Ekonom UI Sebut Purbaya Sedang di Fase 'Storming', Bekerja Murni untuk Rakyat tapi...

Dwi Bowo Raharjo

Jum'at, 31 Oktober 2025 | 12:59 WIB
Ekonom UI Sebut Purbaya Sedang di Fase 'Storming', Bekerja Murni untuk Rakyat tapi...
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Antara/Aditya Pradana Putra]
baca 10 detik
  • Pendekatan murni dan teknis yang dipegang Purbaya terkadang berseberangan dengan cara pandang ekonomi politik yang lebih strategis.
  • Ekonom tersebut kemudian mencontohkan perbedaan pandangan tersebut lewat proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).
  • Dalam kacamata politik ekonomi, proyek besar seperti Whoosh menjadi alat untuk menjaga stabilitas dan menarik investasi global.

Suara.com - Ekonom Universitas Indonesia, Kun Nurachadijat, menilai bahwa gejolak yang tengah dihadapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merupakan bagian dari dinamika kepemimpinan yang wajar dalam dunia birokrasi.

Menurutnya, Purbaya kini sedang berada di fase “storming” tahap di mana gesekan dan konflik muncul sebelum tercapainya stabilitas dalam sebuah sistem kerja.

“Nah, semoga fasis storming itu mengantarkan dia ke fasis norming. Norming baru performing. Begitu. Nah, saya lihat fase ini yang sedang Purbaya alami. Purbaya sedang berada di fase storming,” ujar Ekonom dalam Podcast Forum Keadilan TV, dikutip Kamis (30/10/2025).

Lebih lanjut, Kun mengurai bahwa konflik yang dihadapi Purbaya bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan benturan kepentingan antara gaya kepemimpinan teknokratik dan kepentingan politik-ekonomi yang lebih luas.

“Kalau bisa diklaster, kepentingan-kepentingan apa yang dilindungi oleh para orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai lawannya Purbaya ini?" kata dia.

"Purbaya seorang yang teknokrat ya, teknokrat yang beranjak dari teknolog. Jadi dia ini ketika dapat kekuasaan dia itu ya kerja benar-benar full, pure ya sejauh ini pengamatan saya masih untuk rakyat,” Purbaya menambahkan.

Namun, pendekatan murni dan teknis yang dipegang Purbaya terkadang berseberangan dengan cara pandang ekonomi politik yang lebih strategis.

“Nah pure itu dengan analisa-analisa ekonomi yang lempeng-lempeng aja. Sedangkan yang namanya ekonomi itu ada istilahnya ekonomi politik. Ketika berekonomi itu emang konteksnya dalam memperkuat posisi politik, geopolitik segala macam,” terangnya.

Ekonom tersebut kemudian mencontohkan perbedaan pandangan tersebut lewat proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).

baca juga

“Contoh Whoosh, itu mungkin di mata Purbaya inefisien, karena dalam bahasa awamnya karena pemirsa ini juga banyak yang tidak paham ekonomi. Jadi menjalankan atau membuat proyek dengan uang pinjaman,” ujar Kun.

Namun, ia menilai bahwa dari kacamata politik, proyek Whoosh justru memiliki nilai strategis yang besar.

“Nah, sedangkan kalau versi perspektif lawan Purbaya dalam konteks ini Pak Jokowi atau mungkin Pak Luhut itu Whoosh itu adalah supaya kita mencari posisi di geopolitik di antara Amerika dan Cina untuk menunjukkan bahwa kita ini dipilih sebagai tempat yang aman untuk investasi,” kata dia.

Kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh tengah melintas.(foto dok. KCIC)
Kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh tengah melintas.(foto dok. KCIC)

Kun juga menjelaskan bahwa dalam kacamata politik ekonomi, proyek besar seperti Whoosh menjadi alat untuk menjaga stabilitas dan menarik investasi global.

“Sedangkan dalam pertumbuhan ekonomi, ketenangan, minimnya risiko-risiko dalam ekonomi adalah ketidakpastian, itu mesti harus ada syarat mutlak untuk orang mau berinvestasi. Untuk menjadi good boy bagi investor-investor dan juga kekuatan politik, kutu-kutu politik di dunia, politik ekonomi di dunia gitu,” ujar Kun.

Menurutnya, di mata Purbaya proyek semacam itu mungkin tampak tidak efisien, namun bagi kalangan politik justru merupakan strategi geopolitik.

“Nah, di mata Purbaya ini inefisien gitu,” pungkasnya.

Reporter: Maylaffayza Adinda Hollaoena

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jokowi Pecat Menteri Kritik Kereta Whoosh, Said Didu: Jadi Luhut Tahu Dong Siapa yang Bikin Busuk?

Jokowi Pecat Menteri Kritik Kereta Whoosh, Said Didu: Jadi Luhut Tahu Dong Siapa yang Bikin Busuk?

News | Jum'at, 31 Oktober 2025 | 10:54 WIB

Prabowo Panggil Menteri, Nasib Utang Whoosh Rp116 Triliun di Ujung Tanduk?

Prabowo Panggil Menteri, Nasib Utang Whoosh Rp116 Triliun di Ujung Tanduk?

News | Jum'at, 31 Oktober 2025 | 09:52 WIB

Geger Skandal Whoosh, Akademisi Sebut Jokowi, Luhut, Erick Thohir dan 2 Menteri Layak Diperiksa

Geger Skandal Whoosh, Akademisi Sebut Jokowi, Luhut, Erick Thohir dan 2 Menteri Layak Diperiksa

News | Jum'at, 31 Oktober 2025 | 09:46 WIB

Skandal Whoosh Memanas: KPK Konfirmasi Penyelidikan Korupsi, Petinggi KCIC akan Dipanggil

Skandal Whoosh Memanas: KPK Konfirmasi Penyelidikan Korupsi, Petinggi KCIC akan Dipanggil

News | Kamis, 30 Oktober 2025 | 22:27 WIB

Terkini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 23:41 WIB

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:35 WIB

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:21 WIB

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 23:05 WIB

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:47 WIB

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Otomotif | Rabu, 23 September 2026 | 22:44 WIB

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:27 WIB

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:26 WIB

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Sumsel | Rabu, 23 September 2026 | 22:12 WIB

5 Tapol Diintimidasi Jelang Upaya Praperadilan, Setapol Minta Komnas HAM Turun Tangan

5 Tapol Diintimidasi Jelang Upaya Praperadilan, Setapol Minta Komnas HAM Turun Tangan

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:12 WIB

×