Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:48 WIB
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
Sejumlah tokoh lintas iman dan profesi yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi demokrasi dan lingkungan hidup di Indonesia. [Ist]
Baca 10 detik
  • Gerakan Nurani Bangsa soroti kemunduran demokrasi dan ancaman kebebasan sipil.
  • Eksploitasi alam disebut sebabkan bencana ekologis dan jatuhnya banyak korban jiwa.
  • Pemerintah didesak jaga demokrasi, lindungi HAM, dan tegakkan supremasi sipil.

Menyikapi kondisi tersebut, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan delapan pesan kepada seluruh penyelenggara negara dan elemen bangsa, di antaranya:

1.  Menjaga pelaksanaan demokrasi dan hak rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung.
2.  Merawat prinsip supremasi sipil, di mana TNI-Polri fokus pada tugas utamanya.
3.  Mendasarkan seluruh agenda negara pada kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan segelintir orang.
4.  Menjalankan program yang mampu memperbaiki kualitas pemenuhan hak dasar warga.
5.  Memastikan kelestarian alam dan menindak tegas semua pihak yang merusak lingkungan.
6.  Melindungi kebebasan berpendapat, berekspresi, dan kebebasan pers.
7.  Membangun Papua dan Aceh yang damai, adil, dan setara.
8.  Menjadikan ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan bertindak.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh besar, seperti Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Quraish Shihab, KH. Mustofa Bisri, Kardinal Suharyo, Bhante Sri Pannyavaro, Pdt. Gomar Gultom, dan Franz Magnis-Suseno.

×
Zoomed

VIDEO TERKAIT

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI