB

Zero ODOL Mulai Januari 2027 Terancam Tak Tercapai, Akademisi Ungkap Masalahnya

Zero ODOL Mulai Januari 2027 Terancam Tak Tercapai, Akademisi Ungkap Masalahnya

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 18:04 WIB

Jokowi Bakal Hadir di Sidang Ijazah Palsu, Budi Arie Beberkan Persiapan Ayah Gibran

Jokowi Bakal Hadir di Sidang Ijazah Palsu, Budi Arie Beberkan Persiapan Ayah Gibran

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:00 WIB

Ini Cara Minum Dirty Latte Si Kopi yang Lagi Viral, Jangan Asal Aduk!

Ini Cara Minum Dirty Latte Si Kopi yang Lagi Viral, Jangan Asal Aduk!

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 17:59 WIB

Binance Pulihkan Dana Peretasan Kripto Senilai USD 6,3 Miliar, FBI Tuduh Hacker Korut

Binance Pulihkan Dana Peretasan Kripto Senilai USD 6,3 Miliar, FBI Tuduh Hacker Korut

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 17:54 WIB

×