Sejarah dan Tradisi Prosesi Tabuh Gamelan Sekaten yang Ricuh Hingga Menantu Pakubuwana Dicekik

Rifan Aditya

Rabu, 11 September 2024 | 19:04 WIB
Sejarah dan Tradisi Prosesi Tabuh Gamelan Sekaten yang Ricuh Hingga Menantu Pakubuwana Dicekik
Ilustrasi menabuh gamelan (Freepik/reezky11)

Suara.com - Baru-baru ini, acara Sekaten Kraton Solo di Masjid Agung Surakarta diwarnai kerusuhan ketika tradisi tabuh gamelan dimulai. Kerusuhan itu berawal dari perdebatan mengenai siapa yang berhak untuk menabuh gamelan pertama kali atau prosesi Ngungelaken Gangsa dalam kegiatan tersebut.

Ironisnya, menantu SISKS Pakubuwana XIII Hangabehi, KRA Rizki Baruna Aji Diningrat menjadi korban dalam kerusuhan itu karena didorong dan dicekik orang tak dikenal. Tradisi tabuh gamelan Sekaten yang seharusnya mengawali proses skaral dan syarat budaya tercoreng karena ada aksi saling dorong ini.  

Sontak saja, acara Sekaten yang digelar pada Senin (9/9/2024) siang itu menjadi pusat perhatian masyarakat. Banyak juga yang mempertanyakan, seperti apa sejarah dan tradisi tabuh gamelan Sekaten yang sebenarnya? 

Sejarah dan Tradisi Prosesi Tabuh Gamelan Sekaten

Sekaten adalah upacara tradisional yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara Sekaten ini biasanya akan diselenggarakan secara periodik satu tahun sekali, yaitu setiap 5 sampai 11 Rabiul Awal (dalam kalender Jawa disebut Mulud).

Kemudian, upacara akan ditutup pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan menyelenggarakan Grebeg Maulud. Grebeg adalah tradisi masyarakat Solo untuk memperebutkan berbagai macam hasil bumi yang disusun menjadi beberapa gunungan.

Sementara itu, sekaten sendiri berasal dari kata syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Di mana secara simbolik, dua kalimat syahadat itu direpresentasikan dalam dua perangkat gamelan Sekaten, yaitu Kanjeng Kyai Guntur Sari dan Kanjeng Kyai Guntur Madu yang ditabuh secara bergantian.

Gamelan Sekaten adalah perangkat gamelan yang dibunyikan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, di mana gamelan ini akan dibunyikan selama tujuh hari. Dua perangkat gamelan itu ditempatkan di tempat yang berbeda, yaitu di Bangsal Pradangga Kidul dan Bangsal Pradangga Lor yang keduanya terletak di halaman Masjid Agung di kawasan Keraton Surakarta.

Gamelan Sekaten tidak terlepas peranan kerajaan-kerajaan Islam ketika para wali di Jawa menyebarkan ajaran agama Islam. Saat Islam masuk ke Jawa, masyarakat setempat telah memeluk agama Hindu dan Buddha yang menyertakan gamelan sebagai kesenian atau upacara ritual.

baca juga

Dengan kondisi masyarakat itulah, lantas Sunan Kalijaga mengusulkan untuk menggunakan gamelan sebagai daya tarik penyebaran agama Islam. Gamelan Sekaten sebagai penyebaran Islam telah dilakukan oleh para walisanga sejak Kesultanan Demak.

Nah, budaya ini masih dipertahankan hingga masa sekarang, salah satunya oleh Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta. Jika di Keraton Yogya, gamelan sekaten-nya diberi nama Gamelan Sekati yang terdiri dari dua rancak yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo. 

Prosesi Tabuh Gamelan Sekaten

Diketahui, bahwa anatomi gendhing sekaten secara lengkap terdiri dari racikan, umpak, gendhing (lagu pokok), dan suwukan.

Racikan adalah komposisi musikal yang merupakan pengenalan dalam setiap gendhing Sekaten, sedangkan umpak adalah potongan melodi yang digunakan sebagai jembatan dari racikan menuju lagu pokok.

Lalu, suwukan adalah melodi pendek yang khusus dibunyikan saat gendhing akan berhenti. Racikan inilah yang diekspresikan pengrawit (musisi) menggunakan instrumen bonang dengan serangkaian melodi.

Sementara itu, instrumen lainnya akan memberikan keserempakan bunyi dengan nada yang sama. Penyajian gending yang berpasangan adalah penerapan konsep budaya Jawa, yaitu keseimbangan hidup. Di mana dalam budaya Jawa, keseimbagan sangat penting karena erat kaitannya dengan citra nilai-nilai etika dan estetika budaya.

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sejarah Gamelan Sekaten, Tradisi Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Solo

Sejarah Gamelan Sekaten, Tradisi Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Solo

Lifestyle | Rabu, 11 September 2024 | 15:46 WIB

Gaung Gamelan Menutup Festival Internasional Yogyakarta Gamelan Festival ke-29

Gaung Gamelan Menutup Festival Internasional Yogyakarta Gamelan Festival ke-29

Entertainment | Senin, 12 Agustus 2024 | 11:28 WIB

Semarak Malam Puncak Yogyakarta Gamelan Festival 2024, Wadah Eksistensi Ribuan Pencinta Gamelan

Semarak Malam Puncak Yogyakarta Gamelan Festival 2024, Wadah Eksistensi Ribuan Pencinta Gamelan

Your Say | Senin, 12 Agustus 2024 | 10:55 WIB

Ladrang Piweling dan Gundhul-gundhul Pacul Menutup Acara Puncak Yogyakarta Gamelan Festival 2024

Ladrang Piweling dan Gundhul-gundhul Pacul Menutup Acara Puncak Yogyakarta Gamelan Festival 2024

Entertainment | Senin, 12 Agustus 2024 | 10:44 WIB

Terkini

Ingin Pensiun Nyaman? Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo

Ingin Pensiun Nyaman? Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo

Sumbar | Selasa, 15 September 2026 | 18:05 WIB

20 Ribu Prompt Belum Tentu Jadi Hak Cipta, Pakar Soroti Batas Karya AI

20 Ribu Prompt Belum Tentu Jadi Hak Cipta, Pakar Soroti Batas Karya AI

Jawa Tengah | Selasa, 15 September 2026 | 18:04 WIB

Patroli Titik Rawan Karhutla, Pesawat Khusus Disiagakan Amankan Habitat Gajah Sumatra di Jambi

Patroli Titik Rawan Karhutla, Pesawat Khusus Disiagakan Amankan Habitat Gajah Sumatra di Jambi

News | Selasa, 15 September 2026 | 18:04 WIB

Breakingnews! Arab Saudi Umumkan Waspada Serangan Udara ke Makkah dan Jeddah

Breakingnews! Arab Saudi Umumkan Waspada Serangan Udara ke Makkah dan Jeddah

News | Selasa, 15 September 2026 | 18:04 WIB

DBH Kurang Bayar Sumsel Hampir Rp1 Triliun, Fiskal Daerah Masih Tertekan

DBH Kurang Bayar Sumsel Hampir Rp1 Triliun, Fiskal Daerah Masih Tertekan

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 18:00 WIB

Jangan Campur Dompet Pribadi dan Bisnis! Ini Cara Atur Keuangan ala BRI

Jangan Campur Dompet Pribadi dan Bisnis! Ini Cara Atur Keuangan ala BRI

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 18:00 WIB

Ada OTT KPK di Kantah Bogor, Wamen ATR/BPN Jamin Pelayanan Masyarakat Tak Terganggu

Ada OTT KPK di Kantah Bogor, Wamen ATR/BPN Jamin Pelayanan Masyarakat Tak Terganggu

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:59 WIB

Masa Pensiun Lebih Tenang, Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo

Masa Pensiun Lebih Tenang, Siapkan Dana Sejak Dini lewat BRI DPLK di BRImo

Riau | Selasa, 15 September 2026 | 17:57 WIB

Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini, Buka BRI DPLK via BRImo dan Raih Bonus

Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini, Buka BRI DPLK via BRImo dan Raih Bonus

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 17:53 WIB

Komdigi Rilis 22 Daftar Platform Digital Berisiko Tinggi bagi Anak, Orangtua Perlu Waspada

Komdigi Rilis 22 Daftar Platform Digital Berisiko Tinggi bagi Anak, Orangtua Perlu Waspada

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:52 WIB

×