Laut Makin Panas, Plankton di Ambang Kepunahan: Apa Dampaknya Bagi Bumi?

M. Reza Sulaiman

Rabu, 21 Mei 2025 | 16:22 WIB
Laut Makin Panas, Plankton di Ambang Kepunahan: Apa Dampaknya Bagi Bumi?
Ilustrasi plankton dan algae di laut (Photo by Arina Dmitrieva/Pexels)

Suara.com - Krisis iklim tidak lagi hanya soal mencairnya es di kutub atau meningkatnya suhu bumi. Kini, lebih dari 3.500 spesies hewan di seluruh dunia berada di ambang kepunahan karena dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Bila tak segera ditangani, dunia berpotensi kehilangan sebagian besar keanekaragaman hayatinya.

Peringatan ini disampaikan oleh William Ripple, peneliti utama dari Oregon State University, dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal BioScience. Ripple menyebut bahwa selama ini dua faktor utama yang merusak keanekaragaman hayati adalah ledakan populasi manusia dan perusakan habitat.

Namun kini, perubahan iklim muncul sebagai ancaman ketiga yang tak kalah mematikan.

Dalam penelitiannya, Ripple dan timnya menganalisis data dari lebih dari 70.000 spesies hewan. Hasilnya mengejutkan: sekitar 25% dari spesies tersebut sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama pemanasan global.

Hewan-hewan kecil tanpa tulang belakang (invertebrata) seperti laba-laba, kelabang, hingga ubur-ubur menjadi kelompok yang paling terancam punah.

“Yang paling parah terdampak adalah hewan laut kecil, terutama yang hidup di perairan hangat. Mereka sulit beradaptasi dengan perubahan suhu dan memiliki kemampuan mobilitas yang terbatas,” ujar Ripple, seperti dikutip dari Eurekalert, Rabu (21/5/2025).

Contoh nyata terjadi di perairan Israel, di mana sekitar 90% populasi plankton dan biota laut di garis pantai musnah akibat suhu laut yang melonjak. Tragedi ini tidak hanya mempengaruhi spesies yang terlihat oleh mata manusia, tapi juga mengganggu fondasi ekosistem laut: plankton.

Plankton: Pahlawan Tak Terlihat di Lautan

baca juga

Meskipun ukurannya mikroskopis, plankton memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan kehidupan laut dan bahkan atmosfer bumi. Fitoplankton, jenis plankton yang mampu melakukan fotosintesis, menyerap karbon dioksida dari atmosfer dalam jumlah besar.

Lewat proses yang disebut pompa biologis, sebagian karbon yang diserap itu kemudian tenggelam ke dasar laut saat plankton mati, menjadikan lautan sebagai salah satu penyimpan karbon terbesar di planet ini.

Sejak era Revolusi Industri, lautan telah menyerap sekitar 40% emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia. Fitoplankton sendiri mentransfer hingga 10 miliar ton metrik karbon ke kedalaman laut setiap tahunnya—jumlah yang luar biasa besar dan sangat krusial untuk menahan laju pemanasan global.

Pakar Biodiversitas Renee Cho dalam tulisannya untuk Columbia Climate School menyebut plankton tak hanya penting bagi lingkungan, tapi juga punya potensi besar bagi kehidupan manusia. Kaya protein dan efisien dalam menyimpan karbon, plankton bisa menjadi alternatif pengganti tepung ikan dalam budidaya perairan, serta suplemen pakan ternak yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kedelai.

Lebih dari itu, senyawa organik yang dihasilkan plankton tengah diteliti untuk pengobatan berbagai penyakit serius, seperti Alzheimer, kanker, diabetes, AIDS, hingga osteoporosis. Lemaknya bahkan digunakan dalam kosmetik dan makanan kesehatan.

Ancaman Nyata bagi Sang Penjaga Laut

Sayangnya, perubahan iklim mengancam eksistensi plankton secara langsung. Suhu laut yang menghangat menyebabkan arus laut terganggu, sehingga nutrisi dari dasar laut sulit naik ke permukaan. Akibatnya, populasi fitoplankton menurun drastis.

Bahkan, beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, fitoplankton justru bisa berubah fungsi menjadi penghasil karbon alih-alih penyerap.

Tak hanya itu, frekuensi ledakan populasi alga (blooming) akibat pemanasan global juga meningkat tajam. Antara tahun 2003 hingga 2020, ukuran global ledakan alga meningkat sebesar 13%, dan frekuensinya naik hingga 59%.

Saatnya Bertindak

Kepunahan spesies dan terganggunya siklus karbon laut bukan ancaman masa depan—ini adalah krisis yang sedang terjadi saat ini. Jika plankton, sang penjaga tak terlihat lautan, tak lagi mampu menjalankan perannya, maka efek domino bisa meruntuhkan seluruh ekosistem laut, memengaruhi populasi ikan, mamalia laut, hingga manusia.

Melindungi plankton berarti melindungi kehidupan itu sendiri. Dunia butuh langkah konkret untuk menekan emisi, memperlambat laju pemanasan global, dan menjaga laut tetap sehat. Sebab, jika lautan tak lagi mampu menyerap karbon, bumi tak punya lagi tameng terakhir dari krisis iklim.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenali Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Kurban, Agar Ibadah Idul Adha Sah dan Bernilai

Kenali Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Kurban, Agar Ibadah Idul Adha Sah dan Bernilai

Lifestyle | Rabu, 21 Mei 2025 | 15:51 WIB

Panduan Lengkap Penyembelihan Hewan Kurban yang Benar dan Sah

Panduan Lengkap Penyembelihan Hewan Kurban yang Benar dan Sah

Lifestyle | Rabu, 21 Mei 2025 | 14:20 WIB

Apa Hukum Kurban Idul Adha? Ini Penjelasan Ulama Muhammadiyah

Apa Hukum Kurban Idul Adha? Ini Penjelasan Ulama Muhammadiyah

News | Rabu, 21 Mei 2025 | 14:19 WIB

Terkini

Akal Bulus Karyawan di Balam: Catut Nama Toko Buat Nota Fiktif, Gelapkan 600 Galon Perusahaan

Akal Bulus Karyawan di Balam: Catut Nama Toko Buat Nota Fiktif, Gelapkan 600 Galon Perusahaan

Lampung | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Sentuhan Magis Wanda Ponika di Panggung Anggun hingga Van Ness Wu

Sentuhan Magis Wanda Ponika di Panggung Anggun hingga Van Ness Wu

Entertainment | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:35 WIB

Calon Saingan Berat Toyota Raize: Intip Spesifikasi Hyundai Bayon Generasi Terbaru

Calon Saingan Berat Toyota Raize: Intip Spesifikasi Hyundai Bayon Generasi Terbaru

Otomotif | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:34 WIB

0895 Provider Apa? Kenali Asal Operator, Jaringan, dan Kode Prefix Lainnya

0895 Provider Apa? Kenali Asal Operator, Jaringan, dan Kode Prefix Lainnya

Tekno | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:32 WIB

ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC

ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC

Your Say | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Penumpang KA Putri Deli Tembus 970.762 hingga September 2026

Penumpang KA Putri Deli Tembus 970.762 hingga September 2026

Sumut | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:28 WIB

Arti Kedutan Telapak Tangan Kanan dan Kiri Menurut Primbon Jawa, Pertanda Datangnya Rezeki?

Arti Kedutan Telapak Tangan Kanan dan Kiri Menurut Primbon Jawa, Pertanda Datangnya Rezeki?

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:27 WIB

Singgung SBY, Andi Arief: Gibran Butuh Pansus

Singgung SBY, Andi Arief: Gibran Butuh Pansus

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Usai Tangkap 24 Orang, Polisi Bongkar Puluhan Lapak Diduga untuk Transaksi Narkoba di Kampung Ambon

Usai Tangkap 24 Orang, Polisi Bongkar Puluhan Lapak Diduga untuk Transaksi Narkoba di Kampung Ambon

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:26 WIB

Ini Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Nenek Wajib Tahu!

Ini Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Nenek Wajib Tahu!

Sumut | Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:25 WIB

×