Tangis Haru 32 Tahun: Kisah Marsinah, Buruh Pabrik yang Dibunuh, Kini Jadi Pahlawan Nasional

Bangun Santoso

Senin, 10 November 2025 | 18:26 WIB
Tangis Haru 32 Tahun: Kisah Marsinah, Buruh Pabrik yang Dibunuh, Kini Jadi Pahlawan Nasional
Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan membawa poster Marsinah saat mengikuti aksi Kamisan ke-860 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (8/5/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Setelah 32 tahun, Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh pada 1993, secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah, sebuah bentuk keadilan moral yang telah lama dinantikan
  • Marsinah adalah ikon perjuangan buruh melawan represi Orde Baru, di mana ia memimpin aksi menuntut kenaikan upah namun berakhir dengan penculikan dan pembunuhan brutal
  • Meskipun gelar pahlawan telah diberikan, kasus pembunuhan Marsinah hingga kini belum sepenuhnya terungkap, dan dalang utama di baliknya belum pernah diadili secara tuntas

Suara.com - Penantian panjang selama 32 tahun akhirnya berbuah keadilan moral. Marsinah, aktivis buruh yang menjadi ikon perlawanan terhadap penindasan, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Tangis haru ahli waris pecah saat nama Marsinah disebut, menandai pengakuan tertinggi negara atas pengorbanan nyawanya demi hak-hak kaum pekerja.

Penganugerahan yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ini menjadi momen bersejarah. Kisah tragis buruh pabrik arloji asal Nganjuk yang dibunuh secara keji pada 1993 kini tercatat dalam tinta emas sejarah perjuangan bangsa.

Siapa Marsinah? Wajah Keberanian dari Pabrik Sidoarjo

Lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Marsinah adalah wajah buruh biasa dengan semangat luar biasa. Ia bekerja di pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Meski hanya lulusan SMA, ia dikenal cerdas, vokal, dan tak kenal takut dalam menyuarakan nasib rekan-rekannya.

Namanya mulai dikenal luas saat ia memimpin aksi unjuk rasa dan mogok kerja pada April hingga Mei 1993. Bersama ratusan buruh lainnya, Marsinah menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur saat itu.

Pada 3-4 Mei 1993, ia menjadi salah satu dari 15 perwakilan buruh yang maju bernegosiasi dengan pihak perusahaan. Perjuangannya tak hanya berhenti di meja perundingan, ia adalah motor penggerak di lapangan.

Perjuangan Dibalas Penyiksaan Brutal

Namun, keberanian Marsinah harus dibayar mahal. Represi aparat menjadi jawaban atas tuntutan para buruh. Puncaknya terjadi pada 5 Mei 1993, ketika Marsinah mendatangi Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan 13 rekannya yang dipanggil dan dipaksa menandatangani surat pengunduran diri.

Itu adalah kali terakhir ia terlihat hidup. Setelah mendatangi Kodim, Marsinah hilang tanpa jejak. Empat hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di Desa Jegong, Wilangan, Nganjuk. Hasil autopsi menunjukkan ia mengalami penyiksaan berat sebelum meninggal.

baca juga

Pembunuhan brutal ini sontak mengguncang Indonesia dan dunia internasional. Banyak pihak meyakini adanya keterlibatan aparat militer dalam kasus ini, sebuah ciri khas represi era Orde Baru terhadap gerakan pro-demokrasi. Namun, hingga kini, dalang utama di balik pembunuhannya tidak pernah benar-benar terungkap dan diadili secara adil.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Meski jasadnya telah tiada, semangat Marsinah tidak pernah mati. Kematiannya menyulut gelombang solidaritas yang masif dari aktivis perempuan, serikat buruh, mahasiswa, dan lembaga HAM. Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM) dibentuk untuk mengawal kasus ini dan menuntut keadilan.

Pada tahun yang sama, ia dianugerahi Penghargaan Yap Thiam Hien, sebuah pengakuan atas perjuangan hak asasi manusianya. Namanya abadi dalam berbagai bentuk karya budaya, mulai dari film Marsinah, Cry Justice (2001), lagu-lagu perlawanan dari band Marjinal dan musisi MasGat, hingga drama monolog Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet.

Setiap tanggal 1 Mei, posternya selalu diusung dalam aksi Hari Buruh, menjadi pengingat abadi bahwa kebebasan berserikat dan upah layak pernah diperjuangkan dengan darah dan nyawa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ironi Pahlawan Nasional: Marsinah, Korban Orde Baru, Kini Bersanding dengan Soeharto

Ironi Pahlawan Nasional: Marsinah, Korban Orde Baru, Kini Bersanding dengan Soeharto

News | Senin, 10 November 2025 | 18:20 WIB

Apa Risiko Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto?

Apa Risiko Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto?

News | Senin, 10 November 2025 | 18:19 WIB

Profil Sarwo Edhie Wibowo: Mertua SBY yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Profil Sarwo Edhie Wibowo: Mertua SBY yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Lifestyle | Senin, 10 November 2025 | 17:44 WIB

Komnas Perempuan Usulkan Empat Tokoh Wanita Jadi Pahlawan Nasional

Komnas Perempuan Usulkan Empat Tokoh Wanita Jadi Pahlawan Nasional

News | Senin, 10 November 2025 | 17:42 WIB

Hanya 8 Persen Perempuan Jadi Pahlawan Nasional, Komnas Perempuan Kritik Pemerintah Bias Sejarah

Hanya 8 Persen Perempuan Jadi Pahlawan Nasional, Komnas Perempuan Kritik Pemerintah Bias Sejarah

News | Senin, 10 November 2025 | 17:34 WIB

Kisah Rahmah El Yunusiyyah: Pahlawan Nasional dan Syaikhah Pertama dari Universitas Al-Azhar

Kisah Rahmah El Yunusiyyah: Pahlawan Nasional dan Syaikhah Pertama dari Universitas Al-Azhar

News | Senin, 10 November 2025 | 16:56 WIB

Momen Prabowo Pimpin Ziarah Nasional dan Renungan Suci Hari Pahlawan

Momen Prabowo Pimpin Ziarah Nasional dan Renungan Suci Hari Pahlawan

Foto | Senin, 10 November 2025 | 16:42 WIB

Terkini

KPK Periksa Ketua DPRD Kuansing hingga Eks Pj Sekda di Kasus Suhardiman Amby

KPK Periksa Ketua DPRD Kuansing hingga Eks Pj Sekda di Kasus Suhardiman Amby

Riau | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:29 WIB

BAIC BJ30 HEV Dominasi Penjualan di GIIAS 2026 Mobil Listrik T1 Mulai Dilirik

BAIC BJ30 HEV Dominasi Penjualan di GIIAS 2026 Mobil Listrik T1 Mulai Dilirik

Otomotif | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:23 WIB

Laptop Gaming Bukan Cuma Buat Mabar: ASUS Bongkar Rahasia AI Lokal Biar Kerja 2x Lebih Cepat!

Laptop Gaming Bukan Cuma Buat Mabar: ASUS Bongkar Rahasia AI Lokal Biar Kerja 2x Lebih Cepat!

Tekno | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Nyoman Nadiana dan Konsep Keberlanjutan untuk Desa Les di Mata Dunia

Nyoman Nadiana dan Konsep Keberlanjutan untuk Desa Les di Mata Dunia

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:15 WIB

4 Serum Kolagen dan Peptide untuk Wanita Usia 30 Tahun ke Atas, Bikin Wajah Awet Muda

4 Serum Kolagen dan Peptide untuk Wanita Usia 30 Tahun ke Atas, Bikin Wajah Awet Muda

Lifestyle | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:15 WIB

Jejak Don Rare di Desa Les: Merawat Tradisi Bali Utara Bersama Astra

Jejak Don Rare di Desa Les: Merawat Tradisi Bali Utara Bersama Astra

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Gaji ASN Naik di 2027? Ini Kata Menkeu Purbaya

Gaji ASN Naik di 2027? Ini Kata Menkeu Purbaya

Bisnis | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Gunung Geger Membara! 12 Hektare Hutan Jati Hangus Dilalap Si Jago Merah dalam Sekejap

Gunung Geger Membara! 12 Hektare Hutan Jati Hangus Dilalap Si Jago Merah dalam Sekejap

Malang | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:58 WIB

PFII Siap Hadirkan Ekosistem Investasi Berstandar Dunia dan Digital

PFII Siap Hadirkan Ekosistem Investasi Berstandar Dunia dan Digital

Bisnis | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:58 WIB

Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam

Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:55 WIB

×