IPK Indonesia Anjlok ke Skor 34, Hasto PDIP: Penegak Hukum Jangan Jadi Alat Kekuasaan

Bangun Santoso | Bagaskara Isdiansyah | Suara.com

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:09 WIB
IPK Indonesia Anjlok ke Skor 34, Hasto PDIP: Penegak Hukum Jangan Jadi Alat Kekuasaan
Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto saat ditemui wartawan di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Senin (29/12/2025). (Suara.com/Bagaskara Isdiansyah)
  • Sekjen PDIP Hasto prihatin IPK Indonesia 2025 turun tiga poin ke skor 34, menempati peringkat 109 dari 182 negara.
  • Hasto menegaskan pencegahan korupsi efektif memerlukan keteladanan aparat penegak hukum dan tertib hukum yang berlaku.
  • PDIP merespons dengan evaluasi internal dan menyusun kurikulum pencegahan korupsi melibatkan mantan pejabat KPK.

Suara.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyatakan keprihatinan mendalam atas merosotnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia tahun 2025.

Berdasarkan rilis Transparency International Indonesia (TII), skor IPK Indonesia turun tiga poin dari 37 menjadi 34, yang menempatkan Indonesia di peringkat 109 dari 182 negara.

Hasto menilai penurunan ini merupakan sinyal bahwa sistem pencegahan korupsi di Indonesia tidak berjalan dengan efektif.

Ia menekankan bahwa kunci utama pencegahan korupsi seharusnya dimulai dari keteladanan aparat penegak hukum dan ketertiban hukum itu sendiri.

“Ya, kritik itu penting bagi kekuasaan, termasuk bagi partai politik. Kami sangat prihatin terhadap menurunnya indeks transparansi, kemudian juga pencegahan korupsi kita tidak berjalan dengan baik. Konstruksi pencegahan korupsi itu kan seharusnya dimulai dari tertib hukum, tetapi juga keteladanan dari aparat penegak hukum. Hal yang paling sangat dilarang untuk dilakukan pelanggaran adalah aparat penegak hukum itu sendiri karena mereka oleh undang-undang mendapatkan kedudukan yang istimewa,” ujar Hasto di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).

Lebih lanjut, Hasto menyoroti fenomena keterlibatan oknum penegak hukum dalam ranah politik praktis.

Ia memperingatkan bahwa penggunaan institusi hukum sebagai instrumen kekuasaan akan merusak pilar demokrasi dan menciptakan ketidakadilan.

“Kita kan tahu fenomena di dalam proses-proses politik, penegak hukum seringkali dilibatkan menjadi alat-alat kekuasaan. Ini yang tidak boleh terjadi. Karena pilar kemajuan suatu negara itu adalah pada bagaimana mekanisme demokrasi berjalan yang efektif, rakyat berkuasa, ada transparansi, tapi yang sangat penting itu adalah hukum betul-betul yang berkeadilan,” tegasnya.

Hasto juga menjelaskan dampak domino dari hukum yang tidak berkeadilan terhadap perekonomian bangsa.

Menurutnya, lemahnya penegakan hukum mengakibatkan membengkaknya biaya di berbagai sektor, mulai dari politik hingga kebutuhan pokok rakyat.

“Ketika hukum tidak berkeadilan, ini menciptakan resiko akibatnya semuanya menjadi biaya mahal. Pemilu biaya mahal, investasi biaya mahal, kemudian distribusi logistik itu menjadi mahal, distribusi pangan menjadi mahal,” lanjut Hasto.

Sebagai langkah konkret merespons penurunan indeks tersebut, Hasto mengungkapkan bahwa PDIP tengah melakukan evaluasi internal dan memperkuat sistem pencegahan korupsi di dalam partai.

Salah satunya adalah dengan menyusun kurikulum khusus yang melibatkan pakar dari mantan pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ini yang kita tidak inginkan. Maka, apa yang disampaikan di dalam penurunan indeks pencegahan korupsi kita, transparansi kita, ini menjadi evaluasi menyeluruh, termasuk bagi partai politik. Maka kami sekarang merancang suatu kurikulum pencegahan korupsi. Kami melibatkan termasuk mantan pejabat di KPK yang kami jadikan sebagai narasumber. Di mana partai juga harus terdepan di dalam upaya-upaya pencegahan korupsi tersebut,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ICW Bongkar Pengaruh Pemerintah Prabowo-Gibran ke Merosotnya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

ICW Bongkar Pengaruh Pemerintah Prabowo-Gibran ke Merosotnya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

News | Rabu, 11 Februari 2026 | 09:59 WIB

PDIP Kritik Tajam Persoalan PBI BPJS, Minta Segera Reaktivasi dan Ada Data Terintegerasi

PDIP Kritik Tajam Persoalan PBI BPJS, Minta Segera Reaktivasi dan Ada Data Terintegerasi

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 06:00 WIB

Megawati Soekarnoputri: Negara Wajib Hadir untuk Menjaga Martabat Perempuan dan Anak

Megawati Soekarnoputri: Negara Wajib Hadir untuk Menjaga Martabat Perempuan dan Anak

News | Senin, 09 Februari 2026 | 17:00 WIB

Megawati Soekarnoputri Akui Bangga dan Pikul Tanggung Jawab usai Raih Gelar Doktor Kehormatan

Megawati Soekarnoputri Akui Bangga dan Pikul Tanggung Jawab usai Raih Gelar Doktor Kehormatan

News | Senin, 09 Februari 2026 | 15:10 WIB

Ferdinand: Polri Tetap di Bawah Presiden, Jangan Kerdilkan Institusi

Ferdinand: Polri Tetap di Bawah Presiden, Jangan Kerdilkan Institusi

Video | Senin, 09 Februari 2026 | 15:00 WIB

Megawati Terima Doktor Kehormatan di Riyadh, Soroti Peran Perempuan dalam Kepemimpinan Negara

Megawati Terima Doktor Kehormatan di Riyadh, Soroti Peran Perempuan dalam Kepemimpinan Negara

News | Minggu, 08 Februari 2026 | 20:45 WIB

Soroti Kematian Bocah SD di NTT, Hasto PDIP: Bangunlah Jiwanya, Tapi Anak Tak Bisa Beli Pena

Soroti Kematian Bocah SD di NTT, Hasto PDIP: Bangunlah Jiwanya, Tapi Anak Tak Bisa Beli Pena

News | Sabtu, 07 Februari 2026 | 21:10 WIB

Terkini

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:30 WIB

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:33 WIB

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:29 WIB

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:23 WIB

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:10 WIB

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:49 WIB

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:43 WIB

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:40 WIB

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:05 WIB

Mahfud MD Kenang Juwono Sudarsono: Dari Pengganti di Era Gus Dur hingga Ilmuwan Besar

Mahfud MD Kenang Juwono Sudarsono: Dari Pengganti di Era Gus Dur hingga Ilmuwan Besar

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:00 WIB