“Akhirnya ya di sini, jadi Pak Ogah. Nggak ada pilihan lain,” ujarnya pasrah.
Paradoksnya, saat Iwan dan Arif berjibaku di bawah terik matahari dan kepulan asap knalpot, negara yang mereka diami akan merayakan hari jadinya yang ke-80 pada 17 Agustus 2025 mendatang.
Namun, gema perayaan dan slogan 'Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju' terasa hampa dan jauh dari mereka.

Bagi Iwan, tak ada yang istimewa dari hari kemerdekaan; itu hanyalah pengulangan hari-hari sebelumnya, kembali melanggar aturan demi mengais receh.
Ketika ditanya apa makna kemerdekaan baginya, jawabannya memunculkan skeptisisme yang lahir dari kerasnya kehidupan.
Baginya, yang merdeka adalah negara sebagai sebuah entitas, bukan individu-individu di dalamnya, apalagi orang sepertinya.
"Kemerdekaan apa ya? Ya hari kemerdekaan Indonesia. Gitu saja kan nggak ada bedanya," ujar Iwan.
Selama menjalani hidup sebagai 'orang susah' di negara yang merdeka, Iwan merasa tak pernah tersentuh oleh uluran tangan pemerintah.
Bantuan terasa seperti mitos, sebuah janji yang tak pernah sampai ke tangannya.
"Gini-gini aja. Nggak ada tuh bantuan pemerintah. Mau saya kena PHK juga sekarang cari duit juga sendiri aja," tutur Iwan.
Pun serupa dengan rekan seperjuangan Iwan, Arif. Ia menimpali dengan kisah hidup yang tak jauh berbeda dirasakan Iwan.
Arif terpaksa meninggalkan bangku sekolah menengah atas demi membantu ekonomi keluarga.
Berbagai pekerjaan kasar telah ia lakoni, dari kenek angkot hingga buruh bongkar muat, sebelum akhirnya terdampar di persimpangan yang sama dengan Iwan.
Retorika Agustusan
Baginya, kemerdekaan hanya retorika agustusan yang tak pernah terwujud dalam sepiring nasi untuk keluarganya.
Perasaan ditinggalkan oleh negara menjadi sebuah sentimen yang nyata.
“Yang saya rasain, ya kita tetap susah. Pemerintah kayak nggak lihat orang-orang kayak kami,” kata Arif.
Selain di 'tol trotoar' dekat Gedung DPR RI, keduanya juga kerap beroperasi di dekat Flyover Slipi.
Lokasi-lokasi strategis ini menjadi arena pertaruhan mereka, tempat di mana arus kendaraan padat berarti ada peluang lebih besar untuk mendapatkan uang kecil dari mereka yang ingin perjalanannya lebih lancar.
Meski sepenuhnya sadar bahwa pekerjaan mereka ilegal dan berisiko, Iwan dan Arif mengaku terjepit oleh keadaan.
![Pak Ogah dekat gedung DPR RI, Iwan. Ia merupakan salah satu korban PHK saat Pandemi Covid-19. Untuk menyambung hidup, ia memutuskan untuk bekerja menjadi pak ogah. [Suara,com/Fakhri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/17/33776-pak-ogah-dekat-gedung-dpr-ri-iwan.jpg)
Pilihan menjadi 'Pak Ogah' bukanlah sebuah keinginan, melainkan sebuah keterpaksaan.
"Kalau nggak begini, mau makan apa? Saya juga maunya kerja bener, tapi nggak ada yang nerima,” ujar Iwan.
Sore itu, di bawah bayang-bayang bendera kecil yang berkibar di ujung trotoar, mereka kembali sibuk memberi aba-aba.
Bagi Iwan dan Arif, kemerdekaan masih terasa jauh, bahkan ketika seluruh negeri merayakannya dengan gegap gempita.
Artikel ini khusus dibuat Redaksi Suara.com dalam rangka perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.