- Noe Letto dan Frank Hutapea dilantik menjadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional.
- Keduanya punya riwayat pendidikan dan pengalaman yang mumpuni di bidang masing-masing.
- Publik pun penasaran dengan jabatan setara Eselon IIA dan berapa gaji yang diterima.
Profil Tenaga Ahli Baru
Penunjukan Noe Letto dan Frank Hutapea bukanlah tanpa alasan. Keduanya memiliki rekam jejak intelektual dan keahlian spesifik yang dinilai relevan untuk memperkuat DPN.
Noe Letto

Meskipun dikenal luas sebagai vokalis band Letto, Sabrang adalah seorang intelektual dengan latar belakang pendidikan yang mentereng. Ia merupakan lulusan jurusan Matematika dan Fisika dari University of Alberta, Kanada.
Latar belakang sains ini memberinya kemampuan berpikir analitis dan sistematis yang kuat, sebuah aset berharga dalam mengkaji masalah-masalah kompleks ketahanan nasional dari perspektif yang berbeda.
Frank Alexander Hutapea
![Frank Alexander Hutapea, putra Hotman Paris Hutapea yang menjadi kuasa hukum Alfamart dan karyawannya di Polres Tangs, Senin (15/8/2022). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/15/21376-frank-alexander-hutapea-putra-hotman-paris-hutapea.jpg)
Mengikuti jejak ayahnya, Frank adalah seorang praktisi hukum yang mapan. Latar belakangnya di bidang hukum sangat relevan bagi DPN.
Tentu, ini adalah rangkuman riwayat pendidikan Frank Alexander Hutapea dalam dua paragraf. Ia menempuh jalur pendidikan hukum dengan meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta pada tahun 2013.
Tidak berhenti di situ, untuk pendidikan masternya, Frank memilih Inggris sebagai tujuannya. Ia berhasil menyelesaikan program studi dan meraih gelar Bachelor of Law (LLB) dari University of Kent pada tahun 2012.
Sebelum akhir, Frank menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Master of Law (LLM) dari BPP Law School di London. Keahliannya dapat memberikan perspektif hukum yang tajam dalam setiap perumusan strategi pertahanan.
Baca Juga: Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
Kehadiran mereka, bersama para ahli lainnya dari berbagai bidang, menunjukkan bahwa pendekatan pertahanan nasional kini semakin komprehensif.
Ancaman negara tidak lagi hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup isu sosial, budaya, ekonomi digital, dan keamanan siber.
Tanggung jawab yang diemban sangatlah berat. Rekomendasi yang mereka berikan akan menjadi salah satu dasar bagi Presiden dalam mengambil keputusan-keputusan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan kedaulatan negara.
Pada akhirnya, nilai seorang Tenaga Ahli tidak diukur dari besaran gajinya, melainkan dari kualitas pemikiran dan kontribusi nyata yang mereka berikan untuk memperkokoh ketahanan Indonesia di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Bagaimana pendapat Anda tentang penunjukan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang ini sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah ini