Guru Besar IPB: Petani Dituntut Taat Kebijakan, Tapi Bantuan Benih dan Pupuk Masih Jauh dari Cukup

Vania Rossa, Lilis Varwati

Rabu, 01 Oktober 2025 | 08:02 WIB
Guru Besar IPB: Petani Dituntut Taat Kebijakan, Tapi Bantuan Benih dan Pupuk Masih Jauh dari Cukup
Ilustrasi petani. (Pexels/hartono subagio)
baca 10 detik
  • Prof. Dwi Andreas Santoso menegaskan bantuan benih dan pupuk pemerintah hanya menyumbang porsi kecil dalam biaya produksi petani.

  • Meski begitu, pemerintah kerap menjadikan bantuan tersebut alasan untuk menuntut kepatuhan petani pada berbagai kebijakan.

  • Ia juga mengkritik intervensi aparat yang memaksa pembelian gabah di harga lebih rendah, padahal harga pasar jauh lebih tinggi.

Suara.com - Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dwi Andreas Santoso, menilai bantuan pemerintah kepada petani dalam bentuk benih dan pupuk tidaklah signifikan. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan petani untuk benih dan pupuk relatif kecil.

"Pengeluaran untuk benih pupuk itu kecil. bahkan benih hanya sekitar 2 persen, pupuk hanya sekitar 5 persen, jadi sangat kecil," kata Andreas dalam diskusi Celios di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Ia kemudian menyinggung pernyataan pemerintah yang mengklaim telah beri bantuan hingga ratusan triliun rupiah kepada petani melalui pupuk dan benih tersebut. Menurutnya, bantuan itu lantas justru dijadikan alasan agar petani harus mengikuti berbagai kebijakan yang ditetapkan.

"Sehingga banyak tuntutan petani harus nurut dan sebagainya. Ketika kemarin, pemerintah menyatakan produksi naik pesat, stok Bulog terbesar sepanjang sejarah. Memang iya 4,3 juta ton, tapi harga beras sejak Januari sampai detik ini naik terus. Tidak ada satu bulan pun di mana harga beras enggak naik. Sehingga kelihatan kalau anomali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andreas menyoroti kebijakan pemerintah yang sempat memaksa perusahaan membeli gabah di harga Rp6.500 per kilogram, meski harga di lapangan pada saat itu telah sekitar Rp7.000 sampai Rp7.500.

Pada saat ini, menurutnya, harga gabah bahkan telah mencapai Rp8.000. Namun, dia mengungkapkan kalau pemerintah justru memaksa pengusaha untuk membeli dengan harga lebih murah dengan melibatkan aparat.

"Pernah dipaksa sampai diturunkan TNI-Polri, Satgas Pangan, untuk memaksa pengepul atau pembeli membeli gabah dari petani Rp 6.500. Gak tahu akhirnya itu jadi atau enggak, tapi sempat ada edarannya," bebernya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Inovasi dari Sragen, Gaungkan Bela Negara dengan Menjaga Ketahanan Pangan

Inovasi dari Sragen, Gaungkan Bela Negara dengan Menjaga Ketahanan Pangan

Lifestyle | Selasa, 30 September 2025 | 07:46 WIB

Petani Hingga Buruh Lega Menkeu Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok

Petani Hingga Buruh Lega Menkeu Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok

Bisnis | Senin, 29 September 2025 | 10:17 WIB

Petani Tuban Ubah Bonggol Jagung Jadi Sumber Energi Bersih

Petani Tuban Ubah Bonggol Jagung Jadi Sumber Energi Bersih

Your Say | Minggu, 28 September 2025 | 12:42 WIB

Terkini

Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara

Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara

Bali | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:07 WIB

Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang

Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:06 WIB

Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?

Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB

Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin

Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB

Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar

Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:01 WIB

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:00 WIB

5 Cara Cek Nomor Indosat Pakai Internet dan Tidak, Praktis dan Cepat

5 Cara Cek Nomor Indosat Pakai Internet dan Tidak, Praktis dan Cepat

Tekno | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:59 WIB

KPK Geledah Rumah Etik Suryani di Laweyan 1,5 Jam, Angkut 2 Koper

KPK Geledah Rumah Etik Suryani di Laweyan 1,5 Jam, Angkut 2 Koper

Surakarta | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:58 WIB

Hackathon Digital Cooperatives 2026 Cetak Inovasi AI untuk Percepat Digitalisasi Koperasi Indonesia

Hackathon Digital Cooperatives 2026 Cetak Inovasi AI untuk Percepat Digitalisasi Koperasi Indonesia

Tekno | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:57 WIB

Tembus Pasar Besar dengan Konservasi, BRI Berikan Dukungan Penuh Suhita Lebah

Tembus Pasar Besar dengan Konservasi, BRI Berikan Dukungan Penuh Suhita Lebah

Bri | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:56 WIB

×