Kertas Kosong Jadi Simbol Protes Kebijakan Covid di China

Diana Mariska, BBC

Selasa, 29 November 2022 | 16:13 WIB
Kertas Kosong Jadi Simbol Protes Kebijakan Covid di China
Kertas kosong menjadi simbol protes di China. (BBC)

Suara.com - Kertas kosong telah menjadi simbol protes warga China terhadap kebijakan nol-Covid yang diterapkan oleh Presiden Xi Jinping. Pada demonstrasi yang terjadi di beberapa wilayah di negara itu sejak akhir pekan lalu,  para pendemo menggunakan selembar kertas kosong untuk menjadi "senjata" mereka.

Saat senja jatuh di Shanghai pada Minggu (27/11/2022) malam, beberapa pedemo yang berkumpul untuk menyampaikan duka cita pada korban korban kebakaran yang membakar demonstrasi ini berdatangan. Mereka membawa lembaran kertas kosong.

Serupa, di ibu kota Beijing, pedemo bermunculan bersenjatakan sobekan-sobekan kertas dalam protes di kampus terhormat Tsinghua University. Presiden Xi Jinping pernah mengunjungi kampus ini.

Dan di video lain, seorang perempuan muda terlihat berjalan kaki di jalanan Wuhan - sebuah kota di provinsi sebelah timur, Zhejiang - dengan rantai di pergelangan tangan dan plester di mulutnya.

Di tangannya, selembar kertas kosong yang masih utuh.

Tren ini bermula di demo-demo yang terjadi di Hong Kong pada 2020, di mana penduduk lokal memegang selembar kertas kosong untuk memprotes undang-undang keamanan yang disebut ‘draconian’ (sangat otoriter).

Para aktivis memegang kertas kosong setelah otoritas melarang adanya slogan dan frasa yang terkait dengan gerakan protes massal pada 2019, yang pada saat itu dibalas oleh pihak keamanan dengan kekerasan berlebihan.

Beberapa berpendapat gerakan ini bukan hanya statemen tentang membungkam protes, tapi juga untuk menantang otoritas, seakan-akan berkata ‘apakah Anda akan menahan saya karena membawa tanda yang tidak mengatakan apa-apa?’

“Memang tidak ada tulisan apa pun di atas kertas itu, tapi kita semua tahu apa yang tidak tertulis di sana,” kata seorang perempuan yang turut bergabung dengan protes di Shanghai kepada BBC.

Johnny, pedemo berusia 26 tahun di Beijing, berkata kepada kantor berita Reuters bahwa kertas itu “melambangkan semua yang ingin kami katakan tetapi tidak bisa”.

Kerry Allen, analis media BBC di China, melihat para petugas sensor China telah mengawasi hingga ke platform-platform media sosial di negara itu.

“Puluhan juta unggahan telah disaring dari hasil pencarian,” ujarnya. “‘Lembar kertas kosong’ dan ‘kertas putih’ juga sekarang sudah jarang muncul di hasil pencarian.”

Penyensoran di media sosial ini telah memantik kemarahan di dunia maya. Seorang warganet menulis, “jika Anda takut pada selembar kertas kosong, Anda sungguh lemah.”

Sementara itu, perusahaan produsen kertas Shanghai, M&G Stationary, dipaksa menyangkal rumor mereka telah menarik peredaran semua kertas ukuran A4 dari pasaran karena alasan keamanan nasional.

Pihak M&G mengatakan proses produksi dan operasi masih normal dan mereka harus melaporkan kepada polisi sebuah dokumen palsu yang beredar online dan memulai rumor tersebut.

Tapi protes kertas kosong ini juga telah menjadi bahan kekerasan dari mereka yang masih loyal kepada pemerintah pusat dan marah karena gelombang protes ini.

Di satu video, yang diperkirakan diambil pada Sabtu di Communication University of China di Kota Nanjing, menampakkan seorang pria tak dikenal dengan marah merebut kertas putih dari tangan pedemo sebelum langsung berjalan pergi.

Sebuah video lain yang muncul di malam harinya, belasan mahasiswa mendatangi kampus tersebut dengan memegang kertas kosong, semua berdiri dengan diam.

Para pedemo - yang terbelenggu mesin sensor Beijing - juga melakukan bentuk komentar anti-pemerintah lain, termasuk ekspresi sarkastik yang mendukung aturan pengetatan Covid ketat China.

Dalam satu kasus, setelah petugas memerintahkan belasan pedemo dengan kertas putih berhenti menandatangani slogan-slogan anti-karantina, mereka merespon dengan meneriakkan kalimat sarkastik seperti “lebih banyak lockdown” dan “Saya ingin tes Covid”.

Di Tsinghua University, beberapa mahasiswa terlihat memegang kertas dengan tulisan rumus persamaan Friedmann, di mana fisikawan dan matematikawan Rusia itu menjelaskan bagaimana semesta berevolusi.

Penggunaan rumus persamaan ini dimengerti sebagai permainan kata “Free man” atau “manusia bebas”.

Tapi kertas lah yang telah menjadi pemandangan umum di protes-protes yang terjadi di China, sama seperti payung di Hong Kong, bebek karet di Thailand, dan bunga di Belarus sebagai emblem protes modern.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tugas Berat Sebagai Panglima TNI Siap Menanti Yudo Margono, Apa Saja?

Tugas Berat Sebagai Panglima TNI Siap Menanti Yudo Margono, Apa Saja?

News | Selasa, 29 November 2022 | 15:55 WIB

CEK FAKTA: Militer Indonesia Ditakuti Dunia, China Siap Bantu jika Dibutuhkan, Benarkah?

CEK FAKTA: Militer Indonesia Ditakuti Dunia, China Siap Bantu jika Dibutuhkan, Benarkah?

Your Say | Selasa, 29 November 2022 | 15:44 WIB

Tim dayung Indonesia patut waspadai China di Asian Games 2023

Tim dayung Indonesia patut waspadai China di Asian Games 2023

Surabaya | Selasa, 29 November 2022 | 15:27 WIB

Timnya Tak Lolos, China Tetap Gelontorkan Rp21,86 Triliun untuk Piala Dunia Qatar

Timnya Tak Lolos, China Tetap Gelontorkan Rp21,86 Triliun untuk Piala Dunia Qatar

Bisnis | Selasa, 29 November 2022 | 14:41 WIB

Pandemi Covid-19 di China Kembali Menggila, Tes CPNS Ditunda

Pandemi Covid-19 di China Kembali Menggila, Tes CPNS Ditunda

Sumut | Selasa, 29 November 2022 | 13:15 WIB

Aksi Protes Pembatasan COVID-19 di China dan Penangkapan Jurnalis, Ribuan Massa Turun ke Jalan

Aksi Protes Pembatasan COVID-19 di China dan Penangkapan Jurnalis, Ribuan Massa Turun ke Jalan

Video | Selasa, 29 November 2022 | 12:05 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×