Anti-Tersesat! 6 Fakta Gelang RFID, Syarat Wajib Baru Mendaki Gunung Gede Pangrango

Dwi Bowo Raharjo Suara.Com
Selasa, 20 Januari 2026 | 13:55 WIB
Anti-Tersesat! 6 Fakta Gelang RFID, Syarat Wajib Baru Mendaki Gunung Gede Pangrango
Alun-alun Suryakancana Gunung Gede. (ANTARA/Ahmad Fikri)
Baca 10 detik
  • TNGGP mewajibkan pendaki memakai gelang RFID sebagai inovasi keamanan pasca evaluasi penutupan jalur sejak akhir 2025.
  • Gelang RFID berfungsi pelacak pergerakan pendaki secara *real-time* guna mengoptimalkan kecepatan operasi SAR saat darurat.
  • Sistem wajib ini diterapkan awal di Jalur Cibodas dan Gunung Putri untuk memantau dan menekan pendaki ilegal.

Suara.com - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bersama Kementerian Kehutanan resmi memperkenalkan inovasi baru berupa gelang Radio Frequency Identification (RFID) guna meningkatkan standar keselamatan pendaki.

“Untuk itu, Direktorat PJL Kementerian Kehutanan bersama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menghadirkan gelang RFID,” dikutip dari unggahan @ayoketamannasional_official, Selasa (20/1/2026).

Kini, setiap pendaki diwajibkan menggunakan gelang berbasis teknologi RFID, kebijakan ini diambil menyusul evaluasi tata kelola pendakian selama masa penutupan jalur sejak akhir 2025.

Berikut adalah 6 fakta penting mengenai kebijakan gelang RFID di Gunung Gede Pangrango yang perlu diketahui:

1. Teknologi Pelacak Real-Time

Gelang RFID ini bukan sekadar aksesoris, di dalamnya tertanam chip yang berfungsi sebagai pemancar sinyal.

Teknologi ini memungkinkan petugas memantau pergerakan pendaki secara real-time saat mereka melewati titik-titik pemeriksaan (check point) yang telah ditentukan dan petugas juga dapat memverifikasi apakah pendaki masih di dalam jalur resmi atau sudah keluar pada waktu yang ditentukan.

Melengkapi sistem pengawasan berbasis gelang RFID, pengelola TNGGP juga telah menginstalasi fitur mutakhir berupa panic button atau tombol darurat (SOS) yang ditempatkan secara strategis di sejumlah titik krusial sepanjang rute pendakian. Infrastruktur pengamanan ini dirancang sebagai saluran komunikasi instan yang terhubung langsung dengan pusat kendali petugas di pos jaga utama

2. Difokuskan Untuk Keselamatan dan SAR

Baca Juga: Ingin Coba Mendaki? Inilah Daftar 10 Gunung di Indonesia Paling Ramah Pemula

Implementasi teknologi gelang RFID ini pada dasarnya merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan kecepatan dan ketepatan operasi Search and Rescue (SAR).

Dalam skenario darurat, seperti saat pendaki dilaporkan hilang atau keluar dari jalur resmi, keberadaan chip sensor ini memungkinkan tim evakuasi untuk memetakan titik koordinat terakhir pendaki dengan tingkat akurasi yang sangat presisi.

Hal ini secara signifikan akan memangkas durasi pencarian yang selama ini sering terkendala oleh luasnya medan dan rimbunnya vegetasi, sehingga proses penanganan menjadi jauh lebih efektif dan terukur jika dibandingkan dengan metode penyisiran manual yang memakan waktu lama.

3. Diterapkan di Jalur Utama

Sebagai tahap awal dari transformasi digital di kawasan konservasi ini, Balai Besar TNGGP memfokuskan penerapan sistem pemantauan berbasis RFID pada dua rute pendakian yang memiliki volume pengunjung tertinggi, yakni Jalur Cibodas dan Jalur Gunung Putri.

Salah satu titik krusial atau checkpoint yang kini telah dilengkapi dengan infrastruktur sensor otomatis berada di kawasan Surya Kencana, sebuah area terbuka luas yang sering menjadi titik kumpul utama bagi para pendaki.

Mekanisme kerja teknologi ini memungkinkan setiap pergerakan pendaki terekam secara sistematis, saat mereka melintasi jangkauan sensor di titik-titik tersebut, gelang RFID akan mengirimkan sinyal data lokasi yang akurat secara real-time.

Informasi inilah yang kemudian menjadi rujukan utama bagi tim pemantau di setiap pos pendakian untuk melakukan koordinasi lapangan yang lebih responsif, sekaligus memastikan bahwa setiap pendaki tetap berada dalam jalur aman dan sesuai dengan linimasa pendakian yang telah didaftarkan."

4. Wajib Dipakai Selama Pendakian

Mengenai prosedur teknis di lapangan, setiap pendaki akan menerima gelang RFID tersebut secara langsung saat melakukan proses registrasi atau verifikasi di pintu masuk resmi. Perangkat pelacak ini dirancang khusus menggunakan material karet sintetis yang elastis dan memiliki fitur waterproof (tahan air), sehingga tetap berfungsi optimal meskipun terpapar cuaca ekstrem, hujan, maupun kelembapan tinggi di gunung.

Selama aktivitas pendakian berlangsung, perangkat ini bersifat wajib untuk dikenakan pada pergelangan tangan tanpa boleh dilepas sebagai instrumen pengawasan.

Setelah menyelesaikan pendakian, para pendaki diwajibkan menyerahkan kembali gelang tersebut kepada petugas di pos pendataan turun atau saat proses checkout sebagai tanda bukti sah bahwa pendaki telah keluar kawasan dengan selamat.

5. Upaya Menekan Pendaki Ilegal

Implementasi sistem digital berbasis RFID ini secara signifikan akan merevolusi efisiensi kerja petugas lapangan dalam melakukan verifikasi identitas serta izin resmi para pendaki secara instan.

Melalui sinkronisasi data yang terintegrasi, proses validasi tidak lagi memerlukan pemeriksaan manual yang memakan waktu lama, sehingga potensi antrean di pos penjagaan dapat diminimalisir.

Lebih jauh lagi, kehadiran teknologi ini berfungsi sebagai filter keamanan yang ketat, pendaki yang kedapatan tidak mengenakan gelang atau yang datanya tidak terekam dalam pangkalan data resmi akan langsung teridentifikasi sebagai pendaki ilegal.

Dengan sistem pengawasan yang lebih sistematis dan terukur ini, pihak Balai Besar TNGGP dapat memperketat proteksi kawasan konservasi dan menekan celah masuknya pengunjung tanpa izin yang sering kali mengabaikan aturan keselamatan dan kelestarian lingkungan.

6. Bagian Dari Pembenahan

Kebijakan ini merupakan hasil kolaborasi antara Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) Kementerian Kehutanan dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Inovasi ini adalah bagian dari langkah serius perbaikan sistem pengamanan setelah jalur pendakian ditutup sementara sejak 13 Oktober 2025 untuk pembersihan sampah dan perbaikan jalur.

Penerapan sistem ini menjadi bagian dari peningkatan layanan keselamatan selama masa penutupan jalur pendakian, sekaligus langkah persiapan untuk pembukaan kembali yang lebih aman bagi wisatawan pendaki.

Dengan sistem pengamanan baru ini, Gunung Gede diharapkan menjadi destinasi yang lebih aman tanpa mengorbankan pengalaman petualangan para pendaki.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI