Kenaikan Air Laut Picu Migrasi Besar-besaran, Masih Adakah yang Bisa Dilakukan?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 23 Mei 2025 | 12:26 WIB
Kenaikan Air Laut Picu Migrasi Besar-besaran, Masih Adakah yang Bisa Dilakukan?
Warga beraktivitas di tengah banjir rob di Muara Angke, Jakarta, Sabtu (14/12/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kenaikan air laut bukan lagi ancaman masa depan. Pemanasan global 1,5 derajat Celcius saja bisa memicu migrasi besar-besaran dari pesisir ke daratan. Ilmuwan memperingatkan, skenario ini bisa terjadi meski suhu hanya naik sedikit dari kondisi saat ini, yang sudah mencapai 1,2 derajat Celcius.

Lapisan es di Greenland dan Antartika mencair empat kali lebih cepat dibanding tahun 1990-an. Hasilnya laut terus naik, pelan tapi pasti, dan kini jadi salah satu dampak paling permanen dari krisis iklim.

Target global 1,5 derajat Celcius, yang disepakati dalam Perjanjian Paris, sudah nyaris mustahil dicapai. Tapi meski target itu berhasil dipenuhi, studi baru menunjukkan permukaan laut tetap akan naik sekitar 1 cm per tahun pada akhir abad ini.

Angka itu mungkin terdengar kecil, namun dampaknya sangat besar. Lebih cepat dari kemampuan banyak negara membangun perlindungan pantai.

Banjir rob di Kecamatan Dente Teladas, Tulang Bawang. [ANTARA]
Banjir rob di Kecamatan Dente Teladas, Tulang Bawang. [ANTARA]

Suhu dunia kini diperkirakan naik ke level 2,5 derajat Celcius –2,9 derajat Celcius. Ini bisa mendorong keruntuhan lapisan es Greenland dan Antartika barat. Jika itu terjadi, permukaan laut bisa naik sampai 12 meter. Dampaknya memicu bencana global.

Saat ini, 230 juta orang tinggal dalam jarak 1 meter dari garis laut. Satu miliar orang tinggal dalam radius 10 meter. Bahkan dengan kenaikan hanya 20 cm pada 2050, kerugian ekonomi global dari banjir bisa mencapai 1 triliun dolar per tahun, hanya dari 136 kota pesisir terbesar.

Kita menghadapi kenyataan yang tidak bisa dibantah: permukaan laut akan terus naik. Bahkan jika emisi dihentikan hari ini. Para peneliti memperkirakan bahwa kenaikan setinggi 1-2 meter sudah tidak bisa dihindari. Di Inggris, ini berarti sebagian wilayah seperti Fens dan Humberside akan berada di bawah laut.

“Batas aman” bukan berarti tidak ada dampak.

Menurut Prof. Jonathan Bamber dari Universitas Bristol, itu adalah batas di mana adaptasi masih mungkin dilakukan tanpa harus mengungsi besar-besaran. Ia menekankan: “Jika kenaikan mencapai 1 cm per tahun, kita akan menyaksikan migrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban modern.”

Negara-negara berkembang akan lebih rentan. Bangladesh, misalnya, berisiko jauh lebih besar dibanding negara kaya seperti Belanda yang punya sistem pertahanan laut canggih.

Menurut Prof. Chris Stokes dari Universitas Durham, saat ini kita mulai menyaksikan skenario terburuk menjadi kenyataan.

“Pada tingkat pemanasan 1,2°C saja, laju kenaikan air laut sudah semakin cepat dan berpotensi tak terkendali sebelum abad ini berakhir.”

Kenaikan suhu global 1,5°C untuk pertama kalinya terjadi pada 2024. Namun target itu baru dianggap tercapai jika rata-rata suhu global selama 20 tahun mencapai angka tersebut.

Studi ini dipublikasikan dalam Communications Earth and Environment. Data yang digunakan meliputi periode hangat 3 juta tahun lalu, pengamatan saat ini, dan model iklim terkini. Kesimpulannya: hilangnya massa es adalah ancaman eksistensial bagi masyarakat pesisir.

Prof. Andrea Dutton dari University of Wisconsin-Madison memperingatkan, sejarah menunjukkan bahwa suhu 1,5°C bisa memicu kenaikan permukaan laut beberapa meter. Ini bukan skenario fiksi. Ini pernah terjadi.

15.000 tahun lalu, saat zaman es berakhir, laut naik 10 kali lebih cepat dibanding sekarang. Sekitar 3 juta tahun lalu, ketika kadar CO2 setinggi saat ini, permukaan laut berada 10–20 meter lebih tinggi dari sekarang.

Bahkan jika manusia berhasil menghilangkan CO2 dari atmosfer, lapisan es tidak akan pulih dalam hitungan tahun—melainkan ratusan atau ribuan tahun. Daratan yang tenggelam bisa tetap hilang sampai Bumi memasuki zaman es berikutnya.

Namun, bukan berarti tak ada harapan.

Belize pernah memindahkan ibu kotanya ke daratan setelah badai dahsyat pada 1970. Tapi kota terbesarnya tetap berada di pesisir dan terancam tenggelam dengan kenaikan hanya 1 meter.

Carlos Fuller, negosiator iklim senior dari Belize, menegaskan pentingnya bertindak sekarang:.

“Temuan ini hanya menegaskan bahwa kita harus berupaya sekeras mungkin agar tetap dalam batas 1,5°C. Atau setidaknya sedekat mungkin. Hanya dengan begitu kita punya peluang untuk melindungi kota-kota pesisir.”

Masih adakah yang bisa dilakukan? 

Menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, strategi adaptasi tidak bisa lagi hanya dibicarakan di ruang-ruang kebijakan. Setiap individu kini dituntut untuk mengenali batas toleransi risikonya sendiri.

Bagi sebagian orang, risiko ini menyangkut kondisi kesehatan anggota keluarga, kestabilan finansial, hingga kemampuan untuk pindah tempat tinggal jika ancaman banjir tak bisa dihindari.

Selain itu, mereka juga perlu mengidentifikasi bagian-bagian rumah atau bisnis yang rentan—seperti ruang bawah tanah, sistem kelistrikan, atau barang-barang berharga, yang bisa terdampak banjir maupun erosi pantai dan naiknya air tanah.

Di sisi lain, tanggung jawab besar berada di pundak para pengambil keputusan lokal. Mereka perlu mengakses dan memahami panduan teknis berbasis ilmiah seperti Laporan Kenaikan Muka Air Laut 2022, agar setiap kebijakan yang dibuat benar-benar berpijak pada data.

Mitigasi di tingkat daerah bisa dilakukan dengan mendorong transisi ke energi bersih, memperbaiki efisiensi energi, serta melindungi kawasan pesisir yang berfungsi sebagai penyangga alami karbon. Dalam hal adaptasi, strategi jangka panjang harus mencakup pembangunan infrastruktur tangguh, pemulihan kawasan alami seperti lahan basah dan hutan bakau, serta penyusunan rencana tata kota yang sadar iklim.

Upaya ini tidak akan berhasil tanpa komitmen untuk melibatkan masyarakat secara menyeluruh. Pemerintah perlu menyediakan pendidikan publik yang mendorong kesadaran kolektif, mendukung relokasi komunitas yang rentan, dan memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses adaptasi.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis ilmu pengetahuan, adaptasi terhadap kenaikan muka air laut bukan hanya mungkin, tetapi juga mendesak untuk dilakukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Kekeringan Panjang dan Cuaca Ekstrem Bisa Bikin Produksi Beras dan Jagung Menyusut

Studi: Kekeringan Panjang dan Cuaca Ekstrem Bisa Bikin Produksi Beras dan Jagung Menyusut

News | Jum'at, 23 Mei 2025 | 11:01 WIB

Indonesia Krisis Iklim: Forum Internasional Soroti Pentingnya Pemimpin Daerah Berani Ambil Tindakan

Indonesia Krisis Iklim: Forum Internasional Soroti Pentingnya Pemimpin Daerah Berani Ambil Tindakan

News | Kamis, 22 Mei 2025 | 18:30 WIB

Dari Kurangi Jejak Karbon hingga Investasi Hijau: Ini Komitmen AIA untuk  Bisnis Berkelanjutan

Dari Kurangi Jejak Karbon hingga Investasi Hijau: Ini Komitmen AIA untuk Bisnis Berkelanjutan

News | Kamis, 22 Mei 2025 | 15:54 WIB

Terkini

Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta

Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:08 WIB

Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO

Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:00 WIB

Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia

Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:52 WIB

Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya

Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:31 WIB

Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?

Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:18 WIB

Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up

Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:12 WIB

Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan

Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:57 WIB

Skandal Epstein Memanas! Pam Bondi Akui Ada Kesalahan, DPR AS Curiga Ada Fakta yang Ditutupi

Skandal Epstein Memanas! Pam Bondi Akui Ada Kesalahan, DPR AS Curiga Ada Fakta yang Ditutupi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:42 WIB

Banten Media Hub 2026: Ikhtiar Strategi Komunitas Media Lokal Bertahan di Era Digital

Banten Media Hub 2026: Ikhtiar Strategi Komunitas Media Lokal Bertahan di Era Digital

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:15 WIB

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 23:50 WIB