Dulu Hiburan, Kini Gengsi: Sound Horeg Karya Edi Sound Jadi Simbol Status Sosial

Tasmalinda Suara.Com
Sabtu, 26 Juli 2025 | 23:37 WIB
Dulu Hiburan, Kini Gengsi: Sound Horeg Karya Edi Sound Jadi Simbol Status Sosial
Thomas Alva Edison, Edi Sound

Tapi Investasi: Keluarga yang rela membayar Rp 20 juta hingga Rp 50 juta lebih untuk sewa sound system semalam tidak melihatnya sebagai biaya, melainkan investasi gengsi. Pengakuan sosial yang mereka dapatkan dianggap sepadan dengan harganya.

Terdapat kasta yang jelas di dunia sound system. Menggunakan sound abal-abal bisa menjadi bahan cemoohan, sementara berhasil mendatangkan "sultan horeg" akan membuat nama keluarga sang penyelenggara hajatan harum selama berbulan-bulan.

Makin Viral

Di era digital, gengsi tidak hanya diukur saat acara berlangsung, tetapi juga setelahnya. Hajatan yang menggunakan sound horeg ternama akan menjadi konten utama di grup-grup WhatsApp warga, TikTok, dan Facebook lokal.

Mereka tidak hanya sukses di dunia nyata, tapi juga di dunia maya lokal.

"Hajatannya Pak Anu kemarin pakai Brewog, sampai kaca jendela tetangga bergetar!"

Kalimat seperti ini menjadi legenda urban lokal yang terus diceritakan, mengabadikan status keluarga penyelenggara jauh setelah acara selesai.

Ini adalah bentuk modal sosial yang sangat kuat di komunitas pedesaan dan pinggiran kota.

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai antar generasi.

Baca Juga: Benarkah Rakit Satu Truk Sound Horeg Butuh Biaya Setara Sebuah Rumah Mewah?

Generasi yang lebih tua mungkin lebih menghargai interaksi personal dengan biduan dangdut melalui saweran.

Namun bagi generasi muda, pengalaman yang dicari adalah sensasi dan euforia kolektif yang terinspirasi dari festival musik elektronik global.

Menyediakan pengalaman "Tomorrowland versi lokal" ini adalah cara bagi tuan rumah untuk menunjukkan bahwa mereka modern, relevan, dan mengerti selera generasi baru. Ini adalah gengsi yang didapat dari menjadi trendsetter.

Pada akhirnya, gemuruh bass dari sound horeg adalah suara dari aspirasi sosial.

Ini adalah gema dari keinginan untuk diakui, dihormati, dan dikenang. Fenomena ini membuktikan bahwa di setiap komunitas, selalu ada cara-cara unik untuk menampilkan status dan kesuksesan. Di panggung hajatan Jawa masa kini, cara itu adalah melalui dinding speaker yang megah dan getaran yang tak terlupakan.

Menurut Anda, apakah fenomena ini positif untuk membangun kebersamaan, atau justru menciptakan kesenjangan sosial baru yang tidak sehat? Bagikan pandanganmu di kolom komentar!

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI