Meski Partai Liberal yang berkuasa telah mengalami penurunan popularitas dalam satu dekade terakhir, Carney optimistis dapat memanfaatkan sentimen patriotisme nasional untuk meraih kemenangan.
Ancaman Trump yang ingin menggabungkan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS dinilai akan menjadi pemicu utama gelombang dukungan bagi Carney.
Perang dagang yang dilancarkan Trump terhadap Kanada, dengan penerapan tarif tinggi pada impor utama, semakin memperburuk hubungan bilateral.
Kebijakan tersebut berpotensi merusak perekonomian Kanada secara signifikan, terutama di sektor ekspor.
“Pada masa krisis ini, pemerintah membutuhkan mandat yang kuat dan jelas,” tegas Carney dalam pidatonya di hadapan para pendukung di Edmonton, Inggris bagian barat, pada Kamis (21/3).
Isu Trump Mendominasi Kampanye
Biasanya, isu domestik seperti biaya hidup, layanan kesehatan, dan imigrasi mendominasi pemilu di Kanada. Namun, kali ini, kebijakan Trump menjadi isu utama yang menentukan arah kampanye.
Permusuhan terbuka Trump terhadap Kanada, yang selama ini menjadi sekutu dekat dan mitra NATO AS, telah mengubah lanskap politik negara tersebut.
Ancaman Trump untuk mencaplok Kanada memicu kekhawatiran nasional yang mendalam.
Justin Trudeau, yang telah menjabat sejak 2015, mengumumkan pengunduran dirinya di tengah menurunnya popularitas Partai Liberal.
Hingga beberapa minggu lalu, Partai Konservatif di bawah kepemimpinan Pierre Poilievre diprediksi unggul dalam pemilu.
Namun, kehadiran Carney membawa angin segar bagi Partai Liberal. Jajak pendapat menunjukkan bahwa popularitas Carney melonjak drastis sejak ia mengambil alih kepemimpinan partai.
Kini, persaingan antara Carney dan Poilievre diperkirakan akan berlangsung sangat ketat dan sulit diprediksi.
“Banyak yang menganggap ini sebagai pemilihan eksistensial, yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Felix Mathieu, ilmuwan politik dari Universitas Winnipeg, kepada AFP.
“Tidak mungkin untuk membuat prediksi pada tahap ini, tetapi ini akan menjadi pemilihan yang diawasi ketat dengan jumlah pemilih yang diperkirakan akan meningkat.” lanjutnya.
Poilievre Siap Menantang
Pierre Poilievre, 45 tahun, merupakan politikus karier yang pertama kali terpilih pada usia 25 tahun. Dikenal sebagai juru kampanye ulung, ia sering dicap sebagai penganut paham libertarian dan populis. Poilievre menawarkan platform ekonomi berbasis kebebasan pasar dan kebijakan imigrasi yang lebih ketat.
Sebaliknya, Carney, 60 tahun, berasal dari latar belakang teknokratis. Ia menghabiskan lebih dari satu dekade di Goldman Sachs dan kemudian memimpin bank sentral Kanada, serta Bank of England. Carney diharapkan membawa citra profesionalisme dan stabilitas ke dalam politik Kanada.
Partai-Partai Kecil Bisa Tersisih
Pemilu kali ini diperkirakan akan menjadi duel antara dua partai besar, Partai Liberal dan Partai Konservatif.
Partai-partai kecil seperti New Democratic Party (NDP) atau Bloc Québécois diperkirakan akan kehilangan pengaruh, karena warga Kanada cenderung memberikan mandat besar kepada salah satu partai utama untuk memperkuat posisi negara dalam menghadapi Trump.
Di sisi lain, Trump tampaknya tidak peduli dengan hasil pemilu di Kanada. Ia terus melanjutkan rencananya untuk meningkatkan tarif terhadap Kanada dan negara mitra dagang lainnya pada 2 April 2025.
“Saya tidak peduli siapa yang menang di sana,” kata Trump pekan ini.
“Namun beberapa saat yang lalu, sebelum saya terlibat dan benar-benar mengubah hasil pemilu, yang tidak saya pedulikan [...] Partai Konservatif unggul dengan selisih 35 poin.” lanjutnya.
Dengan latar belakang ketegangan yang semakin meningkat, pemilu Kanada kali ini diprediksi akan menjadi salah satu yang paling bersejarah dan menentukan arah hubungan bilateral antara Kanada dan AS di masa depan.