Kemenkes akan Deteksi Penyakit TBC, Daerah Padat Penduduk Jadi Target Utama

Bangun Santoso, Lilis Varwati

Minggu, 02 Februari 2025 | 11:31 WIB
Kemenkes akan Deteksi Penyakit TBC, Daerah Padat Penduduk Jadi Target Utama
Ilustrasi TBC. [Ist]

Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berupaya menemukan lebih banyak kasus tuberkulosis (TBC) dengan optimalisasi deteksi dini atau skrining. Masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk menjadi sasaran utama dalam penemuan kasus TBC tersebut.

Investigasi kontak juga dilakukan oleh tenaga kesehatan atau kader, dengan minimal 8 orang diperiksa untuk setiap kasus TBC yang ditemukan.

Sekretaris Ditjen Penanggulangan Penyakit Yudhi Pramono menjelaskan, alasan pemilihan daerah padat penduduk sebagai fokus utama temuan kasus tuberkulosis karema kelompok itu memiliki kepadatan orang yang tinggi dalam ruang terbatas.

Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit TBC, yang menular melalui udara saat seseorang yang terinfeksi TBC batuk atau bersin.

"Kepadatan penduduk berkaitan erat dengan tingginya angka kasus TBC, karena kondisi lingkungan tempat tinggal yang berpotensi mendukung penyebaran penyakit, terutama terkait sirkulasi udara yang buruk," kata Yudhi dalam keterangannya, dikutip Minggu (2/2/2025).

Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta menganalisis kejadian TBC di DKI Jakarta dari 2017 hingga 2019. Studi tersebut menyatakan bahwa kepadatan penduduk memiliki korelasi yang signifikan dengan peningkatan kasus TBC.

Kondisi ini terjadi karena kepadatan penduduk dapat mempercepat penularan penyakit melalui udara atau droplet, seperti TBC. Semakin padat suatu wilayah, semakin mudah kuman menyebar dan terhirup oleh banyak orang. Selain itu, kurangnya sirkulasi udara di daerah padat penduduk juga meningkatkan risiko infeksi dan mempercepat penyebaran penyakit.

Pemeriksaan tuberkulosis kini dapat dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), sebuah teknik yang mampu mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis (MTB) secara in vitro.

Yudhi menyampaikan kalau PCR TBC memiliki sensitivitas tinggi dan menjadi metode diagnostik cepat untuk TBC paru. PCR juga dapat mendeteksi resistensi MTB, yang tidak bisa ditemukan melalui metode mikroskopis (Bakteri Tahan Asam/BTA).

baca juga

"Cara kerja PCR TBC adalah dengan memperbanyak DNA secara enzimatis dan mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis berdasarkan siklus termal," imbuhnya.

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Dirjen P2P Nomor HK.02.02/III.1/936/2021, Tes Cepat Molekuler (TCM) ditetapkan sebagai alat diagnosis utama untuk TBC di Indonesia.

TCM adalah alat diagnostik cepat berbasis PCR yang mendeteksi bakteri MTB penyebab TBC. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki sekitar 2.430 TCM yang tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Tes ini menggunakan sampel dahak, tetapi tidak semua pasien mampu mengeluarkan dahak, sehingga menjadi tantangan dalam diagnosis.

Untuk mengatasi kendala dalam pengambilan spesimen dahak, kata Yudhi, tengah dilakukan studi validasi klinis alat diagnostik PCR menggunakan spesimen dari tongue swab atau usap lidah. Penelitian dilakukan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan dukungan dari Bill & Melinda Gates Foundation. Diperkirakan akan selesai pada Februari 2025.

Jika validasi berhasil, inovasi itu akan menjadi solusi dalam pengambilan spesimen yang lebih mudah, dibandingkan dengan spesimen dahak yang sulit diperoleh.

Pemerintah menargetkan eliminasi TBC di Indonesia pada 2030, sejalan dengan target global WHO. Dengan strategi yang terintegrasi dan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat, Indonesia semakin optimis dalam menekan angka kejadian TBC.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cegah TBC, DPRD DKI Jakarta Ajak Masyarakat Jalani Pola Hidup Sehat dan Bersih

Cegah TBC, DPRD DKI Jakarta Ajak Masyarakat Jalani Pola Hidup Sehat dan Bersih

News | Kamis, 05 Desember 2024 | 12:08 WIB

WHO Tetapkan TB Penyakit Menular Paling Mematikan, Eliminasi Harus Dimulai dari Pencegahan

WHO Tetapkan TB Penyakit Menular Paling Mematikan, Eliminasi Harus Dimulai dari Pencegahan

Health | Senin, 18 November 2024 | 14:21 WIB

Pemerintah Mau Eliminasi TBC 2030 Tapi Tak Berani Naikan Cukai Rokok, Memang Bisa?

Pemerintah Mau Eliminasi TBC 2030 Tapi Tak Berani Naikan Cukai Rokok, Memang Bisa?

News | Kamis, 03 Oktober 2024 | 16:01 WIB

Indonesia Kembali Dilibatkan Uji Vaksin, Menkes Budi Optimis 2030 Bisa Eliminasi TBC

Indonesia Kembali Dilibatkan Uji Vaksin, Menkes Budi Optimis 2030 Bisa Eliminasi TBC

News | Kamis, 26 September 2024 | 18:43 WIB

Beda Gejala Kanker Limfoma dan TBC, Semua Berawal dari Batuk?

Beda Gejala Kanker Limfoma dan TBC, Semua Berawal dari Batuk?

Health | Kamis, 26 September 2024 | 18:04 WIB

Selain Makan Bergizi Gratis, Prabowo Anggarkan Rp 8 Triliun Buat Berantas TBC

Selain Makan Bergizi Gratis, Prabowo Anggarkan Rp 8 Triliun Buat Berantas TBC

Bisnis | Kamis, 26 September 2024 | 14:36 WIB

Kasusnya Terbanyak di ASEAN, Indonesia Masih Kewalahan Tangani Penyakit TBC

Kasusnya Terbanyak di ASEAN, Indonesia Masih Kewalahan Tangani Penyakit TBC

News | Selasa, 20 Agustus 2024 | 21:04 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Health | Senin, 21 September 2026 | 23:37 WIB

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:31 WIB

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:16 WIB

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Video | Senin, 21 September 2026 | 23:10 WIB

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 23:02 WIB

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

Sumut | Senin, 21 September 2026 | 22:53 WIB

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Bogor | Senin, 21 September 2026 | 22:52 WIB

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 22:45 WIB

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 22:44 WIB

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

×