Studi: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit yang Ditularkan Air, Bagaimana Bisa?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 22 Juli 2026 | 15:30 WIB
Studi: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit yang Ditularkan Air, Bagaimana Bisa?
Setiap bakteri, virus, dan parasite bereaksi terhadap perubahan kondisi lingkungan dengan berbeda-beda (dok.Unsplash/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Suara.com - Perubahan iklim telah mendesak evolusi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air ke seluruh dunia. Dampak dari evolusi inilah yang mendorong para peneliti di Colorado School of Public Health, University of Colorado Anschutz dan University of Washington School of Public Health melakukan penelitian yang komprehensif.

Laporan yang diterbitkan di Nature Reviews Microbiology menguak bagaimana perubahan iklim bisa menularkan penyakit melalui air.

“Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa perubahan iklim mengubah kondisi yang memungkinkan patogen menyebar,” kata Profesor dan Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan dan Kerja di Sekolah Kesehatan Masyarakat Colorado sekaligus penulis dari penelitian ini, Elizabeth Carlton, Ph.D.

Melansir dari laporan itu, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bisa merusak sistem kesehatan dalam sekejap. Padahal, selama beberapa dekade dunia telah berusaha keras dalam memberantas penyakit yang ditularkan melalui air. Imbasnya hampi 1,2 juta kematian diakibatkan oleh diare yang menular tiap tahunnya.

Perubahan Iklim Memengaruhi Penularan dalam Berbagai Cara

Selama ini perubahan iklim tidak memengaruhi semua mikroorganisme penyebab penyakit (patogen) dengan cara yang sama. Setiap bakteri, virus, dan parasite bereaksi terhadap perubahan kondisi lingkungan dengan berbeda-beda.

“Hal ini menyulitkan pengendalian pada beberapa penyakit menular paling mematikan di dunia dengan menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi penularan,” jelasnya.

Sering kali penyakit yang ditularkan melalui air ini dikaitkan oleh banjir atau curah hujan tinggi, karena patogen mengalir ke dalam pasokan air minum. Padahal kekeringan juga berisiko dalam menularkan penyakit. Minimnya akses air bersih berdampak pada perubahan cara orang menggunakan air yang ada.

Meningkatnya suhu secara masif mengakibatkan bakteri tumbuh. Di sisi lain, beberapa virus—nonvirus, rotavirus, dan adenovirus—jadi lebih mudah menyebarkan penyakit karena kondisi yang lebih dingin dan kering.

baca juga

Strategi yang Bisa Meminimalisir Risiko

Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, dalam laporan tersebut turut dilengkapi dengan penanganan yang bisa dilakukan oleh masyarakat.

Masyarakat bisa mulai beralih dengan berinvestasi pada prasarana air, sanitasi, dan kebersihan yang tahan terhadap perubahan iklim.

Salah satu cara efektif untuk mencegah penyakit ini meliputi penggunaan air minum yang aman untuk dikonsumsi, menerapkan sistem sanitasi, serta praktik dalam menjaga kebersihan.

Selain itu, perlunya perluasan dalam mengawasi penyakit spefisik patogen. Dari pada mengandalkan pendekatan umum untuk satu kasus, dengan pendeteksian dini, petugas bisa langsung menargetkan intervensi di area yang paling membutuhkan.

Perlu diingat bahwa bakteri, virus, dan parasit merespons kondisi iklim secara berbeda sehingga penanganannya disesuaikan dengan patogen yang tepat.

Adapun dengan memperkuat program vaksinasi bisa mencegah penyakit akibat air kotor pascabencana. Sayangnya, perubahan iklim menghambat distribusinya karena infrastruktur jadi rusak, akses jalan ke lokasi bencana jadi terputus, hingga suhu pendingin vaksin (cold chain) terganggu.

Membangun Ketahanan untuk Masa Depan

Dengan menerapkan langkah-langkah untuk meminimalisir risiko, laporan tersebut dinilai efektif karena tak hanya mengurangi penyakit yang ditularkan air, tetapi juga membantu masyarakat menjadi lebih sigap dan peka terhadap dampak kesehatan dari perubahan iklim.

“Perubahan iklim mengubah aturan penyebaran penyakit-penyakit ini,” kata Carlton.

“Kabar baiknya adalah kita sudah memiliki banyak alat yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko. Tantangannya sekarang adalah memastikan alat-alat tersebut dirancang dan diterapkan sesuai dengan kondisi iklim yang kita hadapi saat ini dan yang akan kita hadapi di masa depan,” tutupnya.

Pada dasarnya, tidak ada satu strategi yang mampu melindungi dari setiap penyakit yang ditularkan melalui air. Sebaliknya, dengan usaha untuk beradaptasi dengan iklim harus mempertimbangkan bagaimana patogen individu merepons perubahan lingkungan, sehingga petugas kesehatan bisa mengantisipasi dan mencegah wabah di masa mendatang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hutan Bisa Jadi Ruang Terapi di Tengah Polusi dan Krisis Iklim, Apa Saja Manfaatnya?

Hutan Bisa Jadi Ruang Terapi di Tengah Polusi dan Krisis Iklim, Apa Saja Manfaatnya?

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 10:31 WIB

Lawan Perubahan Iklim: 87 Persen Emisi dari Transportasi Darat dan Urgensi Angkutan Massal

Lawan Perubahan Iklim: 87 Persen Emisi dari Transportasi Darat dan Urgensi Angkutan Massal

Your Say | Selasa, 21 Juli 2026 | 12:44 WIB

Tak Lagi Soal Lingkungan: Mengapa Perubahan Iklim Disebut Ancaman bagi Keamanan Nasional Indonesia?

Tak Lagi Soal Lingkungan: Mengapa Perubahan Iklim Disebut Ancaman bagi Keamanan Nasional Indonesia?

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 10:58 WIB

Terkini

IHSG Betah di Level 6.600 Pagi Ini, Cek Saham TAPG dan BUMI

IHSG Betah di Level 6.600 Pagi Ini, Cek Saham TAPG dan BUMI

Bisnis | Selasa, 08 September 2026 | 09:19 WIB

Febrie Kembali Diperiksa Tim 9 Kejagung, Kali Ini Terkait Asabri dan Jiwasraya!

Febrie Kembali Diperiksa Tim 9 Kejagung, Kali Ini Terkait Asabri dan Jiwasraya!

News | Selasa, 08 September 2026 | 09:17 WIB

Buku 'Islam Ala Prabowo' Isinya Tentang Apa? Intip Bocoran Pembahasannya

Buku 'Islam Ala Prabowo' Isinya Tentang Apa? Intip Bocoran Pembahasannya

News | Selasa, 08 September 2026 | 09:15 WIB

JBL Bawa AI ke Mikrofon Mini, Bisa Pisahkan Vokal Lagu Secara Real-Time

JBL Bawa AI ke Mikrofon Mini, Bisa Pisahkan Vokal Lagu Secara Real-Time

Tekno | Selasa, 08 September 2026 | 09:15 WIB

AI Xiaomi Tak Lagi Cuma di Layar, Kini Mulai Mengatur Rumah dan Mobil

AI Xiaomi Tak Lagi Cuma di Layar, Kini Mulai Mengatur Rumah dan Mobil

Tekno | Selasa, 08 September 2026 | 09:15 WIB

Purbaya Bantah Gaji ASN Daerah Kini Dibayar dari Bank Himbara

Purbaya Bantah Gaji ASN Daerah Kini Dibayar dari Bank Himbara

Bisnis | Selasa, 08 September 2026 | 09:13 WIB

Yusril Bantah Jadi Sponsor Buku Islam ala Prabowo: Saya Cuma Orang yang Diwawancara

Yusril Bantah Jadi Sponsor Buku Islam ala Prabowo: Saya Cuma Orang yang Diwawancara

News | Selasa, 08 September 2026 | 09:08 WIB

Pelita Air Mulai Layani Penerbangan dari ke Jakarta

Pelita Air Mulai Layani Penerbangan dari ke Jakarta

Bisnis | Selasa, 08 September 2026 | 09:08 WIB

Purbaya Klaim Erupsi Anak Krakatau Belum Berdampak ke Ekonomi RI, Beda dari Banjir Sumatra

Purbaya Klaim Erupsi Anak Krakatau Belum Berdampak ke Ekonomi RI, Beda dari Banjir Sumatra

Bisnis | Selasa, 08 September 2026 | 09:03 WIB

Nyawa Melayang di Ruang Tamu, Pelaku Pembunuhan Banjar Agung Akhirnya Menyerah

Nyawa Melayang di Ruang Tamu, Pelaku Pembunuhan Banjar Agung Akhirnya Menyerah

Lampung | Selasa, 08 September 2026 | 09:01 WIB

×