Pola Makan Tak Berkelanjutan Jadi Ancaman bagi Iklim dan Kemanusiaan: Apa yang Mesti Dilakukan?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 06 Oktober 2025 | 14:20 WIB
Pola Makan Tak Berkelanjutan Jadi Ancaman bagi Iklim dan Kemanusiaan: Apa yang Mesti Dilakukan?
Ilustrasi food waste / sampah makanan (wwf)
    • Pola makan berbasis tumbuhan dapat menyelamatkan jutaan jiwa dan menekan emisi pertanian global.
    • Sistem pangan yang tidak berkelanjutan menjadi ancaman serius bagi kesehatan, keanekaragaman hayati, dan iklim.
    • Para ilmuwan mendesak reformasi pangan global agar menjadi bagian utama kebijakan iklim dunia.

Suara.com - Para ilmuwan dunia kembali memperingatkan bahwa target iklim global terancam gagal tercapai jika manusia tidak segera mengubah pola makan mereka secara mendasar.

Peringatan ini muncul dalam laporan terbaru Komisi EAT–Lancet, yang menegaskan bahwa pergeseran menuju pola makan sehat berbasis tumbuhan tak hanya bisa menyelamatkan sekitar 15 juta jiwa setiap tahun, tetapi juga menekan emisi pertanian hingga 15 persen.

Komisi yang beranggotakan para pakar lintas negara ini meninjau data dari berbagai bidang mulai dari kesehatan manusia, keanekaragaman hayati, perubahan iklim, hingga kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Hasilnya menunjukkan, tanpa reformasi besar dalam sistem pangan global, krisis iklim dan kerusakan ekosistem tak akan terhindarkan, bahkan jika dunia berhasil beralih ke energi bersih. 

Ilustrasi sampah makanan yang dapat memicu pemanasan global. (pexels.com)
Ilustrasi sampah makanan yang dapat memicu pemanasan global. (pexels.com)

“Jika kita tidak meninggalkan pola pangan yang tidak berkelanjutan seperti saat ini, kita akan gagal dalam agenda iklim, gagal menjaga keanekaragaman hayati, gagal menjamin ketahanan pangan dan gagal dalam banyak hal,” ujar Johan Rockström, Direktur Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim sekaligus rekan penulis laporan tersebut.

Laporan ini kembali menegaskan konsep diet “Pola Makan Sehat Planet”, yang menekankan konsumsi biji-bijian, sayur, buah, kacang, dan polong-polongan, serta membatasi daging merah hanya sekali seminggu, dengan satu porsi protein hewani dan susu per hari.

Pendekatan ini diyakini tidak hanya menjaga kesehatan manusia, tetapi juga mengurangi jejak karbon secara signifikan terutama di negara maju yang berkontribusi besar terhadap emisi dari sektor pangan.

Rockström menambahkan, meski temuan terbaru ini terkesan seperti pengulangan dari laporan enam tahun lalu, hal itu justru memperkuat keyakinan ilmiah. “Ilmu pangan terus berkembang cepat, dan bukti-bukti baru menunjukkan bahwa kita berada di jalur sains yang benar,” ujarnya.

Mengubah pola makan memang merupakan keputusan paling personal dalam kehidupan manusia. Namun laporan EAT–Lancet menegaskan bahwa sistem pangan global saat ini telah menjadi penyumbang terbesar pelampauan batas ekologi aman bumi dari emisi gas rumah kaca, kerusakan tanah, hingga polusi air.

Profesor Kathleen Merrigan dari Arizona State University menyebut laporan ini “luar biasa komprehensif” karena berhasil menghubungkan praktik pertanian, kondisi ketenagakerjaan, dan kebiasaan konsumsi dalam satu analisis utuh.

“Kita baru benar-benar menyadari betapa besar peran makanan dalam keberlangsungan planet ini,” katanya.

Selain soal pola makan, laporan juga menyoroti ketimpangan sistem pangan global. Hampir setengah populasi dunia masih belum memiliki akses terhadap makanan bergizi, lingkungan sehat, dan pekerjaan layak. Kelompok minoritas, masyarakat adat, perempuan, anak-anak, serta komunitas di wilayah konflik menjadi pihak paling rentan terhadap krisis pangan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Menjelang Konferensi Iklim PBB (COP) pada November mendatang, para ilmuwan mendesak para pemimpin dunia untuk menjadikan reformasi sistem pangan sebagai bagian integral dari kebijakan iklim nasional.

“Mengabaikan sains pangan sama saja dengan menuntun masyarakat menuju masa depan yang rapuh baik dari sisi ketahanan pangan, kesehatan, maupun stabilitas lingkungan. Dan itu adalah jalan menuju dunia yang lebih lemah,” tutup laporan tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perempuan Pesisir dan Beban Ganda di Tengah Krisis Iklim

Perempuan Pesisir dan Beban Ganda di Tengah Krisis Iklim

Your Say | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 17:20 WIB

MQK Internasional Perdana di Indonesia, Menag Soroti Ekoteologi untuk Atasi Krisis Iklim

MQK Internasional Perdana di Indonesia, Menag Soroti Ekoteologi untuk Atasi Krisis Iklim

News | Kamis, 02 Oktober 2025 | 18:09 WIB

Bukan Cuma Biar Kurus: Ini 6 Aturan Main Diet Sehat yang Gampang Diterapin

Bukan Cuma Biar Kurus: Ini 6 Aturan Main Diet Sehat yang Gampang Diterapin

Your Say | Jum'at, 26 September 2025 | 15:18 WIB

Terkini

Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps

Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:42 WIB

Perdokjasi Dorong Prodi S2 Kedokteran Asuransi Pertama di Indonesia, Target Berdiri 2028

Perdokjasi Dorong Prodi S2 Kedokteran Asuransi Pertama di Indonesia, Target Berdiri 2028

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:39 WIB

Insiden Panipahan Jadi 'Wake-Up Call', Kapolda Riau Deklarasi Perang Total Lawan Narkoba

Insiden Panipahan Jadi 'Wake-Up Call', Kapolda Riau Deklarasi Perang Total Lawan Narkoba

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:33 WIB

Unggah Foto AI Dipeluk Yesus, Donald Trump Ingin Dianggap sebagai Mesias

Unggah Foto AI Dipeluk Yesus, Donald Trump Ingin Dianggap sebagai Mesias

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:15 WIB

Nyatakan Netral, PSI Siap Mediasi Sahat-JK

Nyatakan Netral, PSI Siap Mediasi Sahat-JK

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:12 WIB

Resmi, UBL Pecat Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Mahasiswi

Resmi, UBL Pecat Dosen Terduga Pelaku Pelecehan Mahasiswi

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:05 WIB

Lebih Efisien dari BBM, Seberapa Efektif Truk Listrik Kurangi Emisi?

Lebih Efisien dari BBM, Seberapa Efektif Truk Listrik Kurangi Emisi?

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:02 WIB

Kejagung Buru Pihak Swasta Pemberi Fee Rp1,5 Miliar ke Ketua Ombudsman Hery Susanto

Kejagung Buru Pihak Swasta Pemberi Fee Rp1,5 Miliar ke Ketua Ombudsman Hery Susanto

News | Kamis, 16 April 2026 | 18:59 WIB

Bupati Mimika Johannes Rettob Raih KWP Award 2026, Kepala Daerah Paling Inovatif

Bupati Mimika Johannes Rettob Raih KWP Award 2026, Kepala Daerah Paling Inovatif

News | Kamis, 16 April 2026 | 18:54 WIB

Bahlil Lapor ke Prabowo, Pasokan Minyak Rusia untuk RI Masuk Tahap Akhir

Bahlil Lapor ke Prabowo, Pasokan Minyak Rusia untuk RI Masuk Tahap Akhir

News | Kamis, 16 April 2026 | 18:35 WIB