Buka Tutup Jalur Puncak Telah Dilakukan Sejak 40 Tahun Lalu, Kenapa Masih Sering Macet?

Chandra Iswinarno, Lilis Varwati

Selasa, 17 September 2024 | 23:55 WIB
Buka Tutup Jalur Puncak Telah Dilakukan Sejak 40 Tahun Lalu, Kenapa Masih Sering Macet?
Jalur Puncak Bogor di Simpang Gadok mengalami kepadatan pada Sabtu (1/5/2024). [ANTARA/M Fikri Setia]

Suara.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyoroti secara serius kejadian macet di Puncak, Bogor, yang terjadi selama belasan jam.

Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis Fadjar Hutomo menyebut bahwa Puncak tetap macet meski telah dilakukan rekayasa lalu lintas dengan menetapkan satu arah atau one way setiap akhir pekan dan hari libur nasional. 

Rekayasa lalu lintas tersebut, dikatakan Fadjar, telah diberlakukan sejak 40 tahun lalu. Namun, kemacetan di jalur Puncak memang masih selalu berulang. 

"Kalau mencermati kondisi di puncak, rekayasa lalu lintas, bahkan one way, sudah dilakukan 40 tahun lebih. Artinya sudah sedemikian rupa," kata Fadjar saat konferensi pers bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Jakarta, Selasa (17/9/2024). 

Hanya saja, kemacetan di jalur Puncak penyebabnya memang selalu multifaktor.

Seperti saat terjadi pekan lalu, Fadjar menyebutkan kalau volume pergerakan wisatawan nusantara ke arah destinasi Puncak meningkat. 

Satlantas Bogor mencatat, jumlah kendaraan yang melintas di jalur Puncak pada Minggu (15/9/2024) kemarin mencapai lebih dari 2 ribu dalam satu jam. Padahal, kapasitasnya hanya cukup hingga 1.500 kendaraan. 

Di sisi lain, peningkatan jumlah wisatawan nusantara itu juga disyukuri oleh Kemenparekraf. Namun, Fadjar juga menekankan, perlu adanya perbaikan sistem untuk mengantisipasi macet setiap ada libur panjang. 

"Terjadi minat begitu tinggi. Bahkan kalau diamati beberapa pemberitaan bukan hanya Puncak (yang macet) tapi juga beberapa destinasi lain. Ada di Gunung Kidul. Bahkan bukan hanya jalan raya, sungai ada atraksi rakit macet juga. Ini satu hal perlu disyukuri peningkatan wisatawan nusantara. Tapi pariwisata sebagai kegiatan melibatkan manusia perlu hal-hal diantisipasi mengenai kenaikan wisatawan," tuturnya.

Fadjar menyampaikan, penanganan macet berlebihan di area wisata tidak hanya menjadi tanggungjawab Kemenparekraf. Tapi perlu juga kerjasama antar sektor untuk membenahi persoalan tersebut.

"Ini sesuatu yang berulang, sehingga ke depan perlu diantisipasi oleh multi pemangku kepentingan. Ada Kemenhub, PUPR yang membangun jalan, ini tentu perlu disiapkan antisipasi," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Horor Kemacetan di Puncak, Menparekraf Sandiaga Uno Sampaikan Permintaan Maaf

Horor Kemacetan di Puncak, Menparekraf Sandiaga Uno Sampaikan Permintaan Maaf

News | Selasa, 17 September 2024 | 22:32 WIB

Horor Kemacetan di Puncak Libur Akhir Pekan, Pemkab Bogor Ngaku Sudah Diprediksi, Tapi...

Horor Kemacetan di Puncak Libur Akhir Pekan, Pemkab Bogor Ngaku Sudah Diprediksi, Tapi...

News | Selasa, 17 September 2024 | 18:59 WIB

Kata Warga Cisarua, Kemacetan Horor Libur Maulid Nabi Lebih Parah dari Lebaran dan Tahun Baru

Kata Warga Cisarua, Kemacetan Horor Libur Maulid Nabi Lebih Parah dari Lebaran dan Tahun Baru

News | Senin, 16 September 2024 | 22:36 WIB

Terkini

Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!

Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:10 WIB

Mirip-mirip One Piece, Wibu Jogja Sebut Penguasa Saat Ini Menindas Rakyat Kecil

Mirip-mirip One Piece, Wibu Jogja Sebut Penguasa Saat Ini Menindas Rakyat Kecil

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:05 WIB

Sambil Menangis, Kepala BGN Ungkap Kekecewaan: Saya Tak Tega, Niat Baik Prabowo Dikhianati

Sambil Menangis, Kepala BGN Ungkap Kekecewaan: Saya Tak Tega, Niat Baik Prabowo Dikhianati

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:50 WIB

Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser

Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:15 WIB

Komunitas Muratara Bernafas: Penertiban PETI Percuma Tanpa Penataan Wilayah dari Pemerintah

Komunitas Muratara Bernafas: Penertiban PETI Percuma Tanpa Penataan Wilayah dari Pemerintah

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:01 WIB

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam, Lalu Apa Pemantiknya?

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam, Lalu Apa Pemantiknya?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:35 WIB

Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar

Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:05 WIB

Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni

Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:51 WIB

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:16 WIB

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:58 WIB