MBG Bertransformasi: dari Piring Makan ke Jaring Pengaman Sosial

Vania Rossa, Lilis Varwati

Rabu, 21 Januari 2026 | 21:38 WIB
MBG Bertransformasi: dari Piring Makan ke Jaring Pengaman Sosial
MBG Bertransformasi: dari Piring Makan ke Jaring Pengaman Sosial. (Suara.com)
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperluas menjangkau anak dan ibu hamil tanpa data administrasi kependudukan resmi.
  • Pendataan ulang penerima manfaat dilakukan melalui mekanisme jemput bola langsung ke tingkat komunitas terkecil seperti RT/RW.
  • Anak usia sekolah yang putus sekolah tetap berhak atas MBG melalui skema Sekolah Rakyat atau titik distribusi khusus.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini dikenal sebagai bantuan makanan sehat di sekolah. Namun, pemerintah kini menegaskan bahwa MBG juga harus menjangkau anak-anak yang selama ini tidak terlihat oleh sistem administrasi negara.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan bahwa masih banyak kelompok yang belum terdata dalam sistem kenegaraan. Termasuk anak-anak dari pernikahan dini atau pernikahan siri yang tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK). 

“Banyak anak-anak balita termasuk ibu hamil dan menyusui yang belum terdaftar dalam sistem kenegaraan. Sehingga kita harus data ulang ke setiap RT-RT untuk memastikan bahwa mereka akan mendapatkan makan bergizi,” ujar Dadan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI. 

Realitas ini membuka wajah lain persoalan sosial di Indonesia, tak sedikit anak yang hidup di luar data, di luar sistem, dan kemudian luput dari perlindungan negara.

Ketika Masalah Gizi Bertemu Masalah Sosial

Gizi buruk bukan muncul begitu saja dalam ruang kosong, tapi bertaut dengan kemiskinan, akses pendidikan, serta struktur sosial keluarga yang rapuh.

Banyak keluarga dengan ekonomi terbatas, berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk makan sehat bagi anak-anak mereka.

Temuan dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan dan rendahnya pendidikan orang tua berdampak pada kesejahteraan nutrisi anak karena keterbatasan akses pangan sehat. 

Di sisi lain, program MBG bukan sekadar distribusi makanan, tapi juga menjadi program pendidikan nutrisi.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Isyana menyatakan bahwa MBG juga sekaligus memberi edukasi kepada keluarga tentang kebutuhan gizi keluarga dan menu sehat setiap hari.

Infografis MBG sasar anak Indonesia yang tidak tercatat dalam sistem negara. (Suara.com/Ema)
Infografis MBG sasar anak Indonesia yang tidak tercatat dalam sistem negara. (Suara.com/Ema)

Jemput Bola sampai RT: Negara Turun ke Lapisan Terbawah

Menyadari keterbatasan data, BGN menginstruksikan pendataan ulang langsung melalui RT/RW dan struktur komunitas terkecil. 

“Kita harus data ulang ke setiap RT-RT,” ujar Dadan. 

Strategi ini mendekatkan negara ke level paling bawah masyarakat, memetakan penerima manfaat yang sebelumnya tidak terjangkau oleh sistem administrasi formal, seperti pesantren yang tidak terdata di Kemenag ataupun balita tanpa NIK. 

Namun, langkah ini bukan tanpa tantangan. Pendataan di lapangan sering menghadapi data yang tumpang tindih antar basis data nasional dan lokal, mobilitas warga yang tinggi, serta stigma sosial yang membuat keluarga enggan berpartisipasi atau mendaftar sebagai penerima bantuan.

Peran penting dalam proses jemput bola ini jatuh pada RT/RW, pesantren, serta komunitas lokal yang menjadi penjuru awal untuk memperlihatkan mereka yang selama ini tak terlihat.

Anak Putus Sekolah Tetap Punya Hak

Salah satu kelompok yang kerap luput dari program pemerintah adalah anak usia sekolah yang tidak pernah sekolah atau putus sekolah. Data mencatat, sekitar 6,1 juta anak usia sekolah belum atau tidak bersekolah lagi karena kendala ekonomi. 

BGN menegaskan bahwa anak putus sekolah tetap berhak mendapatkan MBG. Sebagian dari mereka akan dimasukkan ke dalam program Sekolah Rakyat, sebuah skema pendidikan alternatif yang dirancang untuk anak dari keluarga kurang mampu. 

"Kalau mereka putus sekolah, sebagian akan masuk Sekolah Rakyat,” ucap Dadan. 

Bagi anak yang belum terakomodasi dalam Sekolah Rakyat, pemerintah menyiapkan mekanisme titik distribusi khusus.

 "Sebagian yang belum masuk ke sekolah rakyat kita akan kumpulkan di satu tempat untuk mendapatkan program makan bergizi,” tambahnya. 

Pesan pentingnya, hak atas gizi tidak boleh gugur hanya karena status pendidikan atau alasan administratif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pegawai SPPG Mau Dijadikan ASN, Alvin Lie Punya Kekhawatiran seperti Ini

Pegawai SPPG Mau Dijadikan ASN, Alvin Lie Punya Kekhawatiran seperti Ini

News | Rabu, 21 Januari 2026 | 15:28 WIB

Purbaya Akan Evaluasi Anggaran MBG 2026, Estimasi Terserap Hanya Rp 200 T dari Total Rp 335 T

Purbaya Akan Evaluasi Anggaran MBG 2026, Estimasi Terserap Hanya Rp 200 T dari Total Rp 335 T

Bisnis | Rabu, 21 Januari 2026 | 15:16 WIB

Negara Bisa Sat-Set: Menggugat Kecepatan Selektif Antara Gizi dan Guru

Negara Bisa Sat-Set: Menggugat Kecepatan Selektif Antara Gizi dan Guru

Your Say | Rabu, 21 Januari 2026 | 13:56 WIB

Terkini

Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan Tenaga Kerja, Hadapi Pekerjaan Tergeser AI

Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan Tenaga Kerja, Hadapi Pekerjaan Tergeser AI

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:45 WIB

CENTCOM: Amerika Serang Pertahanan Udara Iran, Stasiun Kendali Darat dan Radar Pengintai

CENTCOM: Amerika Serang Pertahanan Udara Iran, Stasiun Kendali Darat dan Radar Pengintai

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:45 WIB

Serangan AS ke Iran, Gelombang Ledakan Terjadi di Kota Jask dan Kouhe Mobarakeh Hingga Pulau Qeshm

Serangan AS ke Iran, Gelombang Ledakan Terjadi di Kota Jask dan Kouhe Mobarakeh Hingga Pulau Qeshm

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:30 WIB

Dirjen Imigrasi Minta Jajaran Fokus Kerja dan Hilangkan Budaya Kerja Lama yang Tidak Patut

Dirjen Imigrasi Minta Jajaran Fokus Kerja dan Hilangkan Budaya Kerja Lama yang Tidak Patut

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:30 WIB

Vonis Kasus Andrie Yunus Digelar Hari Ini, Nasib Empat Anggota BAIS TNI Akan Ditentukan

Vonis Kasus Andrie Yunus Digelar Hari Ini, Nasib Empat Anggota BAIS TNI Akan Ditentukan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:24 WIB

DPR: Jangan Terus Salahkan The Fed dan Perang Teluk Saat Rupiah Tertekan

DPR: Jangan Terus Salahkan The Fed dan Perang Teluk Saat Rupiah Tertekan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:16 WIB

Perang Pecah Lagi! Amerika Serang Iran Lagi, Luncurkan Rudal ke Dekat Jalur Minyak Dunia

Perang Pecah Lagi! Amerika Serang Iran Lagi, Luncurkan Rudal ke Dekat Jalur Minyak Dunia

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:13 WIB

Pengesahan Revisi UU Polri Dikritik, Dinilai Terlalu Terburu-Buru dan Tidak Transparan

Pengesahan Revisi UU Polri Dikritik, Dinilai Terlalu Terburu-Buru dan Tidak Transparan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:01 WIB

Hari Ini, Empat Prajurit TNI Jalani Sidang Putusan Kasus Penyiraman Andrie Yunus

Hari Ini, Empat Prajurit TNI Jalani Sidang Putusan Kasus Penyiraman Andrie Yunus

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:28 WIB

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 22:10 WIB