Pembunuhan 4 Anak Di Jagakarsa: Polisi Dituduh lamban Dan Mengabaikan KDRT

Bangun Santoso

Senin, 11 Desember 2023 | 10:34 WIB
Pembunuhan 4 Anak Di Jagakarsa: Polisi Dituduh lamban Dan Mengabaikan KDRT
TKP pembunuhan empat anak di Jagakarsa

Suara.com - Kasus pembunuhan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, disebut pengamat menjadi bukti bahwa penanganan perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan kepolisian masih buruk lantaran kurang cepat mengidentifikasi potensi terjadinya kejahatan yang berujung pada pembunuhan empat anak.

Komisioner Komnas Perempuan, Retty Ratnawati, berkata jika berkaca pada peristiwa itu maka idealnya polisi harus memisahkan pelaku dengan keluarga atau siapapun yang berpotensi menjadi korban.

Hanya saja, menurut Ketua YLBHI Muhamad Isnur, polisi seringkali tidak paham karena minim kemampuan dan kemauan.

Sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Djuhandani, mengatakan penanganan kasus KDRT menurun dalam tiga tahun terakhir.

Dia pun memastikan Polri serius menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan terus menyempurnakan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

Apa yang terjadi pada kasus di Jagakarsa?

Publik kembali digemparkan oleh kasus pembunuhan empat anak di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (06/12) lalu.

Empat anak itu berusia 6 tahun, 4 tahun, 3 tahun, dan 1 tahun.

Kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Bintoro, mengatakan jasad keempatnya ditemukan berjejer di kasur salah satu kamar pada pukul 14.50 WIB.

Mereka diduga dihabisi oleh ayahnya, yakni Panca yang dilaporkan ditemukan di kamar mandi rumah kontrakan tersebut dengan kondisi kedua pergelangan tangan penuh luka dan mengeluarkan darah

baca juga

Di lokasi kejadian perkara, polisi menemukan sebilah pisau di dekat tubuh pelaku.

"Masih dalam penyelidikan. Yang jelas orang tua ini [ayah] yang diduga sebagai pelaku hendak bunuh diri juga, tapi masih selamat," ujar Bintoro.

Berdasarkan keterangan polisi, pelaku sudah dilaporkan atas kasus KDRT terhadap istrinya pada Sabtu (02/12).

Itu artinya laporan tersebut dilayangkan sebelum keempat bocah tersebut ditemukan meninggal.

Akan tetapi polisi belum sempat menangani kasus KDRT itu dengan alasan keempat anaknya tak bisa ditinggal sendiri.

Pasalnya istri pelaku yakni D sedang dirawat di rumah sakit karena diduga sudha terlebih dulu dianiaya pelaku.

"Saudara P meminta adanya penundaan laporan pemeriksaan karena saat itu ibunya korban ada di rumah sakit dan P beralasan sedang menunggu empat anaknya," ucap Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan.

Idealnya polisi memisahkan pelaku dengan korban KDRT

Komisioner Komnas Perempuan, Retty Ratnawati, mengaku menyesalkan tindakan polisi yang disebutnya kurang tegas untuk memisahkan pelaku dengan anak-anak korban KDRT.

Tujuannya, kata dia, untuk menghindari tindakan negatif yang kemungkinan bakal dilakukan pelaku akibat dari kondisi psikologisnya yang tidak baik.

Pasalnya kasus KDRT cenderung berulang dan bisa menimpa siapapun yang ada dalam lingkungan keluarga.

"Idealnya kalau kasus KDRT sudah sampai di polisi, mereka harus dipisahkan, harus ada rumah aman atau apapun untuk pemisahan. Karena secara logika bahaya," ucap Retty Ratnawati kepada BBC News Indonesia.

Yang dia sesalkan juga, kesadaran masyarakat untuk melindungi korban KDRT masih kurang.

Padahal jika terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga masyarakat bisa bertindak dengan melaporkan ke polisi atau lembaga pelayanan seperti dinas sosial untuk melindungi anak-anak yang berpotensi menjadi korban KDRT.

"Warga bisa berbuat sesuatu dengan membawa ke lembaga pelayanan atau menenangkan pelaku... dalam konteks ini idealnya masyarakat juga aware."

Catatan Tahunan Komnas Perempuan kasus kekerasan yang terjadi di ranah personal menjadi yang paling banyak dilaporkan sepanjang tahun 2023 yakni sebanyak 2.098 kasus.

Mengapa polisi dituduh lamban tangani kasus KDRT?

Pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Citra Referandum, menyebut penanganan perkara KDRT oleh kepolisian masih buruk lantaran kurang cepat mengidentifikasi potensi terjadinya kejahatan yang berujung pada pembunuhan.

Dalam beberapa kasus yang ditangani lembaganya, polisi sering "mengabaikan" pelaporan KDRT seperti menunda-nunda proses penyelidikan dan penyidikan.

Bahkan ada kalanya, kata Citra, polisi menyudutkan korban KDRT.

"Pernah ditemukan dalam proses penyelidikan polisi membebankan pembuktian ke korban," ucapnya kepada BBC News Indonesia.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhamad Isnur, mengatakan ada tiga persoalan di kepolisian yang membuat penanganan kasus KDRT tak serius.

Pertama, dalam konteks penindakan sering kali polisi tidak paham bagaimana menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Meskipun UU KDRT sudah ada sejak tahun 2004, tapi nyatanya unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) -yang bertugas memberikan pelayanan dalam bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kejahatan- hanya sampai Polres.

Sementara peristiwa KDRT banyak terjadi di wilayah-wilayah terkecil.

"Unit PPA tidak sampai ke polsek, di polsek yang menangani kasus KDRT cowok dan mereka tidak paham."

Kedua, polisi sering kali tidak berpihak pada korban dan tunduk pada tekanan keluarga pelaku apalagi jika berasal dari kalangan berada.

Ketiga, polisi juga kerap menjadi mediator antara korban dan pelaku.

"Di lapangan negosiasi-negosiasi terjadi. Jadi si korban karena tidak didampingi pendamping hukum, tidak paham. Akhirnya maju mundur kasusnya. Polisi kadang memediasi yang seharusnya tidak dimediasi."

"Jadi di samping polisi bermasalah tidak punya kemampuan dan tidak ada kemauan... banyak yang polisi kayak malas menangani kasus KDRT karena dianggap tidak ada uangnya."

Apa komitmen Polri?

Sejalan dengan YLBHI, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Pungki Indarti, menyebut polisi kurang peka terhadap laporan kasus-kasus KDRT.

Termasuk, sambungnya, kurang sensitif gender di kalangan penyidik maupun anggota Polri yang bertugas menerima pengaduan.

Sehingga terkadang bergerak lamban dan akibatnya fatal, sebut Pungki.

Pemantauannya setidaknya ada empat kasus KDRT yang menjadi sorotan akibat dari kurang sensitifnya polisi.

Seperti yang terjadi di Depok pada Juni lalu --ketika polisi menetapkan korban KDRT sebagai tersangka setelah dilaporkan oleh suaminya.

Meski akhirnya polisi menghentikan laporan sang suami dan menyeretnya menjadi tersangka sebulan kemudian.

Lalu kasus lainnya adalah kasus penganiayaan terhadap istri yang sedang hamil oleh suaminya di Tangerang Selatan pada Juli lalu.

"Yang saya sesalkan adalah suaminya tidak langsung ditahan."

Berikutnya kasus seorang istri di Bekasi, Jawa Barat, yang meninggal akibat dianiaya sang suami pada si istri sudah melaporkan KDRT suaminya ke kepolisian.

Peristiwa itu terjadi pada September lalu, ibu muda berinisial MSD berusia 24 tahun diduga dibunuh suaminya Nando menggunakan pisau dapur.

Terakhir adalah kasus di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Hal ini harus dicegah dengan menanamkan pada pimpinan untuk alert terhadap laporan kasus KDRT, sehingga dapat segera memerintahkan penahanan kepada pelakunya," ujar Pungki.

Pungki mengatakan Polri sudah harus menggiatkan pendidikan sensitif gender kepada petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) maupun para penyidik.

Selain juga penting memiliki buku panduan dan cara bertindak bagi aparat kepolisian kalau menerima laporan KDRT.

"Kami khawatir mindset berpikir yang keliru, antara lain menganggap masalah rumah tangga adalah masalah internal suami istri dan adanya budaya tabu mengumbar masalah keluarga, itulah yang menghambat anggota untuk berpikir dan bertindak cepat."

Data e-MP Robinopsnal Bareskrim Polri menyebutkan kepolisian menindak 5.271 kasus KDRT sejak awal tahun 2022.

Kekerasan meliputi fisik, seksual, penelantaran, hingga bentuk kekerasan lain.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Djuhandani, mengatakan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani kepolisian dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan.

"Namun tetap perlu diwaspadai bahwa angka yang dilaporkan tersebut belum tentu menunjukkan angka yang sebenarnya terjadi di masyarakat," katanya.

Ia memastikan, Polri serius menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Saat ini, pelayanan terbaik dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) pun terus disempurnakan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jenazah Empat Anak Korban Pembunuhan Ayah Kandung di Jagakarsa Telah Dimakamkan Keluarga di Sawangan Depok

Jenazah Empat Anak Korban Pembunuhan Ayah Kandung di Jagakarsa Telah Dimakamkan Keluarga di Sawangan Depok

News | Senin, 11 Desember 2023 | 03:15 WIB

Empat Anak Korban Pembunuhan Di Jagakarsa Dimakamkan Di Sawangan Depok Sore Ini

Empat Anak Korban Pembunuhan Di Jagakarsa Dimakamkan Di Sawangan Depok Sore Ini

News | Minggu, 10 Desember 2023 | 15:45 WIB

Tak Ada Satupun Keluarga Jenguk Korban Maupun Tersangka Pembunuhan Anak Di Jagakarsa

Tak Ada Satupun Keluarga Jenguk Korban Maupun Tersangka Pembunuhan Anak Di Jagakarsa

News | Minggu, 10 Desember 2023 | 14:40 WIB

Jasad 4 Anak Korban Pembunuhan Jagakarsa Belum Diambil Keluarga, Begini Kata RS Polri

Jasad 4 Anak Korban Pembunuhan Jagakarsa Belum Diambil Keluarga, Begini Kata RS Polri

News | Minggu, 10 Desember 2023 | 13:49 WIB

Bakal Dites Kejiwaan, Panca Pembunuh 4 Anak Di Jagakarsa Akan Diobservasi 2 Pekan

Bakal Dites Kejiwaan, Panca Pembunuh 4 Anak Di Jagakarsa Akan Diobservasi 2 Pekan

News | Minggu, 10 Desember 2023 | 13:36 WIB

Panca Darmansyah, Ayah Gila Dari Jagakarsa

Panca Darmansyah, Ayah Gila Dari Jagakarsa

News | Minggu, 10 Desember 2023 | 08:41 WIB

Panca Pembunuh 4 Anak di Jagakarsa Kerja Apa? Pengangguran hingga Nunggak Cicilan

Panca Pembunuh 4 Anak di Jagakarsa Kerja Apa? Pengangguran hingga Nunggak Cicilan

News | Sabtu, 09 Desember 2023 | 16:00 WIB

Terkini

Akulaku Group Salurkan Bantuan Pangan bagi Masyarakat Terdampak Gempa Bumi NTT

Akulaku Group Salurkan Bantuan Pangan bagi Masyarakat Terdampak Gempa Bumi NTT

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:07 WIB

Pemkot Batam Gelar Pasar Murah 15-17 September, Catat Lokasinya!

Pemkot Batam Gelar Pasar Murah 15-17 September, Catat Lokasinya!

Batam | Senin, 14 September 2026 | 19:04 WIB

Kisah Ahda Dhiyaurrohman, Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Solo, Nekat Merantau Tanpa Restu Ortu

Kisah Ahda Dhiyaurrohman, Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Solo, Nekat Merantau Tanpa Restu Ortu

Surakarta | Senin, 14 September 2026 | 19:01 WIB

Kabut Asap Palembang, KAI Bagikan 2.800 Masker untuk Lindungi Pekerja Operasional

Kabut Asap Palembang, KAI Bagikan 2.800 Masker untuk Lindungi Pekerja Operasional

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:01 WIB

TNI AL Lanjutkan Pencarian Speedboat Jurnalis Hilang Kontak

TNI AL Lanjutkan Pencarian Speedboat Jurnalis Hilang Kontak

Video | Senin, 14 September 2026 | 19:00 WIB

Purbaya Dicopot: Kisruh Rekening Massal, Rp100 Miliar Jual Beli Jabatan dan Rombak Ratusan Pejabat

Purbaya Dicopot: Kisruh Rekening Massal, Rp100 Miliar Jual Beli Jabatan dan Rombak Ratusan Pejabat

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 18:57 WIB

Color Corrector Ungu untuk Apa? Kenali Fungsinya dalam Makeup

Color Corrector Ungu untuk Apa? Kenali Fungsinya dalam Makeup

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 18:55 WIB

Izin Tambang Dicabut, Greenpeace Tagih Janji Perusahaan Pulihkan Ekologi Raja Ampat

Izin Tambang Dicabut, Greenpeace Tagih Janji Perusahaan Pulihkan Ekologi Raja Ampat

News | Senin, 14 September 2026 | 18:54 WIB

Mulai Kekeringan, Langit Jakarta Masih Nihil Awan Hujan Usai 5 Kali Modifikasi Cuaca

Mulai Kekeringan, Langit Jakarta Masih Nihil Awan Hujan Usai 5 Kali Modifikasi Cuaca

News | Senin, 14 September 2026 | 18:49 WIB

Kunjungi SCCR Indonesia, Gubernur Khofifah Dorong Penguatan Riset Kesehatan di Jatim

Kunjungi SCCR Indonesia, Gubernur Khofifah Dorong Penguatan Riset Kesehatan di Jatim

Jatim | Senin, 14 September 2026 | 18:47 WIB

×