Waspada Hoaks Perubahan Iklim, Ini Pola yang Sering Digunakan

Dany Garjito | Suara.com

Selasa, 17 Januari 2023 | 11:15 WIB
Waspada Hoaks Perubahan Iklim, Ini Pola yang Sering Digunakan
Postingan Facebook yang menyebutkan banjir berwarna merah akibat obat batik merupakan banjir darah. (Tangkapan layar/Nadia)

Suara.com - Banjir melanda sejumlah kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) di musim penghujan Desember 2022 – Januari 2023. Tercatat wilayah-wilayah pesisir terendam air hingga setinggi lutut orang dewasa seperti di Kota Semarang, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Kudus.

Bencana musiman yang selalu terjadi saban tahun ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain ancaman penurunan permukaan tanah atau land subsidence dan curah hujan tinggi yang merupakan tanda perubahan iklim.

Sayangnya, informasi menyesatkan soal perubahan iklim, termasuk banjir sebagai contoh nyatanya justru mengaburkan fakta bahwa perubahan iklim sedang terus terjadi.

Di media sosial Facebook, hoaks-hoaks tersebut tak pernah menyatakan banjir sebagai konsekuensi dari perubahan iklim. Sebaliknya, berdasarkan penelusuran ada tiga tipe utama yang bisa dikenali sebagai narasi-narasi hoaks yang mengaburkan fakta perubahan iklim.

1. Hoaks Perubahan Iklim Bagian dari Teori Konspirasi

Pertama, konten menyesatkan yang menyebut bahwa perubahan iklim merupakan bagian dari teori konspirasi. Akun Facebook Adoyz Ryo Yuki menuliskan bahwa perubahan iklim dinarasikan sebagai agenda yang dibuat demi kepentingan segelintir kaum elite. Emisi lingkungan memainkan peran yang sama dengan ancaman yang ditimbulkan oleh senjata nuklir, pencemaran udara, air, dan makanan yang dapat menjadi ancaman besar yang hanya dapat dikelola melalui organisasi sosial dan oleh kekuatan politik.

Globalis pun mulai mendirikan berbagai yayasan pendanaan ke LSM yang bekerja untuk lingkungan yang lebih baik. Kita telah melihat bahwa semua ancaman yang tercantum di atas telah digunakan, beberapa tentu saja benar, sementara yang lain dalam retropeksi ternyata hanyalah rekayasa.

Contoh narasi bahwa perubahan iklim merupakan agenda setting kaum elite global. (Tangkapan layar/Nadia)
Contoh narasi bahwa perubahan iklim merupakan agenda setting kaum elite global. (Tangkapan layar/Nadia)

Faktanya, pernyataan bahwa perubahan iklim adalah buah dari konspirasi elite global sangat tidak berdasar.

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim dalam keterangan resminya menyatakan perubahan iklim sebagai perubahan yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga mengubah kompoisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada perioda waktu yang dapat diperbandingkan.

Definisi tertuang dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Kerangka Kerja Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC.

Komposisi atmosfer global yang dimaksud adalah komposisi material atmosfer bumi berupa Gas Rumah Kaca (GRK) yang di antaranya, terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya.

PBB memaparkan beberapa penyebab perubahan iklim antara lain pembuatan energi listrik dan panas dengan membakar bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi dalam jumlah besar, penebangan hutan, serta penggunaan transportasi berbahan bakar fosil.

2. Hoaks yang Melebih-lebihkan

Kedua, hoaks yang melebih-lebihkan sehingga peristiwa seolah lebih menyeramkan atau sebaliknya hoaks justru meremehkan sehingga mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi.

Narasi melebih-lebihkan bencana alam sebagai bagian dari perubahan iklim ini pernah terjadi di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Pada Februari 2021, akun Facebook Subkhi Aashifa pernah mengunggah foto banjir di Pekalongan yang terlihat berwarna merah. Dia menyatakan fenomena tersebut sebagai banjir darah.

Fenomena alam, banjir darah,” tulis dia dalam status Facebook bertanggal 6 Februari 2021.

Nyatanya, yang sebenarnya terjadi adalah adanya obat batik berwarna merah yang berasal dari industri batik rumah tangga yang hanyut terbawa banjir.

Kapolresta Pekalongan saat itu, AKBP Mochammad Irwan Susanto mengatakan air banjir yang berwarna merah pekat tersebut karena obat batik yang dibungkus dalam plastik sobek, dan terbawa air banjir.

Obat batik yang dibungkus dalam plastik itu disimpan di tempat produksi batik namun tidak diketahui jika obat tersebut hanyut terbawa air banjir.

Postingan Facebook yang menyebutkan banjir berwarna merah akibat obat batik merupakan banjir darah. (Tangkapan layar/Nadia)
Postingan Facebook yang menyebutkan banjir berwarna merah akibat obat batik merupakan banjir darah. (Tangkapan layar/Nadia)

3. Narasi Hoaks Perubahan Iklim untuk Menyerang Tokoh Politik

Ketiga, narasi hoaks yang bisa mengaburkan perubahan iklim adalah bencana alam untuk menyerang tokoh politik tertentu.

Akun Facebook Katumbiri menyebarkan narasi bahwa jebolnya tanggul yang mengakibatkan banjir di Indonesia adalah akibat dari kelalaian Presiden Joko Widodo dalam menjalankan pemerintahan. Katumbiri memberi contoh kebijakan yang merugikan yakni UU Omnibus Law dan UU Minerba.

Fakta menunjukkan beberapa bendungan jebol, tak mampu menahan air bah raksasa atau seperti banjir bandang jaman Nabi Nuh, karena tanggul tak berkualitas dibangun dengan KKN dan sistem irigasi tak berfungsi, akhirnya bahan-bahan tanggul sarana irigasi ikut derasnya air bah raksasa menuju laut,” demikian ditulis dalam akun Facebook tersebut.

Pak Jokowi diduga sedang meracik bom bunuh diri. Racikan bom bunuh diri adalah sebagai berikut: hutang menumpuk, sebaiknya dibayar dengan mengelola minerba dengan benar oleh negara. Hutang menggunung bukan dibayar dengan pajak meningkat, berakibat rakyat jadi miskin, sementara Perpu Omnibuslaw, Undang-Undang Minerba, dll sangat menguntungkan oligarki Neo Komunisme," lanjut narasi akun Facebook ini.

Padahal faktanya sudah banyak lembaga internasional yang menarasikan perubahan iklim sebagai fenomena saintifik, bukan semata-mata azab atau kelalaian individu tertentu. Salah satu penyebab banjir di wilayah pantura adalah land subsidence atau penurunan permukaan tanah.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat penurunan tanah di wilayah pesisir utara Jawa Tengah berkisar antara 1-15 cm per tahun.

Kota-kota ini memiliki risiko sedang dan tinggi terhadap banjir berdasarkan peta risiko bencana yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Hoaks yang menarasikan bencana alam di Indonesia adalah azab akibat kelalaian Presiden Joko Widodo. (Tangkapan layar/Nadia)
Hoaks yang menarasikan bencana alam di Indonesia adalah azab akibat kelalaian Presiden Joko Widodo. (Tangkapan layar/Nadia)

Sementara itu, Koordinator Proyek Adaptasi Perubahan Iklim Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) Semarang Arief Khristanto menjelaskan bahwa iklim tidak bisa dibicarakan dalam jangka pendek. Iklim merupakan kondisi atmosfer dalam jangka waktu panjang.

“Itulah mengapa banyak yang menyangkal perubahan iklim, karena memang dampaknya tidak dirasakan dalam waktu dekat tetapi ini terakumulasi yang kemudian dalam satu titik disebut sebagai krisis iklim,” ujar Arief dalam wawancara melalui aplikasi Zoom, Kamis (5/1/2023). Secara saintifik, perubahan iklim dapat dibuktikan dengan kenaikan temperatur, serta konsentrasi gas rumah kaca yang lebih besar.

Arief melanjutkan, pekerjaan rumah selanjutnya adalah cara melokalisasi isu perubahan iklim yang telah dibicarakan dalam forum-forum global. Cara paling mudah yakni dengan memetakan sektor yang paling terdampak sekaligus sangat dekat dengan kehidupan.

Dalam konteks masyarakat pesisir ada banyak bukti perubahan iklim telah terjadi, seperti gelombang tinggi yang membuat nelayan kecil tidak berani melaut. Intensitas hujan ekstrem juga bisa berulang dalam waktu yang lebih cepat daripada sebelumnya.

“Jika dulu intensitas x hanya berulang dalam 20-30 tahun, maka kondisi yang sama (dengan pengaruh perubahan iklim) bisa berulang lebih cepat hanya dalam sepuluh tahun,” imbuh Arief. Kondisi iklim tersebut masih dikombinasikan dengan kondisi pembangunan yang membuat fungsi resapan hilang.

Hubungan antara iklim, pembangunan, dan bencana banjir bisa dianalogikan dalam sebuah mangkuk. Jika mangkuk diibaratkan sebagai kapasitas menampung air dari hujan ekstrem di suatu daerah, maka pembangunan yang dilakukan di dalamnya akan membuat volume penampungan semakin mengecil. Di sisi lain, intensitasnya justru terjadi lebih sering akibat pengaruh perubahan iklim.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa perubahan iklim memang terjadi dengan banyak faktor saintifik yang mempengaruhinya. Maka dari itu jangan mudah percaya jika isu ini, termasuk krisis lingkungan sebagai contoh nyatanya dikaitkan dengan mitos, azab, terlebih kesalahan yang menyeret nama tokoh politik tertentu.

Jika menemukan berita, tulisan, atau status di media sosial yang menyebutkan krisis iklim adalah hoaks dan merupakan bagian dari konspirasi elite, tetaplah berpikir kritis. Selalu cek kebenaran sumber dengan mengakses berita-berita dari sumber terpercaya atau kunjungi situs pemeriksa fakta di turnbackhoax.id dan cekfakta.com. 

Artikel ini merupakan hasil dari beasiswa peliputan prebunking yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen Kota Surakarta 2023 

Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cek Fakta: Benarkah Insinyur India Ditangkap di Bahrain karena Jadi Mata-mata Mossad?

Cek Fakta: Benarkah Insinyur India Ditangkap di Bahrain karena Jadi Mata-mata Mossad?

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 20:59 WIB

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza"

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza"

Liks | Jum'at, 06 Maret 2026 | 17:15 WIB

Inovasi Teknologi Canggih Singapore Airlines Menjawab Tantangan Perubahan Iklim Dunia

Inovasi Teknologi Canggih Singapore Airlines Menjawab Tantangan Perubahan Iklim Dunia

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 23:17 WIB

Membongkar Operasi Informasi dari Gelombang Video Hoaks 'China Bantu Gaza'

Membongkar Operasi Informasi dari Gelombang Video Hoaks 'China Bantu Gaza'

Liks | Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:12 WIB

BGN Tegaskan Info Pembukaan PPPK Tahap 3 Hoaks, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan

BGN Tegaskan Info Pembukaan PPPK Tahap 3 Hoaks, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan

News | Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:40 WIB

Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?

Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?

News | Rabu, 25 Februari 2026 | 16:10 WIB

Pentingnya Berpikir Skeptis Digital di Era Banjir Informasi

Pentingnya Berpikir Skeptis Digital di Era Banjir Informasi

Your Say | Rabu, 18 Februari 2026 | 13:04 WIB

Viral Kejagung Geledah Rumah Pejabat Pajak Temukan Rp 920 Miliar, Kemenkeu Pastikan Hoaks

Viral Kejagung Geledah Rumah Pejabat Pajak Temukan Rp 920 Miliar, Kemenkeu Pastikan Hoaks

Bisnis | Minggu, 15 Februari 2026 | 20:40 WIB

Tampil di MTN Wave, Lukman Sardi hingga Kunto Aji Suguhkan Pertunjukan Seni Lintas Bidang

Tampil di MTN Wave, Lukman Sardi hingga Kunto Aji Suguhkan Pertunjukan Seni Lintas Bidang

Lifestyle | Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:06 WIB

Anatomi Hoaks: Cara Mengenali Berita Palsu Hanya dari Judul dan Format

Anatomi Hoaks: Cara Mengenali Berita Palsu Hanya dari Judul dan Format

Your Say | Selasa, 10 Februari 2026 | 20:10 WIB

Terkini

Menkeu Purbaya: Program MBG Dihentikan Selama Libur Lebaran, Lumayan Hemat Triliunan Rupiah

Menkeu Purbaya: Program MBG Dihentikan Selama Libur Lebaran, Lumayan Hemat Triliunan Rupiah

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 19:06 WIB

Ubedilah Badrun Ungkap 3 Dugaan Aktor Intelektual di Balik Serangan Andrie Yunus

Ubedilah Badrun Ungkap 3 Dugaan Aktor Intelektual di Balik Serangan Andrie Yunus

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:55 WIB

Tol MBZ Sempat Ditutup Akibat Lonjakan 270 Ribu Kendaraan, Kakorlantas: Puncak Arus Masih Tinggi

Tol MBZ Sempat Ditutup Akibat Lonjakan 270 Ribu Kendaraan, Kakorlantas: Puncak Arus Masih Tinggi

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:46 WIB

Data Kemenag: Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS, 1 Syawal 1447 H Masih Tunggu Sidang Isbat

Data Kemenag: Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS, 1 Syawal 1447 H Masih Tunggu Sidang Isbat

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:40 WIB

Soroti Perbedaan Inisial Pelaku Air Keras Andrie Yunus, Ubedilah Badrun: Koordinasi TNI-Polri Kacau

Soroti Perbedaan Inisial Pelaku Air Keras Andrie Yunus, Ubedilah Badrun: Koordinasi TNI-Polri Kacau

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:36 WIB

Jelang Sidang Isbat: MUI Ingatkan Potensi Lebaran Berbeda, Umat Diminta Tak Saling Menyalahkan

Jelang Sidang Isbat: MUI Ingatkan Potensi Lebaran Berbeda, Umat Diminta Tak Saling Menyalahkan

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:14 WIB

Sekretariat Wapres Dorong UMKM dan Pelaku Ekonomi Perempuan Naik Kelas

Sekretariat Wapres Dorong UMKM dan Pelaku Ekonomi Perempuan Naik Kelas

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:03 WIB

Hasto Ungkap Isi Pertemuan 2 Jam Prabowo-Megawati di Istana

Hasto Ungkap Isi Pertemuan 2 Jam Prabowo-Megawati di Istana

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 17:36 WIB

Begini Persiapan Warga Iran Rayakan Lebaran 2026 di Tengah Gempuran AS-Israel

Begini Persiapan Warga Iran Rayakan Lebaran 2026 di Tengah Gempuran AS-Israel

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 17:30 WIB

Kenapa Pengumuman Sidang Isbat Sering Molor? Ini Penjelasan Kementerian Agama

Kenapa Pengumuman Sidang Isbat Sering Molor? Ini Penjelasan Kementerian Agama

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 16:57 WIB