Hikmahanto Soroti Risiko Gabung Dewan Perdamaian: Iuran Rp16,9 T hingga Dominasi Trump

Senin, 26 Januari 2026 | 21:10 WIB
Hikmahanto Soroti Risiko Gabung Dewan Perdamaian: Iuran Rp16,9 T hingga Dominasi Trump
Guru Besar Universitas Indonesia bidang Hukum Internasional Profesor Hikmahanto Juwana. (Suara.com/Novian)
Baca 10 detik
  • Indonesia terpaksa bergabung demi menghindari ancaman kenaikan tarif 200 persen dari Donald Trump.
  • Iuran anggota mencapai Rp16,9 triliun, namun Trump tetap memegang hak suara tunggal keputusan.
  • Prabowo diingatkan waspada jika kebijakan Dewan justru condong ke Israel dan memicu masalah domestik. (14 kata)

Suara.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menilai ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian terkait langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace(BoP) atau Dewan Perdamaian.

Hal pertama adalah Indonesia dinilai tidak memiliki pilihan selain bergabung dengan Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Hikmahanto melihat keputusan bergabung dalam Dewan Perdamaian tidak terlepas dari ancaman tarif Trump terhadap Indonesia.

"Indonesia tidak punya pilihan selain bergabung karena bila tidak, Indonesia terancam akan dinaikkan tarifnya. Ini karena ada preseden di mana Presiden Prancis menyatakan tidak akan bergabung dan Trump mengancam akan mengenakan tarif 200 persen," kata Hikmahanto dalam keterangannya kepada Suara.com, Senin (26/1/2026).

Hal kedua yang perlu disorot ialah kewajiban menyetor 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,9 triliun yang dibebankan untuk anggota Dewan Perdamaian sebagai iuran.

"Negara diundang oleh Trump tapi dipaksa untuk membayar 1 miliar dolar AS. Jumlah ini sangat besar. Terlebih lagi kalau Indonesia tidak punya suara signifikan dan berdampak untuk penghentian kekerasan oleh Israel dan untuk kemerdekaan Palestina," ujar Hikmahanto.

Ketiga, Hikmahanto menyoroti statuta atau piagam pendirian Dewan Perdamaian yang dinilainya tidak jelas.

"Tapi satu hal yang pasti, yaitu Trump adalah pemilik suara tunggal dalam pengambilan keputusan," tuturnya.

Keempat adalah penunjukan langsung dan atas persetujuan Trump terhadap pengurus harian, termasuk pengurus untuk persoalan di Gaza, Palestina.

Baca Juga: Untung Rugi RI Masuk Dewan Perdamaian Trump: Bisa 'Jegal' Keputusan Kontroversial?

"Kalau Indonesia harus membayar mahal dan Indonesia tidak bisa menempatkan orangnya, sungguh sangat disayangkan," kata Hikmahanto.

Terakhir, Hikmahanto mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto waspada jika pada akhirnya Dewan Perdamaian bentukan Trump tersebut justru condong ke Israel, ketimbang Palestina yang kemerdekaannya tengah diupayakan Indonesia melalui forum tersebut.

"Kalau ternyata Dewan ini malah condong ke Israel dalam pembuatan kebijakan, maka Presiden akan punya masalah dengan rakyatnya sendiri. Dan ini akan berakibat tidak baik untuk approval rating Presiden Prabowo," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

VIDEO TERKAIT

Donald Trump Kembali Bersikeras Akuisisi Greenland di Davos

Donald Trump Kembali Bersikeras Akuisisi Greenland di Davos

Video
Jum'at, 23 Januari 2026 | 16:00 WIB

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI