Kerja Keras Tapi Gaji Segitu-Gitu Aja? Peneliti UGM Bongkar Alasannya

Muhammad Ilham Baktora

Rabu, 09 Juli 2025 | 13:49 WIB
Kerja Keras Tapi Gaji Segitu-Gitu Aja? Peneliti UGM Bongkar Alasannya
Ilustrasi seorang perempuan tengah bekerja. (Pexels.com/Anna Tarazevich)

Suara.com - Pemerintah baru saja merilis berita gembira. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia turun.

Secara teori, ini berarti lebih banyak orang yang bekerja. Tapi, mari kita jujur sejenak. Apakah kamu, sebagai seorang milenial atau Gen Z yang sedang merintis karir, benar-benar merasakan perbaikan itu?

Atau justru kamu merasa gaji segitu-gitu saja, status pekerjaan tidak pernah aman, dan rasa cemas soal masa depan finansial malah semakin menjadi? Jika ya, kamu tidak sendirian.

Data boleh berkata A, tapi realita di lapangan seringkali berkata B. Riset terbaru dari Microeconomics Dashboard (Micdash) FEB UGM mengungkap sebuah paradoks yang menjadi "jebakan" tersembunyi bagi angkatan kerja muda.

Ilusi Angka: Di Balik Turunnya Angka Pengangguran

Masalah pertama terletak pada definisi "bekerja". Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), seseorang sudah dianggap bekerja jika ia melakukan pekerjaan untuk mendapat penghasilan minimal satu jam dalam seminggu terakhir.

Qisha Quarina, Peneliti Micdash FEB UGM, menyoroti betapa luasnya definisi ini.

"Konsep 1 jam dalam seminggu terakhir ini menjadi penting. Seseorang yang membantu menjaga warung keluarganya selama 1 jam dalam satu minggu terakhir sebelum diwawancara, akan dikategorikan ke dalam bekerja, walaupun yang bersangkutan tidak dibayar," ungkapnya melalui keterangan resminya, Rabu (9/7/2025).

Ini artinya, angka "pekerja" yang naik bisa jadi hanya ilusi optik. Seseorang yang baru terkena PHK dan terpaksa menjadi driver ojek online beberapa jam seminggu, atau seorang sarjana yang terpaksa membantu di toko keluarga tanpa upah, secara statistik dihitung sebagai "bekerja". Mereka tidak menganggur, tapi apakah pekerjaan mereka sudah layak?

baca juga

Jebakan Pekerjaan Rentan: Saat Status 'Pekerja' Tak Menjamin Kesejahteraan

Inilah inti masalahnya. Kenaikan jumlah pekerja ternyata didominasi oleh sektor informal. Data menunjukkan proporsi pekerja informal naik menjadi 59,40 persen pada Februari 2025, sementara pekerja formal justru menyusut.

"Artinya, kenaikan pekerja tidak diikuti dengan perbaikan kualitas pekerjaan," tegas Qisha.

Apa artinya ini bagi kamu? Artinya, semakin banyak orang yang terperangkap dalam pekerjaan rentan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Tidak Ada Kepastian Kontrak: Banyak yang bekerja tanpa perjanjian kerja yang jelas. Posisi tawarmu lemah dan kamu bisa kehilangan pekerjaan kapan saja tanpa pesangon.

Dominasi Kontrak Jangka Pendek (PKWT): Bahkan di sektor formal, banyak perusahaan lebih memilih Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Ini menciptakan siklus tak berujung: cari kerja, kerja sebentar, kontrak habis, cari kerja lagi.

"Pekerja PKWT harus lebih sering mencari kerja dan berganti pekerjaan. Sedangkan di Indonesia, biaya ekonomi mencari kerja itu sangat tinggi," jelas Qisha.

Minimnya Perlindungan Sosial: Jaminan sosial adalah jaring pengaman kita. Namun, hanya segelintir pekerja informal (10,22 persen) yang terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Bahkan pekerja formal pun tidak terjamin sepenuhnya.

Tunjangan Pengangguran yang Terbatas: Jika kamu kehilangan pekerjaan, apa yang terjadi? Skema Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) hanya untuk peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan.

Jika kamu bukan peserta, kamu menanggung risiko itu sendirian.

"Kondisi menganggur menjadi 'mahal' bagi beberapa pekerja," ujar Qisha.

Kamu Bukan Angka Statistik: Strategi Bertahan dan Tumbuh

Melihat realita yang suram bukan berarti kita harus pasrah. Mengetahui adanya "jebakan" ini adalah langkah pertama untuk membangun pertahanan.

Berikut adalah solusi praktis yang bisa kamu terapkan, baik untuk dirimu sendiri maupun sebagai desakan kepada pemerintah.

1. Untuk Dirimu Sendiri (Micro-Action):

Jadilah Pembelajar Seumur Hidup (Lifelong Learner): Jangan hanya bergantung pada satu keahlian dari pekerjaan utamamu.

Ikuti kursus online, dapatkan sertifikasi baru, atau pelajari high-income skill seperti digital marketing, data analysis, atau coding. Ini adalah exit plan dan bargaining power terbaikmu.

Pahami Hak-Hakmu: Baca dan pahami isi kontrak kerjamu. Ketahui perbedaan hak antara pekerja PKWT dan PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu). Pengetahuan adalah kekuatan.

-Bangun Jaring Pengaman Finansial Pribadi

Dana Darurat: Ini wajib. Sisihkan penghasilan untuk dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran.

Asuransi & BPJS Mandiri: Jika perusahaan tidak mendaftarkanmu, atau kamu seorang freelancer, daftarkan dirimu secara mandiri ke BPJS Ketenagakerjaan (program BPU - Bukan Penerima Upah).

Iurannya terjangkau dan manfaatnya (Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian) sangat vital.

Perluas Jaringan (Networking): Bergabunglah dengan komunitas profesional di bidangmu. Jaringan yang kuat seringkali lebih berharga daripada ijazah saat mencari peluang baru.

2. Desakan untuk Pemangku Kebijakan (Macro-Change):

Kita juga perlu mendorong perubahan sistemik. Seperti yang ditegaskan Qisha, pemerintah tidak bisa hanya berpuas diri dengan angka TPT.

"Pemangku kebijakan sudah selayaknya melihat lebih jauh permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia lebih dari hanya sekedar turunnya angka TPT atau naikknya jumlah orang bekerja," tegasnya.

-Kebijakan yang dibutuhkan harus menyentuh akar masalah:

Pengawasan Ketenagakerjaan yang Ketat: Memastikan perusahaan mematuhi aturan mengenai PKWT dan hak-hak pekerja.

Perluasan Jaminan Sosial Universal: Merancang skema perlindungan yang lebih mudah diakses oleh pekerja informal.

Dialog Tripartit yang Adil: Melibatkan suara serikat pekerja secara bermakna dalam setiap perumusan kebijakan, bukan hanya sebagai formalitas.

Panggilan untuk Bertindak

Pasar kerja Indonesia memang penuh tantangan. Namun, dengan memahami realita di balik angka, memperkuat diri dengan keahlian dan jaring pengaman finansial, serta menyuarakan kebutuhan akan pekerjaan yang layak, kita bisa mengubah narasi.

Kita bukan hanya sekadar angka dalam statistik pengangguran; kita adalah generasi yang menuntut dan memperjuangkan decent work.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gaji Komisaris PLN Bocor? Ade Armando Raup Rp2 Miliar Setahun, Ini Rinciannya

Gaji Komisaris PLN Bocor? Ade Armando Raup Rp2 Miliar Setahun, Ini Rinciannya

News | Senin, 07 Juli 2025 | 14:05 WIB

Update Pencairan TPG Setara Gaji 100 Persen, ASN Guru Tidak Perlu Panik Tunjangan Belum Cair

Update Pencairan TPG Setara Gaji 100 Persen, ASN Guru Tidak Perlu Panik Tunjangan Belum Cair

Bisnis | Minggu, 06 Juli 2025 | 15:12 WIB

Pahlawan Devisa atau Korban Kebijakan? Kritik Saran Kerja ke Luar Negeri

Pahlawan Devisa atau Korban Kebijakan? Kritik Saran Kerja ke Luar Negeri

Your Say | Selasa, 01 Juli 2025 | 10:51 WIB

Terkini

Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp96.450 per Kilogram

Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp96.450 per Kilogram

Bisnis | Sabtu, 26 September 2026 | 12:17 WIB

Sharp Gebrak Pasar TV 4K, Bawa Gaming 120Hz hingga Azan Reminder

Sharp Gebrak Pasar TV 4K, Bawa Gaming 120Hz hingga Azan Reminder

Tekno | Sabtu, 26 September 2026 | 12:15 WIB

4 Kesalahan Reapply Sunscreen Stick yang Bikin Jerawatan, Sering Tak Disadari

4 Kesalahan Reapply Sunscreen Stick yang Bikin Jerawatan, Sering Tak Disadari

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 12:15 WIB

Anime Hell Mode Resmi Berlanjut ke Season 3, Angkat Arc S-Rank Dungeon

Anime Hell Mode Resmi Berlanjut ke Season 3, Angkat Arc S-Rank Dungeon

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 12:15 WIB

Prabowo Sampaikan Duka untuk Guruh Soekarnoputra Lewat Sketsa Wajah Menyentuh di Instagram

Prabowo Sampaikan Duka untuk Guruh Soekarnoputra Lewat Sketsa Wajah Menyentuh di Instagram

News | Sabtu, 26 September 2026 | 12:14 WIB

Ancaman Serius Bagi Toleransi Beragama! DPR Kecam Penolakan Gereja di Palu

Ancaman Serius Bagi Toleransi Beragama! DPR Kecam Penolakan Gereja di Palu

News | Sabtu, 26 September 2026 | 12:04 WIB

Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea

Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 12:00 WIB

Sihir King Nassar di PestaPora 2026: Saat Dangdut Naik Kelas dan Menghipnotis Gen Z

Sihir King Nassar di PestaPora 2026: Saat Dangdut Naik Kelas dan Menghipnotis Gen Z

Entertainment | Sabtu, 26 September 2026 | 11:59 WIB

Anggota DPRD Kampar Jadi Tersangka Perambahan Hutan untuk Kebun Sawit

Anggota DPRD Kampar Jadi Tersangka Perambahan Hutan untuk Kebun Sawit

Riau | Sabtu, 26 September 2026 | 11:58 WIB

5 Moisturizer untuk Mencegah Penuaan Dini di Usia 20-an, Mulai Rp40 Ribuan

5 Moisturizer untuk Mencegah Penuaan Dini di Usia 20-an, Mulai Rp40 Ribuan

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 11:43 WIB

×