Waspada! Bahaya Tersembunyi Chatbot AI yang Dipakai Anak Muda untuk 'Mendiagnosis' Kesehatan Mental

Kamis, 27 November 2025 | 16:18 WIB
Waspada! Bahaya Tersembunyi Chatbot AI yang Dipakai Anak Muda untuk 'Mendiagnosis' Kesehatan Mental
Ilustrasi kesehatan mental. (Pixabay/anemone)
Baca 10 detik
  • Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, memperingatkan bahaya *self-diagnosis* kesehatan mental menggunakan *chatbot* AI.
  • AI dapat digunakan penyaringan awal, namun hasilnya sering tidak akurat dan tidak boleh menggantikan diagnosis profesional.
  • Ketergantungan pada AI meningkatkan isolasi sosial, orang tua harus bijak mengarahkan pemanfaatan teknologi ini.

Suara.com - Tren anak muda menggunakan kecerdasan artifisial (AI) untuk menilai kondisi kesehatan mental semakin meningkat.

Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, mengingatkan bahwa kebiasaan menjadikan chatbot sebagai alat self-diagnosis dapat menyesatkan dan berbahaya.

Dokter Siste memaparkan bahwa remaja dan dewasa muda kini kerap bergantung pada AI untuk menentukan kepribadian ataupun dugaan gangguan mental.

“AI ini kan seringkali digunakan oleh gen Z dan gen Alpha untuk menanyakan ‘Aku kepribadiannya apa? Introvert atau extrovert? Aku depresi nggak sih?’” ujarnya dalam dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance di Gedung Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Menurutnya, sebagian anak muda bahkan menggunakan AI sebagai tempat bercerita ketika merasa kesepian.

Minimnya komunikasi di rumah membuat mereka lebih nyaman curhat kepada chatbot ketimbang keluarga atau orang terdekat.

Dr. Siste menjelaskan bahwa teknologi AI memang dapat dimanfaatkan sebagai alat penyaringan awal, termasuk untuk indikasi kecanduan internet, game, maupun judi online. Namun ia menegaskan hasil AI kerap tidak akurat dan tidak boleh dijadikan dasar diagnosis.

"Hasil AI sering keliru atau berlebihan," tegasnya.

Ia menyoroti fenomena banyaknya pengguna yang memposting hasil “diagnosis” AI ke media sosial, lalu melakukan self-treatment tanpa konsultasi dokter. Praktik ini dinilai berbahaya dan berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental seseorang.

Baca Juga: Ratusan Guru Besar FKUI Ingin Bertemu Presiden Prabowo: Bukan untuk Meminta Menkes Mundur

Selain ketidakakuratan hasil, ketergantungan terhadap chatbot juga dapat membuat remaja semakin menarik diri dari interaksi sosial. Mereka menjadi lebih nyaman berhubungan dengan AI ketimbang berkomunikasi dengan manusia yang bisa memberi dukungan emosional nyata.

Dr. Siste menegaskan bahwa AI seharusnya digunakan secara bijak dan hanya sebagai pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan mental.

“AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu lalu mengajak anaknya berinteraksi bersama,” tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Nge-fans Kamu dengan Lisa BLACKPINK?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Direkrut Ajax Amsterdam
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Seberapa Tahu Kamu tentang Layvin Kurzawa? Pemain Baru Persib Bandung Eks PSG
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI