Kasusnya sudah berjalan penuh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Sidang perdananya digelar pada 6 Maret 2025.
Puncaknya, pada 18 Juli 2025, majelis hakim menyatakan Tom Lembong terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi.
"Mengadili, menyatakan terdakwa Thomas Trikasih Lembong telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar Ketua Majelis Hakim saat membacakan putusan.
Tom Lembong divonis pidana penjara selama 4 tahun dan 6 bulan ditambah denda Rp750 juta.
Setelah vonis ini, Tom Lembong diketahui sedang menempuh upaya hukum banding sebelum prosesnya dihentikan oleh abolisi.
3. 'Lampu Hijau' DPR Atas Permintaan Presiden Prabowo
Abolisi adalah hak prerogatif atau hak istimewa Presiden untuk menghentikan proses hukum seseorang yang sedang berjalan.
Namun, sesuai amanat UUD 1945, Presiden harus meminta pertimbangan dari DPR.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengirimkan surat permintaan abolisi untuk Tom Lembong (dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto) ke DPR.
Permintaan ini kemudian dibahas dan disetujui dalam Rapat Paripurna DPR.
Persetujuan DPR inilah yang menjadi landasan hukum bagi Presiden Prabowo untuk menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) abolisi, yang membuat vonis dan status hukum Tom Lembong gugur seketika.
4. Alasan Istana: Untuk Kepentingan Bangsa yang Lebih Besar
Pemberian abolisi untuk kasus korupsi besar tentu menimbulkan pertanyaan.
Pihak Istana Kepresidenan menjelaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo didasarkan pada pertimbangan kepentingan bangsa yang lebih luas.
Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menciptakan stabilitas politik dan mendorong rekonsiliasi nasional pasca-polarisasi yang terjadi beberapa waktu ke belakang.
Abolisi ini dipandang sebagai sebuah instrumen untuk menyudahi konflik politik yang berlarut-larut, di mana kasus hukum yang menjerat Tom Lembong dianggap sebagian kalangan memiliki muatan politis.
5. Jokowi Buka Suara: "Itu Hak Prerogatif Presiden"
![Presiden ke-7 Joko WIdodo atau Jokowi saat memberikan keterangan kepada wartawan di kediamannya di Solo pada Jumat (1/8/2025). [Suara.com/Ari Welianto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/01/79890-jokowi.jpg)
Presiden sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi), turut memberikan tanggapan singkat mengenai keputusan yang diambil oleh penggantinya.
Saat ditanya wartawan, Jokowi menegaskan bahwa pemberian abolisi dan amnesti adalah hak konstitusional yang melekat pada jabatan presiden.
Menurutnya, setiap presiden memiliki kewenangan penuh untuk menggunakan hak prerogatif tersebut berdasarkan pertimbangan yang dinilai tepat.
Jawaban ini mengisyaratkan bahwa secara konstitusional, langkah yang diambil Presiden Prabowo memiliki dasar hukum yang kuat, terlepas dari perdebatan publik yang mengiringinya.