Swedia Ingin Kurangi Emisi Lewat Pajak Makanan Tak Ramah Lingkungan, Bisakah Ditiru?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:28 WIB
Swedia Ingin Kurangi Emisi Lewat Pajak Makanan Tak Ramah Lingkungan, Bisakah Ditiru?
Ilustrasi sampah makanan
baca 10 detik
    • Peneliti di Swedia mengusulkan sistem pajak baru: makanan tinggi emisi seperti daging akan dikenai pajak tambahan, sementara buah, sayur, dan biji-bijian dibebaskan dari PPN.
    • Kebijakan ini diperkirakan bisa menurunkan konsumsi daging hingga 19% dan memangkas 700.000 ton emisi karbon setiap tahun.
    • Pendekatan “pajak pangan” ini dinilai bukan sekadar soal harga, tapi juga langkah realistis untuk melindungi kesehatan manusia dan masa depan iklim.

Suara.com - Selama ini, pembahasan soal krisis iklim kerap kali berpusat pada kendaraan, industri, dan pembangkit listrik sebagai biang keladi emisi karbon.

Namun riset terbaru justru menggeser sorotan itu ke arah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu makanan yang kita konsumsi. Dari potongan daging di meja makan hingga segelas minuman manis di kafe, setiap produk pangan ternyata meninggalkan jejak karbon yang besar bagi bumi.

Kini, para ilmuwan menemukan pendekatan baru untuk menekan dampak tersebut dengan mengenakan pajak pada makanan yang paling mencemari lingkungan dan menghapuskan beban pajak bagi pangan yang lebih ramah iklim.

Kebijakan sederhana seperti ini dapat menjadi langkah nyata untuk menekan emisi karbon dari sektor pertanian sekaligus mendorong masyarakat beralih ke pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Pengunjung memilih produk minuman berpemanis di salah satu ritel di Jakarta, Senin (18/12/2023).  [Suara.com/Alfian Winanto]
Pengunjung memilih produk minuman berpemanis di salah satu ritel di Jakarta, Senin (18/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Jika kebijakan pajak ini diterapkan, harga daging sapi dan domba akan naik sekitar 25 persen atau hampir Rp52 ribu per kilogram, dan diperkirakan konsumsi daging di negara tersebut akan turun hingga 19 persen.

Penurunan ini diproyeksikan dapat memangkas sekitar 700 ribu ton emisi karbon dioksida per tahun, setara dengan 8 persen emisi kendaraan penumpang,  atau setara dengan sepuluh mobil di jalanan Swedia.

Kebijakan ini disinyalir para peneliti sebagai “pergeseran pajak pangan”, di mana makanan sehat seperti buah, sayur, dan biji-bijian akan dibebaskan dari pajak pertambahan nilai (PPN), sementara produk yang berdampak besar terhadap iklim seperti daging, daging olahan, dan minuman kemasan akan dikenai pajak tambahan.

Skema ini dianggap sebagai langkah “netral biaya”, sebab kenaikan harga pada satu sisi diimbangi dengan penurunan di sisi lainnya. Menurut Jörgen Larsson, peneliti dari Chalmers University of Technology, kebijakan semacam ini bukan hanya soal angka di meja makan, tetapi juga soal masa depan iklim dan kesehatan manusia.

“Pola makan kita saat ini membuat kita sakit dan memperburuk iklim. Jika ingin berubah secara kolektif, pajak dan subsidi adalah alat yang paling realistis untuk memulainya,” ujar Larsson.

baca juga

Temuan ini sekaligus memperkuat laporan Komisi EAT-Lancet, yang sebelumnya mencatat bahwa sekitar 15 juta kematian bisa dicegah setiap tahun jika masyarakat beralih ke pola makan berbasis nabati. Perubahan itu juga bisa menurunkan emisi pertanian global hingga 15 persen.

Catatan sejarah juga memperlihatkan bagaimana harga mempengaruhi perilaku konsumen. Pada 1990-an, konsumsi daging sapi di Swedia melonjak hingga 50 persen setelah harganya turun hampir separuh. Fakta itu memperkuat dugaan bahwa mekanisme pajak bisa menjadi pendorong efektif perubahan kebiasaan makan masyarakat.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa tujuan kebijakan ini bukanlah untuk melarang daging sama sekali.

“Tidak semua orang harus menjadi vegetarian demi menyelamatkan bumi,” ujar Larsson. “Namun jika kita bisa mengurangi konsumsi secara moderat, manfaatnya akan terasa besar bagi tubuh kita dan bagi Bumi.”

Penulis: Muhamad Ryan Sabiti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bill Gates: Dunia Salah Arah Hadapi Krisis Iklim, Kenapa Demikian?

Bill Gates: Dunia Salah Arah Hadapi Krisis Iklim, Kenapa Demikian?

News | Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:04 WIB

IRENA: Dunia Butuh Dua Kali Lipat Aksi untuk Selamat dari Krisis Iklim

IRENA: Dunia Butuh Dua Kali Lipat Aksi untuk Selamat dari Krisis Iklim

News | Selasa, 21 Oktober 2025 | 10:55 WIB

Media Lokal Diminta Ambil Peran Soal Isu Lingkungan dan Krisis Iklim

Media Lokal Diminta Ambil Peran Soal Isu Lingkungan dan Krisis Iklim

News | Rabu, 08 Oktober 2025 | 18:15 WIB

Terkini

Bukan Mahasiswa Asli, Ini Pengakuan Sari Putri yang Nekat Pakai Almamater UBSI di Bundaran HI

Bukan Mahasiswa Asli, Ini Pengakuan Sari Putri yang Nekat Pakai Almamater UBSI di Bundaran HI

Video | Minggu, 01 November 2026 | 20:31 WIB

Emil Audero Masuk Nominasi Penyelamatan Terbaik LaLiga, Bersaing dengan Kiper Real Madrid

Emil Audero Masuk Nominasi Penyelamatan Terbaik LaLiga, Bersaing dengan Kiper Real Madrid

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 20:30 WIB

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel

Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:20 WIB

SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:15 WIB

Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!

Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:15 WIB

Persib Bandung Bantai Kalteng FC dan Tempel Ketat Puncak Klasemen

Persib Bandung Bantai Kalteng FC dan Tempel Ketat Puncak Klasemen

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 20:10 WIB

Aktivitas Erupsi Tak Surutkan Langkah Nelayan Pandeglang Tetap Melaut

Aktivitas Erupsi Tak Surutkan Langkah Nelayan Pandeglang Tetap Melaut

Banten | Minggu, 01 November 2026 | 20:02 WIB

Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran Tuai Kritik, Propam Turun Tangan

Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran Tuai Kritik, Propam Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 20:01 WIB

Gerakan Italia Sadar: Mogok Kerja, Tuntut Kenaikan Gaji dan Protes Biaya Hidup

Gerakan Italia Sadar: Mogok Kerja, Tuntut Kenaikan Gaji dan Protes Biaya Hidup

News | Minggu, 01 November 2026 | 20:00 WIB

Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan

Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 20:00 WIB

×