- Operasi militer AS pada 3 Januari menewaskan sekitar 75 orang saat mencoba menangkap Presiden Nicolas Maduro di Caracas.
- Washington Post mengungkap operasi rahasia ini, yang mengakibatkan penangkapan dan pemindahan Maduro serta istrinya ke New York.
- PBB didesak untuk rapat darurat; Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik menjadi presiden sementara Venezuela pada 5 Januari.
Suara.com - Suasana mencekam menyelimuti ibu kota Venezuela, Caracas, setelah sebuah laporan mengungkap detail mengerikan di balik operasi militer Amerika Serikat.
Sedikitnya 75 orang dilaporkan tewas dalam serangan dramatis yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu.
Informasi ini pertama kali diungkap oleh surat kabar terkemuka Washington Post pada hari Rabu (7/1/2026), yang mengutip keterangan dari sejumlah pejabat yang mengetahui langsung operasi rahasia tersebut.
Peristiwa ini menandai eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Washington dan Caracas.
Baku Tembak di Kompleks Presiden
Menurut laporan tersebut, sebagian besar korban jiwa berjatuhan dalam baku tembak sengit yang meletus di dalam dan sekitar kompleks kepresidenan yang dijaga ketat di Caracas, tempat Maduro bermukim.
Angka korban tewas yang dilaporkan bervariasi namun sama-sama menunjukkan pertumpahan darah yang masif.
Seorang sumber mengungkapkan sedikitnya 67 orang tewas selama serangan AS tersebut, sementara sumber lainnya menyebutkan bahwa sekitar 75 hingga 80 orang tewas.
Estimasi jumlah korban jiwa yang mengerikan itu mencakup personel militer dari Kuba dan Venezuela yang bertugas menjaga presiden, serta sejumlah warga sipil yang terjebak dalam baku tembak.
Baca Juga: Dibalik Penangkapan Nicolas Maduro: Mengapa AS Pilih 'Surgical Strike' Ketimbang Invasi Total?
Operasi senyap namun mematikan itu mencapai puncaknya pada 3 Januari, ketika pasukan khusus AS berhasil melancarkan serangan besar-besaran, menahan Presiden Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dilaporkan langsung diterbangkan keluar dari Venezuela menuju New York.
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, secara terbuka mengumumkan alasan di balik tindakan agresif tersebut.
Trump menyatakan bahwa Maduro dan Flores akan segera disidang di AS karena dugaan keterlibatan mereka dalam jaringan kejahatan transnasional.
Secara spesifik, Trump menuduh keduanya terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk ancaman bagi AS.
Caracas Merespons, Dunia Mengecam
Kabar penangkapan pemimpin negara secara paksa oleh negara lain ini sontak memicu guncangan politik di Venezuela dan reaksi keras dari panggung global.
Pemerintah di Caracas, yang kini berada dalam kondisi darurat, segera mendesak diadakannya pertemuan darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas operasi militer AS yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Mahkamah Agung Venezuela dengan cepat mengambil langkah konstitusional. Tugas kepala negara untuk sementara waktu diserahkan kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang kemudian secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.
Kecaman internasional pun datang bertubi-tubi. Sejumlah negara yang menjadi rival geopolitik Amerika Serikat, seperti Rusia, China, dan Korea Utara, menjadi yang paling vokal dalam mengecam keras tindakan Washington.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan mengeluarkan pernyataan resmi yang tegas. Moskow menyatakan solidaritas penuh dengan rakyat Venezuela dan menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya, serta menuntut pencegahan eskalasi lebih lanjut yang dapat membahayakan stabilitas kawasan.