Studi: Batas 1,5C Akan Terlampaui dalam Tiga Tahun Jika Emisi Tak Dikurangi

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Minggu, 22 Juni 2025 | 07:30 WIB
Studi: Batas 1,5C Akan Terlampaui dalam Tiga Tahun Jika Emisi Tak Dikurangi
Dampak perubahan iklim es mencair di Antartika 13 Februari 2020. [NASA]

Suara.com - Batas waktu dunia untuk mencegah krisis iklim semakin menipis. Dengan sisa anggaran karbon global yang diperkirakan hanya 130 miliar ton karbon dioksida (CO2) pada awal 2025, laju emisi saat ini berarti ambang batas pemanasan 1,5°C bisa terlewati hanya dalam waktu tiga tahun.

Ini menjadi peringatan terbaru dari studi "Global Climate Change Indicators" yang dirilis dalam jurnal Earth System Science Data.

"Edisi tahunan ketiga indikator iklim global kami menunjukkan bahwa tingkat dan laju pemanasan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Direktur Priestley Centre for Climate Futures di University of Leeds. Prof. Piers Forster seperti dikutip dari Phys. 

Ia juga menjadi penulis utama dalam laporan tersebut. Masalahnya bukan sekadar suhu yang naik. Dampak pemanasan global sudah semakin nyata dan dirasakan luas. Emisi gas rumah kaca (GRK) tetap tinggi selama beberapa tahun terakhir.

Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Akibatnya, suhu permukaan global pada tahun 2024 diperkirakan telah meningkat 1,52°C dibandingkan masa pra-industri, dengan 1,36°C-nya berasal dari aktivitas manusia.

"Emisi GRK yang terus memecahkan rekor menyebabkan lebih banyak orang merasakan dampak iklim yang tidak aman," ujar Forster. Ia menambahkan, kebijakan dan aksi iklim belum secepat yang dibutuhkan untuk menahan laju perubahan ini.

Tak hanya suhu, kenaikan permukaan laut dan perubahan curah hujan global juga menjadi indikator penting yang kini dipantau lebih seksama. Dalam lima tahun terakhir saja (2019–2024), permukaan laut global naik sekitar 26 mm, lebih dari dua kali lipat rata-rata tahunan sejak awal abad ke-20.

"Sejak 1900, permukaan laut rata-rata global telah naik sekitar 228 mm," ungkap Dr. Aimée Slangen dari NIOZ Royal Netherlands Institute for Sea Research. Meski terlihat kecil, angka itu berdampak besar bagi kawasan pesisir dataran rendah. Banjir rob, abrasi, dan kerusakan ekosistem menjadi ancaman nyata.

Lautan menyimpan sekitar 91% dari kelebihan panas akibat emisi GRK. Dr. Karina Von Schuckmann dari Mercator Ocean International menjelaskan, pemanasan laut menyebabkan cuaca ekstrem meningkat dan mengancam kehidupan di laut maupun komunitas pesisir.

Penyebab utama dari lonjakan suhu dan dampaknya adalah aktivitas manusia: pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan emisi metana. Selama satu dekade terakhir, dunia menghasilkan sekitar 53 miliar ton CO2e per tahun. Ironisnya, pemulihan sektor penerbangan pascapandemi juga mendorong lonjakan emisi pada 2024.

Studi ini juga menyoroti bahwa pendinginan planet secara alami melalui aerosol seperti sulfur dioksida (SO2) kini menurun. Padahal, penurunan aerosol ini justru memperparah pemanasan. Selain itu, GRK jangka pendek seperti metana perlu segera ditangani untuk mengimbangi efek tersebut.

"Jendela untuk tetap berada di bawah ambang 1,5°C semakin tertutup," tegas Prof. Joeri Rogelj dari Imperial College London. Ia menekankan bahwa dekade ini sangat menentukan. Setiap sedikit kenaikan suhu berarti cuaca ekstrem yang lebih sering dan intens.

Laporan ini memperkirakan, antara 2015 dan 2024, suhu global rata-rata 1,24°C lebih hangat dari era pra-industri. Hampir seluruhnya disebabkan oleh manusia. Tren ini mencerminkan bahwa pemanasan global bukan fenomena alami semata, tetapi hasil dari keputusan dan kebijakan kolektif manusia.

Meski begitu, studi ini tidak hanya berisi peringatan. Ia juga menjadi panggilan untuk aksi. Dengan pemangkasan emisi secara drastis dan sistematis, peluang memperlambat laju pemanasan masih ada. Dunia hanya perlu memilih: berdiam diri atau bergerak sekarang. Karena waktu tidak berpihak kepada kita.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

News | Jum'at, 20 Juni 2025 | 15:07 WIB

Dorong Transisi Energi, Enam Lembaga Resmikan Kolaborasi Iklim Strategis

Dorong Transisi Energi, Enam Lembaga Resmikan Kolaborasi Iklim Strategis

News | Jum'at, 20 Juni 2025 | 11:44 WIB

Jangan Salah Fokus! Infrastruktur Pengisian Daya Jadi Kunci Sukses Pengembangan Kendaraan Listrik

Jangan Salah Fokus! Infrastruktur Pengisian Daya Jadi Kunci Sukses Pengembangan Kendaraan Listrik

News | Kamis, 19 Juni 2025 | 14:23 WIB

Terkini

Bos Gembong Narkoba Skotlandia Steven Lyons Ditangkap di Bali, Pimpin Sindikat 'Lyons Crime Family'

Bos Gembong Narkoba Skotlandia Steven Lyons Ditangkap di Bali, Pimpin Sindikat 'Lyons Crime Family'

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 22:21 WIB

Zulhas Sebut PAN-Gerindra 'Koalisi Sepanjang Masa', Dasco: Kami Harap Ini Langgeng

Zulhas Sebut PAN-Gerindra 'Koalisi Sepanjang Masa', Dasco: Kami Harap Ini Langgeng

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 22:04 WIB

Menaker Yassierli Sidak Perusahaan di Semarang Faktor THR Tak Dibayar Penuh

Menaker Yassierli Sidak Perusahaan di Semarang Faktor THR Tak Dibayar Penuh

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 21:56 WIB

Babak Baru Kasus Andrie Yunus: Puspom TNI Izin LPSK Periksa Korban Usai Ditolak Dokter

Babak Baru Kasus Andrie Yunus: Puspom TNI Izin LPSK Periksa Korban Usai Ditolak Dokter

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 21:49 WIB

Dapur MBG Kembali Beroperasi Usai Libur Lebaran, Relawan: Kangen Suara Ompreng

Dapur MBG Kembali Beroperasi Usai Libur Lebaran, Relawan: Kangen Suara Ompreng

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 21:08 WIB

Jaga Semangat Belajar Siswa, Satgas PRR Kebut Renovasi Fasdik Terdampak Bencana

Jaga Semangat Belajar Siswa, Satgas PRR Kebut Renovasi Fasdik Terdampak Bencana

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 21:02 WIB

Usai Jepang, Presiden Prabowo Tiba di Korea Selatan Lanjutkan Diplomasi Asia Timur

Usai Jepang, Presiden Prabowo Tiba di Korea Selatan Lanjutkan Diplomasi Asia Timur

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 20:54 WIB

'Kirim Putra Trump, Anak Netanyahu, dan Pangeran-pangeran Arab Perang ke Iran!'

'Kirim Putra Trump, Anak Netanyahu, dan Pangeran-pangeran Arab Perang ke Iran!'

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 20:54 WIB

Gudang Sound System di Kembangan Ludes Dilalap Api, 15 Unit Damkar Diterjunkan ke Lokasi

Gudang Sound System di Kembangan Ludes Dilalap Api, 15 Unit Damkar Diterjunkan ke Lokasi

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 20:29 WIB

Siapkan Puluhan Saksi dan Ahli di Kasus Korupsi Satelit Kemhan, Kejagung: Untuk Yakinkan Hakim!

Siapkan Puluhan Saksi dan Ahli di Kasus Korupsi Satelit Kemhan, Kejagung: Untuk Yakinkan Hakim!

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 20:16 WIB