Hampir Separuh Laut Dunia Kini Tercemar Sampah: Apa yang Bisa Dilakukan?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 09 Februari 2026 | 16:55 WIB
Hampir Separuh Laut Dunia Kini Tercemar Sampah: Apa yang Bisa Dilakukan?
Ilustrasi sampah menumpuk (shutterstock)

Suara.com - Selama bertahun-tahun, laut dianggap sebagai tempat tanpa batas, seolah semua sisa aktivitas manusia bisa dibuang dan hilang begitu saja. Anggapan itu kini terbukti keliru.

Data terbaru menunjukkan laut dunia sudah tidak lagi mampu menampung beban pencemaran. Pantai yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru dipenuhi sampah: plastik mengapung di permukaan, puntung rokok terendam di air, dan laut tak lagi tampak jernih.

Kenyataan ini terungkap dalam studi terbaru Institute of Marine Science, Federal University of São Paulo (IMar-UNIFESP), Brasil.

Penelitian yang dipimpin mahasiswa doktoral Victor Vasques Ribeiro dan ditulis bersama Ítalo Braga de Castro itu menganalisis 6.049 catatan kontaminasi laut dari berbagai belahan dunia selama satu dekade terakhir.

Hasilnya mencolok. Hampir separuh perairan global—46 persen—diklasifikasikan dalam kondisi “kotor” hingga “sangat kotor”. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials dan dilaporkan oleh phys.org.

Polusi Global dengan Pola Seragam

Perbedaan tingkat ekonomi dan budaya antarnegara tidak menghasilkan variasi signifikan dalam jenis sampah laut. Polanya justru seragam. Plastik mendominasi 68 persen dari total sampah yang ditemukan. Sifatnya yang sulit terurai dan mudah terbawa arus menjadikannya polutan paling persisten di laut.

Ancaman lain datang dari benda yang kerap diremehkan: puntung rokok. Meski kecil, satu puntung rokok dapat melepaskan lebih dari 150 senyawa kimia beracun ke lingkungan perairan. Dalam data penelitian, puntung rokok menyumbang 11 persen dari total sampah laut global.

Gabungan plastik dan puntung rokok membentuk hampir 80 persen polusi laut dunia. Akibatnya, lokasi yang benar-benar bersih kini menjadi pengecualian, bukan norma.

Kawasan Lindung Tak Sepenuhnya Aman

Kawasan konservasi laut selama ini dipandang sebagai benteng terakhir perlindungan ekosistem. Studi ini memang menunjukkan kawasan lindung mampu menekan tingkat polusi hingga tujuh kali lebih rendah dibanding wilayah tanpa perlindungan. Namun perlindungan itu tidak mutlak.

Sebanyak 31 persen kawasan lindung laut tetap masuk kategori “kotor”. Para peneliti mengidentifikasi fenomena “edge effect” atau efek tepi: penumpukan sampah yang tinggi di perbatasan kawasan konservasi. Aktivitas manusia di sekitar zona lindung—pariwisata masif, pembangunan pesisir, dan tata kota yang buruk—menciptakan jalur masuk polusi ke area yang seharusnya steril.

Temuan ini memperlihatkan bahwa status konservasi tanpa pengawasan dan penegakan hukum yang kuat hanya menjadi label administratif.

Studi ini juga memotret kontradiksi pembangunan. Di wilayah non-konservasi, peningkatan kualitas tata kelola negara cenderung menurunkan tingkat polusi. Namun di kawasan lindung, pertumbuhan ekonomi justru sering berkorelasi dengan meningkatnya kontaminasi.

Artinya, investasi ekonomi tidak otomatis berjalan seiring dengan investasi perlindungan lingkungan. Tanpa regulasi dan penegakan hukum yang tegas, pembangunan justru mempercepat degradasi ekosistem laut.

Apa yang harus dilakukan?

Krisis polusi laut tidak bisa diselesaikan dengan aksi simbolik semata, seperti bersih-bersih pantai sesekali. Upaya individu penting, tetapi tidak cukup. Masalah ini bersifat struktural dan lintas batas.

Penelitian ini menjadi rujukan penting bagi perumusan kebijakan global, termasuk Perjanjian Plastik Global yang tengah dinegosiasikan.

“Hasil penelitian ini menawarkan landasan ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya untuk mendukung kebijakan publik dan negosiasi internasional,” ujar Ítalo Braga de Castro.

Laut adalah sistem pendukung kehidupan planet ini. Ketika hampir separuhnya tercemar, persoalannya bukan lagi soal estetika pantai atau kenyamanan wisata, melainkan soal keberlanjutan hidup manusia itu sendiri. Data ini bukan sekadar angka—melainkan peringatan keras bahwa waktu untuk menunda perubahan sudah habis.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ratusan Relawan Sisir Kawasan Wisata IKN, Hampir Satu Ton Sampah Diangkut

Ratusan Relawan Sisir Kawasan Wisata IKN, Hampir Satu Ton Sampah Diangkut

News | Senin, 09 Februari 2026 | 11:43 WIB

Imlek di Tepi Laut Jakarta: Sensasi Unik Perayaan yang Tak Akan Anda Temukan di Tempat Lain!

Imlek di Tepi Laut Jakarta: Sensasi Unik Perayaan yang Tak Akan Anda Temukan di Tempat Lain!

Lifestyle | Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB

6 Fakta Penemuan Ribuan Potongan Uang di Bekasi: Dari Lahan Milik Warga hingga Penelusuran BI

6 Fakta Penemuan Ribuan Potongan Uang di Bekasi: Dari Lahan Milik Warga hingga Penelusuran BI

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 12:24 WIB

Terkini

Prabowo Pastikan Ada Kompensasi bagi Korban Kecelakaan KA di Bekasi Timur

Prabowo Pastikan Ada Kompensasi bagi Korban Kecelakaan KA di Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 11:09 WIB

Prabowo Jenguk Korban Tabrakan KA di RSUD Bekasi, Sampaikan Belasungkawa

Prabowo Jenguk Korban Tabrakan KA di RSUD Bekasi, Sampaikan Belasungkawa

News | Selasa, 28 April 2026 | 11:00 WIB

Melania Trump Disebut Janda, Donald Trump Ngamuk: Itu Omongan yang Beracun!

Melania Trump Disebut Janda, Donald Trump Ngamuk: Itu Omongan yang Beracun!

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:53 WIB

KAI: 14 Orang Meninggal Dunia Akibat Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur

KAI: 14 Orang Meninggal Dunia Akibat Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:53 WIB

Dasco Pastikan Korban Argo Bromo Vs KRL Dirawat Maksimal, Ini Daftar Nama yang Meninggal dan Luka

Dasco Pastikan Korban Argo Bromo Vs KRL Dirawat Maksimal, Ini Daftar Nama yang Meninggal dan Luka

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:50 WIB

MTI Desak Reformasi Total Keselamatan Kereta Usai Tragedi Bekasi Timur

MTI Desak Reformasi Total Keselamatan Kereta Usai Tragedi Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:45 WIB

Singapura soal Selat Hormuz: Melintas Itu Hak, Bukan Hak Istimewa karena Membayar!

Singapura soal Selat Hormuz: Melintas Itu Hak, Bukan Hak Istimewa karena Membayar!

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:43 WIB

Teror Bom Tewaskan 20 Orang, Kolombia Buka Sayembara Rp23 Miliar untuk Cari Sosok Ini

Teror Bom Tewaskan 20 Orang, Kolombia Buka Sayembara Rp23 Miliar untuk Cari Sosok Ini

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:33 WIB

Gibran Tekankan Keamanan Pangan MBG: Sisa Makanan Dilarang Masuk Dapur

Gibran Tekankan Keamanan Pangan MBG: Sisa Makanan Dilarang Masuk Dapur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:31 WIB

Turis Jerman Tewas Dipatok Ular Kobra saat Pertunjukan Satwa Liar di Hotel Mewah Mesir

Turis Jerman Tewas Dipatok Ular Kobra saat Pertunjukan Satwa Liar di Hotel Mewah Mesir

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:22 WIB