Saat Perikanan Tangkap Mandek, Akuakultur Tawarkan Solusi Pangan Laut Berkelanjutan

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Kamis, 05 Juni 2025 | 08:01 WIB
Saat Perikanan Tangkap Mandek, Akuakultur Tawarkan Solusi Pangan Laut Berkelanjutan
Akuakultur sebagai metode menghasilkan pangan laut berkelanjutan (Photo by SINAL Multimedia/Pexels)

Suara.com - Di tengah krisis iklim dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam, dunia kini dihadapkan pada pertanyaan besar: bagaimana memastikan ketersediaan pangan laut yang aman, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang?

Laut selama ini menjadi penyedia utama protein hewani bagi lebih dari 3 miliar penduduk dunia. Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat bahwa sepertiga stok ikan global saat ini telah dieksploitasi secara berlebihan. Perubahan iklim, pencemaran laut, serta tata kelola yang lemah turut memperburuk kondisi. Negara-negara pesisir seperti Indonesia dan Malaysia berada di garis depan tantangan ini, karena ketergantungan tinggi terhadap hasil laut baik untuk konsumsi maupun ekonomi lokal.

Dalam lanskap yang berubah ini, akuakultur—atau budidaya laut—mulai mendapat perhatian sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan laut. Sebuah studi terbaru dari Malaysia menyoroti bagaimana praktik budidaya bisa menjadi alternatif berkelanjutan saat perikanan tangkap mengalami stagnasi.

Studi tersebut, yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems, merupakan kolaborasi antara lembaga riset internasional WorldFish, Universiti Sains Malaysia (USM), dan University of Tokyo. Hasilnya menunjukkan bahwa produksi ikan tangkap Malaysia saat ini masih mendominasi, dengan kontribusi sekitar 69 persen dari total produksi tahun 2022. Namun, volume produksi tersebut tidak mengalami pertumbuhan berarti dalam beberapa tahun terakhir.

Sebaliknya, sektor akuakultur terus mencatatkan pertumbuhan, kini menyumbang hingga 30 persen dari total produksi ikan nasional. Lebih dari setengah produksi budidaya ini berasal dari rumput laut—komoditas laut yang murah, ramah lingkungan, dan memiliki potensi ekonomi tinggi.

“Akuakultur memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan pangan laut yang terus meningkat, terutama saat perikanan tangkap mulai mencapai batasnya,” jelas Dr. Cristiano Rossignoli dari WorldFish, melanir EurekaAlert!, Kamis (5/6/2025).

“Namun, keberlanjutan tetap menjadi tantangan utama. Kita perlu mendorong praktik budidaya yang bertanggung jawab dan mendukung petani kecil agar bisa ikut tumbuh,” ujarnya.

Meskipun prospektif, sektor ini belum lepas dari kendala. Studi tersebut menyoroti berbagai hambatan seperti terbatasnya akses terhadap hatchery dan benih unggul, fasilitas rantai dingin yang belum merata, serta regulasi yang sering menyulitkan pelaku usaha kecil. Banyak produsen skala kecil terancam tersingkir tanpa dukungan konkret.

Prof. Aileen Tan, Direktur Pusat Kajian Kelautan dan Pesisir USM, menegaskan bahwa Malaysia sedang mengalami pergeseran struktural dalam sistem pangan lautnya.

“Ketika perikanan tangkap tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya, maka akuakultur harus diperkuat sebagai pilar utama. Namun, pendekatan ini harus inklusif—memastikan produsen kecil tidak tertinggal,” katanya.

Studi ini juga mencatat penurunan tingkat swasembada ikan Malaysia: dari 93 persen pada 2019 menjadi sekitar 90 persen pada 2022. Di sisi lain, permintaan domestik terhadap ikan tetap tinggi, mendorong lonjakan impor. Ini menjadi sinyal bahwa produksi dalam negeri perlu segera disesuaikan dengan tren konsumsi yang terus meningkat.

Sebagai solusi, laporan tersebut merekomendasikan reformasi kebijakan: mulai dari perluasan kapasitas hatchery, perbaikan infrastruktur pedesaan, hingga peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan untuk mendorong inovasi dan daya saing sektor budidaya.

Temuan ini dirilis bertepatan dengan 25 tahun kehadiran WorldFish di Malaysia. Sejak memindahkan kantor pusat globalnya ke Penang pada tahun 2000, lembaga ini aktif bekerja sama dengan pemerintah, peneliti, dan masyarakat untuk membangun sistem pangan laut yang lebih tangguh di Asia.

Dalam konteks Indonesia, yang juga merupakan negara kepulauan dengan potensi akuakultur sangat besar, pembelajaran dari Malaysia ini menjadi relevan. Akuakultur yang terencana dan berkelanjutan dapat menjadi pilar penting dalam menghadapi tekanan terhadap laut, sekaligus membuka jalan menuju masa depan pangan laut yang lebih adil dan ramah lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Inisiatif Ini Dorong Kolaborasi Startup Asia untuk Kewirausahaan Inklusif dan Berkelanjutan

Inisiatif Ini Dorong Kolaborasi Startup Asia untuk Kewirausahaan Inklusif dan Berkelanjutan

Lifestyle | Selasa, 03 Juni 2025 | 22:05 WIB

Resistensi Antimikroba Ancam Masa Depan Kesehatan Berkelanjutan: Butuh Solusi Lintas Sektor

Resistensi Antimikroba Ancam Masa Depan Kesehatan Berkelanjutan: Butuh Solusi Lintas Sektor

Health | Selasa, 03 Juni 2025 | 11:41 WIB

RS Swasta RI-Swedia Perkuat Kolaborasi untuk Akses Kesehatan Inklusif dan Berkelanjutan

RS Swasta RI-Swedia Perkuat Kolaborasi untuk Akses Kesehatan Inklusif dan Berkelanjutan

Health | Senin, 02 Juni 2025 | 11:11 WIB

Terkini

Ketum TP PKK Soroti Pentingnya Keamanan Perempuan di Semua Ruang, Termasuk Dunia Digital

Ketum TP PKK Soroti Pentingnya Keamanan Perempuan di Semua Ruang, Termasuk Dunia Digital

News | Minggu, 26 April 2026 | 16:18 WIB

Kebakaran Hutan di Iwate Meluas, 3.000 Warga Otsuchi Dievakuasi

Kebakaran Hutan di Iwate Meluas, 3.000 Warga Otsuchi Dievakuasi

News | Minggu, 26 April 2026 | 16:10 WIB

KPAI: Anak Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta Berpotensi Alami Trauma Serius!

KPAI: Anak Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogyakarta Berpotensi Alami Trauma Serius!

News | Minggu, 26 April 2026 | 15:11 WIB

AS Perketat Aturan Kartu Hijau, Pemohon yang Mendukung Palestina akan Ditolak

AS Perketat Aturan Kartu Hijau, Pemohon yang Mendukung Palestina akan Ditolak

News | Minggu, 26 April 2026 | 14:28 WIB

Rektor Paramadina: Penutupan Prodi Visi Jangka Pendek, Kampus Bukan Sekadar Cetak Pekerja!

Rektor Paramadina: Penutupan Prodi Visi Jangka Pendek, Kampus Bukan Sekadar Cetak Pekerja!

News | Minggu, 26 April 2026 | 14:25 WIB

Polisi Sikat Markas Narkoba Viral di Kebon Melati, 9 Orang Ditangkap dari Pinggir Rel!

Polisi Sikat Markas Narkoba Viral di Kebon Melati, 9 Orang Ditangkap dari Pinggir Rel!

News | Minggu, 26 April 2026 | 13:55 WIB

Menaker Yassierli: Lulusan Perguruan Tinggi harus Miliki Strategi Triple Readiness Hadapi Era AI

Menaker Yassierli: Lulusan Perguruan Tinggi harus Miliki Strategi Triple Readiness Hadapi Era AI

News | Minggu, 26 April 2026 | 13:50 WIB

Penghargaan Pemda Strategi Tingkatkan Kinerja dan Kepercayaan Publik

Penghargaan Pemda Strategi Tingkatkan Kinerja dan Kepercayaan Publik

News | Minggu, 26 April 2026 | 13:45 WIB

Wamensos Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Jalan Emas Putus Rantai Kemiskinan

Wamensos Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Jalan Emas Putus Rantai Kemiskinan

News | Minggu, 26 April 2026 | 13:25 WIB

KPAI Ungkap Dugaan Pelanggaran Berlapis di Kasus Daycare Litte Aresha Yogyakarta!

KPAI Ungkap Dugaan Pelanggaran Berlapis di Kasus Daycare Litte Aresha Yogyakarta!

News | Minggu, 26 April 2026 | 13:07 WIB