Jangan Salah Fokus! Infrastruktur Pengisian Daya Jadi Kunci Sukses Pengembangan Kendaraan Listrik

M. Reza Sulaiman

Kamis, 19 Juni 2025 | 14:23 WIB
Jangan Salah Fokus! Infrastruktur Pengisian Daya Jadi Kunci Sukses Pengembangan Kendaraan Listrik
Pemilik kendaraan melakukan pengisian daya kendaraan listrik di SKPLU, Jakarta, Kamis (9/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Pemerintah di berbagai negara berlomba mempercepat adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai bagian dari strategi menurunkan emisi karbon.

Di tengah upaya ini, studi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pengisian daya ternyata lebih efektif dalam memperluas pasar kendaraan listrik dibandingkan pemberian insentif pajak.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Marketing Science ini dilakukan oleh Cheng Chou, peneliti independen, dan Tim Derdenger, Associate Professor di Tepper School of Business, Carnegie Mellon University.

Studi berjudul "CCP Estimation of Dynamic Discrete Choice Demand Models with Segment Level Data and Continuous Unobserved Heterogeneity: Rethinking EV Subsidies vs. Infrastructure" ini mengkaji pola adopsi EV di negara bagian Washington selama periode 2016–2019.

Melalui analisis terhadap keputusan konsumen dalam memilih antara kendaraan listrik dan kendaraan berbahan bakar bensin, peneliti menemukan bahwa peningkatan jaringan pengisian daya, khususnya stasiun pengisian cepat Level 3, mampu mendorong adopsi EV secara signifikan.

Jika subsidi pajak dialihkan seluruhnya ke pembangunan infrastruktur pengisian daya, adopsi kendaraan listrik bisa meningkat hampir 26 persen, sementara emisi karbon dapat ditekan hingga 51 persen.

“Kontribusi utama studi kami adalah menunjukkan bahwa kebijakan infrastruktur dapat lebih berdampak daripada subsidi fiskal, khususnya dalam mendorong pasar kendaraan ramah lingkungan,” jelas Derdenger melansir EurekAlert!, Kamis (19/6/2025).

Mengubah Strategi Insentif

Saat ini, kebijakan insentif di AS berupa kredit pajak diberikan berdasarkan ukuran baterai kendaraan. Namun, studi tersebut menunjukkan bahwa insentif akan lebih efektif jika dikaitkan dengan jangkauan kendaraan, yakni seberapa jauh EV bisa menempuh perjalanan dalam sekali pengisian daya.

baca juga

Dengan pendekatan ini, model simulasi para peneliti memproyeksikan bahwa penjualan EV bisa meningkat 1,5 persen di tiga wilayah metropolitan terbesar negara bagian Washington, sekaligus menurunkan emisi hingga 11 persen, tanpa menambah beban biaya pemerintah.

Relevansi untuk Indonesia

Temuan ini penting tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga relevan untuk Indonesia yang tengah mendorong percepatan kendaraan listrik nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, pemerintah telah memberikan sejumlah insentif fiskal dan nonfiskal kepada produsen dan konsumen kendaraan listrik.

Namun, infrastruktur pengisian daya masih menjadi tantangan besar. Hingga awal 2024, data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia baru mencapai sekitar 1.200 unit, jauh dari target pemerintah untuk membangun 3.000 SPKLU pada 2025.

Tak hanya dari sisi kebijakan, studi ini juga memperkenalkan metode analisis baru dalam estimasi permintaan konsumen. Metode yang disebut Conditional Choice Probability (CCP) ini memungkinkan pemodelan keputusan konsumen dengan mempertimbangkan perbedaan preferensi yang tidak teramati dan karakteristik produk yang beragam.

“Metode ini dapat diterapkan di berbagai sektor lain, tidak hanya kendaraan listrik, terutama dalam pasar dengan banyak pilihan produk yang kompleks,” ujar Cheng Chou, salah satu penulis studi.

Seiring meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya menurunkan emisi gas rumah kaca, hasil penelitian ini memberikan arah baru bagi pembuat kebijakan. Membangun ekosistem kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan potongan pajak.

Infrastruktur yang andal, dapat diakses, dan tersebar luas justru menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku konsumen menuju moda transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah China Kehabisan Dana Subsidi Mobil Baru, Terkecoh Praktik Nakal Brand Otomotif

Pemerintah China Kehabisan Dana Subsidi Mobil Baru, Terkecoh Praktik Nakal Brand Otomotif

Otomotif | Rabu, 18 Juni 2025 | 20:13 WIB

Strategi Perang Harga yang Dilakukan BYD Diakui Sudah Kebablasan

Strategi Perang Harga yang Dilakukan BYD Diakui Sudah Kebablasan

Otomotif | Rabu, 18 Juni 2025 | 14:42 WIB

Kontroversi Pernyataan Petinggi Toyota Soal Kendaraan Listrik

Kontroversi Pernyataan Petinggi Toyota Soal Kendaraan Listrik

Otomotif | Senin, 16 Juni 2025 | 19:35 WIB

Terkini

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:13 WIB

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sentil Pihak yang Suka Gaduh Usai Pemilu, Prabowo: Saya Kalah 4 Kali Tak Pernah Ribut

Sentil Pihak yang Suka Gaduh Usai Pemilu, Prabowo: Saya Kalah 4 Kali Tak Pernah Ribut

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:54 WIB

Penolakan JC Sony Sonjaya Dinilai Hambat Pengungkapan Nama-Nama Penting di Kasus MBG

Penolakan JC Sony Sonjaya Dinilai Hambat Pengungkapan Nama-Nama Penting di Kasus MBG

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:34 WIB

Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4

Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:30 WIB

Dishub DKI Siapkan Shelter hingga Relaksasi Parkir bagi Ojek Online

Dishub DKI Siapkan Shelter hingga Relaksasi Parkir bagi Ojek Online

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:28 WIB

Jejak Sadis Taufik Hidayat: 4 Indekos Jadi Saksi Bisu Yuvita Dibuat Buta hingga Lumpuh

Jejak Sadis Taufik Hidayat: 4 Indekos Jadi Saksi Bisu Yuvita Dibuat Buta hingga Lumpuh

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:46 WIB

Polisi Bongkar Home Industri Narkoba, Kamar Apartemen Disulap Jadi Tempat Produksi

Polisi Bongkar Home Industri Narkoba, Kamar Apartemen Disulap Jadi Tempat Produksi

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:35 WIB

Sekap dan Siksa Yuvita Pakai Helm, Sajam hingga Rokok: Taufik Hidayat Ternyata Penjahat Kambuhan!

Sekap dan Siksa Yuvita Pakai Helm, Sajam hingga Rokok: Taufik Hidayat Ternyata Penjahat Kambuhan!

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:26 WIB

Jokowi Safari Pakai Kemeja PSI, Golkar Santai Tak Khawatir Pemilih Migrasi

Jokowi Safari Pakai Kemeja PSI, Golkar Santai Tak Khawatir Pemilih Migrasi

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:18 WIB

×