Benteng Terakhir yang Terkoyak: Konflik Manusia dan Negara di Jantung Tesso Nilo

Erick Tanjung, Lilis Varwati

Rabu, 03 Desember 2025 | 17:39 WIB
Benteng Terakhir yang Terkoyak: Konflik Manusia dan Negara di Jantung Tesso Nilo
Ilustrasi krisis taman nasional tesso nilo. [Suara.com/Rochmat]
baca 10 detik
  • Taman Nasional Tesso Nilo hancur akibat alih fungsi menjadi kebun sawit ilegal.
  • Warga lokal dan negara berkonflik sengit dalam memperebutkan hak atas tanah.
  • Solusi adil menuntut pengakuan hak masyarakat, bukan sekadar penegakan hukum kaku.

Suara.com - Di jantung Kabupaten Pelalawan, Riau, terhampar sebuah janji: ribuan hektar hutan dataran rendah bernama Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi ekosistem terkaya di Sumatra. Namun, janji itu kini terkoyak. Kenyataannya, kawasan ini telah berubah menjadi arena pertarungan sengit antara negara, masyarakat, dan korporasi.

LAPORAN Kejaksaan Agung mengungkap potret buram alih fungsi kawasan konservasi menjadi lautan perkebunan sawit ilegal. Dari luas awal 81.793 hektare, hutan alami di TNTN kini tersisa hanya sekitar 12.561 hektare. Sebuah kehilangan yang menusuk jantung ekologi.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Donny Gunaryadi, menegaskan betapa krusialnya satwa ikonik ini bagi Tesso Nilo.

"Jika kehilangan mereka di Tesso Nilo, kita kehilangan lebih dari sekadar satu spesies, tapi kehilangan keseimbangan alam,” ujar Donny, Rabu (3/12/2025).

Namun, setiap jengkal hutan yang hilang tidak hanya mengancam gajah dan harimau. Tanah yang seharusnya menyimpan air kini rusak, memicu bencana ekologis, dan mempertajam konflik antara manusia dengan satwa liar yang kehilangan rumahnya.

Infografis krisis taman nasional tesso nilo di Riau. [Suara.com/Rochmat]
Infografis krisis taman nasional tesso nilo di Riau. [Suara.com/Rochmat]

Warga vs Negara: Siapa Perambah Sebenarnya?

Masyarakat lokal, yang telah puluhan tahun menghuni dan mengelola lahan di kawasan itu, kini merasakan langsung getirnya rencana relokasi. Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) bahkan sempat menggeruduk Kantor Gubernur Riau pada 18 Juni 2025 lalu, menyuarakan protes mereka.

"Kami bukan perambah, kami rakyat kecil yang mencari nafkah. Jangan tiba-tiba kami dipaksa pergi tanpa solusi," seru seorang orator kala itu, mewakili suara ribuan warga yang terancam.

Mereka bersikukuh memiliki hak, dibuktikan dengan sertifikat hak milik (SHM) yang telah mereka kantongi sejak tahun 1998, jauh sebelum hiruk pikuk konservasi modern.

baca juga

Di seberang barikade, negara berdiri tegak dengan payung hukumnya. Melalui SK Menteri Kehutanan No. 255/2004, kawasan TNTN telah ditetapkan sebagai taman nasional. Artinya, segala aktivitas manusia tanpa izin resmi dianggap ilegal. Dalam sebuah audiensi, Kapolda Riau Herry Heryawan menolak tuntutan warga, menegaskan bahwa lahan TNTN secara ideal harus dikembalikan sebagai habitat gajah Sumatra.

Cermin Kegagalan Tata Ruang

Masalah di Tesso Nilo adalah cerminan dari fenomena yang lebih besar: tumpang-tindih brutal antara agenda konservasi, hak masyarakat, dan kepentingan industri di Indonesia.

Taman Nasional Tesso Nilo (TFCA Sumatera)
Taman Nasional Tesso Nilo (TFCA Sumatera)

Secara hukum, aturannya tegas. Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999, hutan konservasi seperti TNTN adalah zona terlarang untuk kebun, permukiman, maupun aktivitas produktif lainnya. Aktivitas yang diizinkan sangat terbatas, hanya untuk penelitian atau ekowisata.

Di sisi lain, ada kategori hutan produksi yang masih bisa dimanfaatkan melalui skema resmi seperti Perhutanan Sosial (PS), di mana masyarakat diberi akses legal untuk mengelola hutan.

Namun, dalam praktiknya, garis batas antara aturan dan realitas kerap kabur. Warga merasa telah hadir dan bercocok tanam jauh sebelum regulasi datang. Sementara negara, dengan payung hukumnya yang kaku, seolah datang belakangan untuk menata ulang kehidupan yang sudah ada.

Mencari Jalan Tengah di Tengah Konflik

Upaya penyelesaian yang inklusif, seperti mediasi dan pengakuan hak, belum berjalan mulus. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bahkan memperingatkan bahwa relokasi paksa warga TNTN berpotensi melanggar HAM, dengan ancaman penutupan sekolah dan kehadiran aparat bersenjata.

Warga pun menuntut solusi yang adil. Dalam musyawarah dengan pemerintah daerah pada 21 Juli 2025, mereka menolak mentah-mentah segala bentuk relokasi mandiri. "Kami minta pemerintah pusat dan daerah memberikan solusi konkret yang berpihak kepada rakyat," ujar salah seorang peserta.

Namun, jalan menuju solusi terhalang berbagai rintangan: data masyarakat yang belum pasti, transparansi korporasi besar yang minim, dan proses legalisasi hak masyarakat yang berjalan lamban.

Pada akhirnya, drama di Tesso Nilo menunjukkan bahwa menjaga hutan bukan sekadar soal mengusir manusia. Ia menuntut keadilan sosial, pengakuan hak, penegakan hukum yang tidak tebang pilih, dan pelibatan masyarakat sebagai subjek, bukan objek, konservasi. Jika tidak, benteng terakhir keanekaragaman hayati Sumatra ini tidak hanya akan runtuh secara ekologis, tetapi juga meninggalkan luka kemanusiaan yang dalam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketika Niat Baik Merusak Alam: Apa yang Bisa Dipelajari dari Gagalnya Restorasi Mangrove di Filipina

Ketika Niat Baik Merusak Alam: Apa yang Bisa Dipelajari dari Gagalnya Restorasi Mangrove di Filipina

News | Rabu, 03 Desember 2025 | 16:15 WIB

Dari Api-api hingga Nipah: Ini Dia Ragam Kekayaan Ekosistem Mangrove Indonesia

Dari Api-api hingga Nipah: Ini Dia Ragam Kekayaan Ekosistem Mangrove Indonesia

Lifestyle | Rabu, 03 Desember 2025 | 13:00 WIB

Viral Gajah Sumatera Terseret Banjir, Angka Populasinya Dipertanyakan

Viral Gajah Sumatera Terseret Banjir, Angka Populasinya Dipertanyakan

Video | Selasa, 02 Desember 2025 | 11:03 WIB

Terkini

Igor Tolic Ungkap Rahasia Persib Bandung Sapu Bersih Tiga Laga di ACL 2

Igor Tolic Ungkap Rahasia Persib Bandung Sapu Bersih Tiga Laga di ACL 2

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:56 WIB

Diduga Bawa Petasan dan Sajam Saat Demo 28 Oktober, 19 Orang Ditangkap Polisi

Diduga Bawa Petasan dan Sajam Saat Demo 28 Oktober, 19 Orang Ditangkap Polisi

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:55 WIB

Urutan Skincare Hanasui Pagi dan Malam untuk Kencangkan Wajah di Usia 40 Tahun

Urutan Skincare Hanasui Pagi dan Malam untuk Kencangkan Wajah di Usia 40 Tahun

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:54 WIB

Daftar Pasangan Shio yang Pantang Menikah Menurut Feng Shui, Konon Sering Bentrok

Daftar Pasangan Shio yang Pantang Menikah Menurut Feng Shui, Konon Sering Bentrok

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:51 WIB

Cerita Petani Uma Palak Menarik Perhatian Delegasi ASCOPE

Cerita Petani Uma Palak Menarik Perhatian Delegasi ASCOPE

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:50 WIB

Piala Panglima TNI Esports Championship 2026 Dorong Pembinaan Atlet dari Daerah hingga Nasional

Piala Panglima TNI Esports Championship 2026 Dorong Pembinaan Atlet dari Daerah hingga Nasional

Sumut | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:47 WIB

Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap

Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap

Sulsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:46 WIB

Forum ASCOPE ke-51 Sepakati Penguatan Arsitektur Energi ASEAN Untuk Generasi Mendatang

Forum ASCOPE ke-51 Sepakati Penguatan Arsitektur Energi ASEAN Untuk Generasi Mendatang

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:46 WIB

Perjalanan Alvin Tedjo, WNI Keturunan Minang Jadi Wali Kota di Kanada

Perjalanan Alvin Tedjo, WNI Keturunan Minang Jadi Wali Kota di Kanada

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:45 WIB

4 Hydrating Sunscreen Buat Lindungi Kulit dari Sinar UV dan Jaga Kelembapan

4 Hydrating Sunscreen Buat Lindungi Kulit dari Sinar UV dan Jaga Kelembapan

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:45 WIB

×