- Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, membentuk Satgas Khusus DPR untuk memantau dan mempercepat penyelesaian kendala proyek pemulihan di Aceh.
- Dasco melakukan diplomasi anggaran strategis dengan menghubungi langsung Prabowo Subianto untuk memastikan dana pembangunan Aceh tidak terpotong.
- Ia mendorong percepatan infrastruktur vital dan mengawal ketat penggunaan Dana Otonomi Khusus agar tepat sasaran.
Suara.com - Aceh selalu memiliki posisi istimewa sekaligus menantang, terutama terkait penanganan pascabencana dan pembangunan infrastruktur yang seringkali terhambat birokrasi.
Di tengah situasi tersebut, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, muncul dengan serangkaian langkah out of the box yang melampaui sekadar retorika politik.
Dasco dikenal bukan hanya sebagai legislator, tetapi juga sebagai eksekutor kebijakan yang mampu menjembatani kebutuhan daerah dengan kebijakan di tingkat pusat.
Langkah-langkah yang diambil Dasco mencerminkan gaya kepemimpinan modern yang efektif, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Bagi masyarakat di kota-kota besar maupun di Aceh sendiri, tindakan nyata ini menjadi tolok ukur penting dalam melihat keseriusan pemerintah pusat.
Berikut adalah 5 terobosan strategis Sufmi Dasco Ahmad dalam mempercepat pemulihan di Aceh:
1. Pembentukan Satgas Khusus DPR
Terobosan pertama yang cukup signifikan adalah inisiasi pembentukan Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana atau Satgas Galapana DPR, yang fokus memantau perkembangan pemulihan di Aceh.
Dasco menyadari bahwa tanpa pengawasan melekat, banyak proyek strategis nasional di daerah seringkali mangkrak atau berjalan lambat.
Baca Juga: Rapat Koordinasi Bencana di Aceh: Dasco Telepon Langsung Presiden Prabowo
Melalui Satgas ini, Dasco memastikan bahwa setiap kendala di lapangan, mulai dari masalah pembebasan lahan hingga teknis pembangunan, langsung mendapatkan perhatian di meja pimpinan DPR.
"Satgas ini dibentuk bukan untuk menambah birokrasi, melainkan untuk memotong jalur birokrasi yang berbelit agar aspirasi rakyat Aceh cepat terealisasi," tegasnya dalam sebuah kesempatan koordinasi.
2. Diplomasi Anggaran: Menelepon Langsung Prabowo
Salah satu momen yang paling menunjukkan komitmen kuat Dasco adalah ketika muncul isu pemotongan anggaran untuk alokasi pembangunan di daerah.
Mengetahui hal tersebut bisa berdampak fatal bagi pemulihan Aceh, Dasco melakukan langkah yang tidak lazim namun sangat efektif: menelepon langsung Prabowo Subianto untuk memastikan anggaran tetap terjaga.
Sebagai Ketua Harian DPP Gerindra, Dasco memiliki akses strategis kepada Prabowo. Ia secara tegas meminta agar dana yang sudah dialokasikan untuk kepentingan rakyat Aceh tidak dipotong atau dialihkan ke sektor lain.
"Saya sudah telepon langsung Pak Prabowo, dan beliau setuju bahwa dana untuk pemulihan dan pembangunan di Aceh harus tetap utuh, tidak boleh ada pemotongan karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak di sana," ungkap Dasco.
Langkah ini memastikan stabilitas finansial bagi berbagai proyek vital di Aceh.
3. Percepatan Transformasi Infrastruktur Vital
Dasco tidak hanya fokus pada bantuan logistik jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur yang bersifat fundamental.
Ia mendorong percepatan penyelesaian jalan, jembatan, dan fasilitas publik yang rusak akibat bencana atau yang memang tertunda pembangunannya.
Menurut Dasco, pemulihan Aceh tidak akan maksimal jika akses mobilitas warga masih terhambat.
Dengan gaya komunikasinya yang persuasif, ia mampu meyakinkan kementerian terkait untuk menempatkan Aceh dalam daftar prioritas utama pembangunan nasional.
Hal ini berdampak langsung pada terbukanya lapangan kerja baru dan bergairahnya kembali ekonomi lokal pascabencana.
4. Mengawal Penyaluran Dana Otsus yang Tepat Sasaran
Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh merupakan instrumen penting bagi pemulihan daerah. Namun, pengelolaannya seringkali menjadi sorotan.
Dasco melakukan terobosan dengan memperketat pengawasan penyaluran dana ini agar benar-benar digunakan untuk sektor-sektor produktif, seperti pendidikan dan kesehatan, bukan hanya habis untuk biaya operasional birokrasi.
Ia secara rutin menginstruksikan kader-kadernya di parlemen maupun di daerah untuk menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran tersebut.
Dasco ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari pusat harus memiliki dampak nyata bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat Aceh pascabencana.
5. Penguatan Literasi Kebencanaan dan Teknologi Mitigasi
Terobosan terakhir yang dibawa Dasco adalah visinya tentang masa depan Aceh yang tangguh bencana.
Ia mendorong pengintegrasian teknologi mitigasi bencana dalam setiap pembangunan infrastruktur baru. Dasco meminta agar sistem peringatan dini di sepanjang pantai Aceh diperbarui dengan teknologi terbaru.
Bagi Dasco, memulihkan Aceh berarti juga mempersiapkan masyarakatnya agar lebih siap menghadapi tantangan alam di masa depan. Ia mendorong kolaborasi antara akademisi, praktisi teknologi, dan pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem mitigasi yang mumpuni.
"Pemulihan yang sejati adalah ketika masyarakat Aceh merasa aman dan yakin bahwa infrastruktur mereka sudah siap menghadapi potensi bencana apapun," jelasnya.