Situs Kelahiran Buddha di Nepal Terancam Punah: Mengapa Ini Terjadi?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 28 Januari 2025 | 15:49 WIB
Situs Kelahiran Buddha di Nepal Terancam Punah: Mengapa Ini Terjadi?
Lumbini Tempat Kelahiran Buddha di Nepal. (Dok. BBC Indonesia)

Suara.com - Lumbini, Nepal, tempat kelahiran Buddha, telah tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1997. Sayangnya, situs ini kini terancam masuk dalam daftar warisan yang berada dalam bahaya.

Di lokasi ini, terdapat Kuil Mayadevi yang menyimpan batu penanda. Batu tersebut dipercaya menandai tempat lahirnya Buddha sekitar 2.600 tahun silam. Kuil ini dikelilingi oleh 14 biara yang didirikan oleh umat Buddha dari berbagai negara, termasuk Korea dan Prancis.

"Orang-orang datang ke sini dari seluruh dunia untuk mencari kebahagiaan dan kedamaian," kata Khenpo Phurpa Sherpa, seorang biksu dari biara Singapura seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Tetapi mengunjungi kuil ini selama musim panas bisa menjadi tantangan, tambahnya.

"Umat tidak dapat tinggal di dalam kuil lebih dari beberapa menit karena sangat panas, lembab, dan menyesakkan".

 Salah satu alasan UNESCO merekomendasikan Lumbini masuk dalam daftar Warisan Dunia yang terancam punah adalah kondisi di dalam kuil. UNESCO menyoroti bahwa kerusakan pada fitur utama situs ini mencerminkan "kondisi konservasi yang memprihatinkan."

Polusi udara, pembangunan komersial, kawasan industri, dan salah kelola menjadi ancaman utama bagi kelestarian Lumbini. Meski begitu, UNESCO memberikan kesempatan kepada pihak berwenang Nepal untuk memulihkan situs bersejarah ini.

Pemerintah Nepal diberi waktu hingga 1 Februari 2025 untuk memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan.

Dari Polusi Hingga Tergenang Air

Situs suci Lumbini menarik sekitar satu juta pengunjung setiap tahunnya, namun banyak yang kecewa dengan kondisi di lokasi. Udara tercemar asap pabrik, bau sampah mengganggu, dan taman terlihat tidak terawat, bahkan tergenang air.

"Kami hanya berlarian dari satu tempat ke tempat lain tanpa informasi. Seharusnya ada peta dan panduan untuk pengunjung," keluh Prabhakar Rao, seorang turis asal India kepada BBC.

Kekecewaan juga dirasakan warga lokal. Manoj Chaudhary, seorang pengemudi taksi, mengungkapkan keresahannya.

"Pengelolaan sangat buruk. Sampah di sekitar sini tidak pernah diangkut," ujarnya kepada BBC.

Kerusakan di dalam dan sekitar Kuil Mayadevi semakin memprihatinkan. Atap kuil bocor, batu bata kuno dipenuhi jamur akibat rembesan air, bahkan pohon muda yang ditanam Sekjen PBB Antonio Guterres pada kunjungannya tahun lalu sudah layu.

UNESCO menilai kondisi tersebut menjadi alasan untuk menempatkan Lumbini dalam daftar Warisan Budaya yang terancam punah. Selain itu, mereka juga menyoroti dampak buruk dari proyek-proyek besar seperti pariwisata dan infrastruktur terhadap situs ini.

Pada 2022, aula meditasi berkapasitas 5.000 orang dibangun hanya dua kilometer dari Kuil Mayadevi. UNESCO menganggap proyek ini berpotensi merusak Nilai Universal Luar Biasa (OUV) situs, yang menjadi alasan utama Lumbini masuk dalam daftar Warisan Dunia.

Rencana ambisius pemerintah Nepal pada 2014 untuk mengembangkan Lumbini sebagai "Kota Perdamaian Dunia" dengan investasi asing lebih dari US$760 juta juga menuai kritik tajam, termasuk dari UNESCO. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan secara diam-diam.

"Dampak buruk terhadap OUV Lumbini menjadi kekhawatiran utama," demikian laporan UNESCO pada 2022.

Mengapa Ini Terjadi?

Pada tahun 1978, PBB dan pemerintah Nepal menyusun rencana untuk mengembangkan Lumbini. Rencana ini mencakup pemugaran Kuil Mayadevi, pembangunan zona biara, dan desa baru, dengan tujuan menciptakan suasana spiritualitas, kedamaian, dan persaudaraan universal.

Setelah dua kali gagal, Lumbini akhirnya diakui sebagai Situs Warisan Dunia pada 1997.

"Kami bekerja sama erat dengan UNESCO saat membangun kembali Kuil Mayadevi," ujar Basant Bidari, mantan kepala arkeolog Lumbini.

Kosh Prasad Archarya, mantan kepala Departemen Arkeologi Nepal, mengaku ikut terlibat dalam proses ini. Namun, ia merasa bahwa upaya perawatan dan pelestarian situs tersebut menurun drastis setelahnya.

"Bukan hanya karena kurangnya dana, tetapi juga karena sikap kita yang kurang serius," katanya kepada BBC.

Sementara otoritas Nepal melobi agar Lumbini tidak masuk daftar Situs Warisan Dunia yang terancam punah, Archarya masih meragukan keseriusan mereka dalam menanggapi kekhawatiran UNESCO sebelum batas waktu Februari.

Masalahnya lebih kompleks, salah satunya terkait politik.

"Alih-alih memilih ahli yang kompeten untuk mengelola Lumbini, pemerintah sering menunjuk orang yang kurang memahami pelestarian warisan," kata Deep Kumar Upadhyaya, mantan menteri kebudayaan Nepal.

Menteri Kebudayaan saat ini, Badri Prasad Pandey, mengakui kritik tersebut.

"Kesucian Lumbini harus dilestarikan. Kami juga perlu mencegah korupsi," ujarnya.

Pengelola situs, Lumbini Development Trust (LDT), kini bekerja sama dengan UNESCO untuk mengatasi beberapa masalah. Kepala eksekutif LDT, Lharkyal Lama, mengatakan mereka telah mengundang ahli untuk melindungi batu bata kuno dari jamur dan menangani rembesan air di kuil.

"Lumbini harus dilindungi dengan segala cara," ujar Midari, yang telah mengabdikan empat dekade untuk melestarikan situs tersebut, dengan air mata berlinang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Candi Sojiwan, Candi Bercorak Buddha yang Tersembunyi di Prambanan

Candi Sojiwan, Candi Bercorak Buddha yang Tersembunyi di Prambanan

Your Say | Senin, 11 November 2024 | 16:22 WIB

Cek Fakta: Umat Buddha Solat di Masjid, Benarkah?

Cek Fakta: Umat Buddha Solat di Masjid, Benarkah?

News | Jum'at, 26 Juli 2024 | 21:02 WIB

Makna Kirab Waisak, Dilakukan Umat Buddha dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Makna Kirab Waisak, Dilakukan Umat Buddha dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Lifestyle | Kamis, 23 Mei 2024 | 16:04 WIB

Terkini

Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan

Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:36 WIB

BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama

BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:34 WIB

Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya

Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:31 WIB

Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi

Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:21 WIB

Wamendagri Wiyagus: Desa Berperan Penting Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Wamendagri Wiyagus: Desa Berperan Penting Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:05 WIB

Heboh Isu SDN di Ende Digusur Jadi Kopdes, Jenderal Maruli: Gak Normal kalau Membubarkan Sekolah

Heboh Isu SDN di Ende Digusur Jadi Kopdes, Jenderal Maruli: Gak Normal kalau Membubarkan Sekolah

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:55 WIB

Dilema Driver Ojol Pilih Mesin Motor Awet atau Kantong Jebol karena Harga Pertamax Naik

Dilema Driver Ojol Pilih Mesin Motor Awet atau Kantong Jebol karena Harga Pertamax Naik

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:42 WIB

Percepat Normalisasi Sungai, Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama dengan Pihak Ketiga

Percepat Normalisasi Sungai, Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama dengan Pihak Ketiga

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:36 WIB

Namanya Muncul dalam Kasus Korupsi BGN, Wakil Ketua KPK: Saya Tak Bisnis Dapur

Namanya Muncul dalam Kasus Korupsi BGN, Wakil Ketua KPK: Saya Tak Bisnis Dapur

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:27 WIB

Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:24 WIB