Transformasi Pemuliaan Tanaman Buah: BRIN Dorong Inovasi untuk Hadapi Krisis Pangan dan Iklim

Bimo Aria Fundrika

Senin, 23 Juni 2025 | 12:22 WIB
Transformasi Pemuliaan Tanaman Buah: BRIN Dorong Inovasi untuk Hadapi Krisis Pangan dan Iklim
Ilustrasi Berkebun di Rumah (pexels/joao martinez)

Suara.com - Perubahan iklim yang semakin nyata serta meningkatnya kebutuhan pangan menuntut dunia pertanian untuk bergerak lebih cepat dan adaptif.

Di tengah tantangan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pendekatan baru untuk mempercepat pemuliaan tanaman buah agar lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan memenuhi kebutuhan pasar.

Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Hortikultura BRIN, Mia Kosmiatin, menjelaskan bahwa metode speed breeding menjadi salah satu solusi menjanjikan. Melalui pernyataan resminya di Jakarta, Senin, Mia memaparkan bahwa speed breeding adalah teknik mempercepat siklus generatif tanaman dengan memanipulasi lingkungan tumbuh secara terkendali.

“Percepatan pemuliaan tanaman buah sangat krusial, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan pangan,” ujarnya.

Ilustrasi berkebun di rumah (Pixabay/katya_ershova)
Ilustrasi berkebun di rumah (Pixabay/katya_ershova)

Dalam praktiknya, pemuliaan konvensional pada tanaman buah, terutama yang berkayu, masih menghadapi banyak kendala. Mia menyoroti sifat biologis tanaman buah yang kompleks, seperti penyerbukan silang, tingkat heterozigositas yang tinggi, serta bentuk reproduksi khusus seperti apomiksis dan poliembrioni.

Selain itu, banyak tanaman buah yang diperbanyak secara klonal, yang pada akhirnya mempersempit keragaman genetik.

“Karena itu teknologi nonkonvensional menjadi sangat penting,” kata Mia menegaskan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, BRIN telah mengembangkan berbagai teknik pemuliaan mutakhir. Di antaranya adalah embriogenesis somatik, embryo rescue, mutagenesis dan seleksi in-vitro, poliploidisasi, fusi protoplas, hingga teknologi pengeditan genom berbasis CRISPR-Cas9.

Pada tanaman jeruk, misalnya, BRIN telah berhasil mengedit gen callose synthase guna meningkatkan ketahanan terhadap penyakit HLB/CVPD. Sementara itu, pada apel, pengeditan ditujukan pada gen Ma1 yang berperan mengatur kadar asam dan rasa buah.

baca juga

“Embriogenesis somatik juga telah berhasil diterapkan pada berbagai buah tropis seperti mangga, jeruk, kelengkeng, jambu, dan durian. Semua ini menunjukkan bahwa kita telah berada pada jalur transformasi yang tepat,” ungkap Mia.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Mia menekankan pentingnya sinergi antara riset dasar, penerapan teknologi maju, dan pelestarian serta pemanfaatan sumber daya genetik lokal. Kolaborasi ini, menurutnya, menjadi kunci untuk menciptakan varietas buah yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di pasar global.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, juga menyoroti hal serupa. Ia menyatakan bahwa transformasi pemuliaan tanaman buah harus melibatkan penerapan teknologi nonkonvensional sebagai langkah mendesak.

“Diperlukan solusi terintegrasi dari hulu sampai hilir, mulai dari pemuliaan hingga pascapanen, agar buah Indonesia mampu bersaing di pasar global,” tutur Puji.

Transformasi ini bukan sekadar lompatan teknologi, melainkan upaya bersama untuk menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Sebab di tengah krisis iklim dan tekanan ekonomi, inovasi di sektor pertanian menjadi harapan yang tak boleh ditunda.

Berikut adalah versi penjelasan tanpa emoji, dengan gaya tulisan jurnalistik populer yang informatif, terstruktur, dan rapi:

Mengenal Speed Breeding

Speed breeding, atau pemuliaan tanaman secara dipercepat, merupakan pendekatan inovatif dalam ilmu tanaman untuk menghasilkan varietas unggul dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding metode konvensional. Teknik ini lahir dari kebutuhan ekstrem: menanam tanaman di luar angkasa.

Konsep speed breeding pertama kali dikembangkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 1980-an melalui program Controlled Ecological Life Support System (CELSS). Program ini bertujuan menciptakan sistem pertanian yang efisien dan berkelanjutan di luar angkasa, di mana sumber daya sangat terbatas.

Pada 1992, tim peneliti NASA di bawah pimpinan Dr. Gary Stutte berhasil mempercepat pertumbuhan tanaman gandum dengan memperpanjang durasi pencahayaan. Eksperimen ini membuktikan bahwa manipulasi lingkungan tumbuh, khususnya fotoperiode, dapat mempersingkat siklus hidup tanaman.

Penerapan Terestrial dan Tonggak Penting

Setelah keberhasilan di lingkungan antariksa, teknik ini mulai dilirik untuk kebutuhan pertanian di Bumi. Pada akhir 1990-an, para ilmuwan Australia mengadaptasi prinsip-prinsip speed breeding untuk tanaman pangan.

Dr. Lee Hickey dari University of Queensland menjadi salah satu pelopor yang mengembangkan protokol speed breeding di lingkungan laboratorium dan rumah kaca. Pada 2007, hasil penelitiannya menunjukkan keberhasilan signifikan pada tanaman gandum, membuka jalan bagi penerapan lebih luas pada berbagai spesies tanaman.

Speed breeding terus mengalami penyempurnaan. Antara 2010 hingga 2015, para peneliti mengembangkan spektrum dan intensitas cahaya yang disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis berbagai tanaman. Pada 2017, publikasi di jurnal Nature Plants menetapkan protokol standar untuk speed breeding, menjadikannya rujukan internasional.

Sejak 2018, teknik ini semakin terintegrasi dengan inovasi pemuliaan modern lainnya, seperti seleksi berbasis genom dan penyuntingan gen berbasis CRISPR-Cas9. Kolaborasi antar-disiplin ini mempercepat proses pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap penyakit, memiliki hasil tinggi, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Adopsi Global dan Dampaknya

Berbagai lembaga riset dan institusi pertanian di dunia mulai menerapkan speed breeding dalam program pemuliaan mereka. Di Eropa, John Innes Centre di Inggris menjadi pusat utama pengembangan teknik ini. Di Asia, IRRI (International Rice Research Institute) menggunakannya untuk mempercepat pemuliaan padi. Di Afrika, ICRISAT mengadopsi pendekatan ini untuk peningkatan produktivitas kacang-kacangan.

Speed breeding juga mulai diterapkan di Indonesia oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dalam konteks krisis iklim, degradasi lahan, dan peningkatan kebutuhan pangan global, speed breeding menawarkan solusi nyata. Ke depannya, tantangan yang perlu diatasi mencakup efisiensi energi dalam sistem pencahayaan, penurunan biaya operasional, dan pengembangan protokol untuk spesies tanaman tropis.

Selain itu, integrasi kecerdasan buatan dalam proses seleksi dan pengambilan keputusan diharapkan dapat semakin mempercepat dan menyempurnakan proses pemuliaan tanaman.

Perjalanan panjang speed breeding, dari eksperimen ruang angkasa hingga menjadi alat penting dalam pertanian modern, menunjukkan bagaimana inovasi ilmiah dapat menjawab tantangan besar peradaban.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

Pemanasan Global Meningkat Tajam, Dunia Kian Dekat pada Titik Kritis

News | Jum'at, 20 Juni 2025 | 15:07 WIB

Kerugian Miliaran Rupiah akibat Demo di Yamaha Music, Investor Bisa Kabur ke Vietnam & Thailand

Kerugian Miliaran Rupiah akibat Demo di Yamaha Music, Investor Bisa Kabur ke Vietnam & Thailand

Bisnis | Jum'at, 20 Juni 2025 | 07:24 WIB

Target Nol Emisi 2050: Indonesia Belajar dari Kanada untuk Masa Depan Berkelanjutan

Target Nol Emisi 2050: Indonesia Belajar dari Kanada untuk Masa Depan Berkelanjutan

News | Kamis, 19 Juni 2025 | 20:55 WIB

Terkini

Pelatih Bangladesh Tepis Rumor Keretakan Skuad Jelang Laga Kontra Timnas Indonesia

Pelatih Bangladesh Tepis Rumor Keretakan Skuad Jelang Laga Kontra Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 30 September 2026 | 15:50 WIB

Sephora Kids dan Obsesi Skincare Dini: Saat Anak SD Lupa Caranya Bermain

Sephora Kids dan Obsesi Skincare Dini: Saat Anak SD Lupa Caranya Bermain

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 15:50 WIB

Istri Eks Sekjen Kemnaker  Hery Sudarmanto Dipanggil KPK terkait Kasus Pemerasan RPTKA

Istri Eks Sekjen Kemnaker Hery Sudarmanto Dipanggil KPK terkait Kasus Pemerasan RPTKA

News | Rabu, 30 September 2026 | 15:48 WIB

Kenalin Om Jauh Deputi Bakom Timothy Ivan, Heryanto Tanaka Penyuap Hakim Agung

Kenalin Om Jauh Deputi Bakom Timothy Ivan, Heryanto Tanaka Penyuap Hakim Agung

News | Rabu, 30 September 2026 | 15:44 WIB

5 Tahun Dibiarkan Semrawut, Kabel di Kuningan Barat Bikin Pengendara Sering Terpeleset!

5 Tahun Dibiarkan Semrawut, Kabel di Kuningan Barat Bikin Pengendara Sering Terpeleset!

News | Rabu, 30 September 2026 | 15:43 WIB

Jokowi dan PSI Makin Percaya Diri, Pengamat Singgung Potensi Pecah Kongsi

Jokowi dan PSI Makin Percaya Diri, Pengamat Singgung Potensi Pecah Kongsi

Video | Rabu, 30 September 2026 | 15:42 WIB

Honda Keluarkan Mobil Keluarga Harga Setara Innova Zenix Hybrid

Honda Keluarkan Mobil Keluarga Harga Setara Innova Zenix Hybrid

Otomotif | Rabu, 30 September 2026 | 15:41 WIB

Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga

Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 15:40 WIB

Bansos dan KJP Banyak yang Putus, DPRD DKI Desak Pengelolaan Desil Balik ke Daerah

Bansos dan KJP Banyak yang Putus, DPRD DKI Desak Pengelolaan Desil Balik ke Daerah

News | Rabu, 30 September 2026 | 15:38 WIB

5 Moisturizer Ekstrak Mawar untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Awet Muda di Usia 45 Tahun ke Atas

5 Moisturizer Ekstrak Mawar untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Awet Muda di Usia 45 Tahun ke Atas

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 15:38 WIB

×